Tampilkan postingan dengan label Al-Azhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Azhar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Januari 2020

Serba-Serbi Wisuda



Sebagai mahasiswa yang jarang upload foto saat belajar --seringnya sih posting screenshot cuitan orang di Twitter-- berfoto & publish suasana wisuda adalah momen yang ditunggu. Setidaknya jadi bukti kalau selama di sini nggak cuma jalan-jalan dan sosmed-an. Lagian mana bisa juga lulus kalo nggak belajar sama sekali (walau suka langganan ngebut di injury time). Ntah deh kalo di Azhar ada yang bisa nyogok kelulusan? Haha keknya nggak ada, nggak pernah denger sama sekali. Paling yang masyhur di sini adalah "nyogok" Yang-di-Atas dengan tawasulan, ziarah makam Waliyullah, juga perbanyak shalawat dan minta didoakan --lewat status sosmed atau japrian broadcast hmm~

Hal lucu pernah terjadi. Saat aku baru pulang dari ibadah haji dua tahun lalu, salah satu teman sempat bertanya apa beneran aku selama sebulan terakhir nggak kelihatan karna pergi ke Mekkah. Sempat bingung sebentar buat mencerna pertanyaannya. Ternyata dia hanya meragukan, soalnya selama sebulan pergi haji dulu aku nggak pernah buat status atau update foto suasana haji. Owalah. Bener-bener "Aku bersosmed maka aku ada". Padahal waktu haji sering sih dokumentasiin kegiatan, cuma lebih ke disimpen pribadi aja. Buat kenangan.

Balik lagi soal wisuda. 
3 Oktober 2019 lalu aku ikut wisuda yang diadain oleh PPMI Mesir. Sempet ragu buat ikut karna --kayak yang aku ceritain di post sebelumnya-- waktu itu masih punya 2 maddah yang butuh remedi. Sedangkan pas tanggal wisuda udah ditentukan, nilai remedial kami belum juga keluar. Yang aku pikirin adalah, kalo aku daftar terus nanti nggak lulus, rasanya bakal males banget setahun ke depan bakal ditanyain rangorang "Belum lulus kok dah wisuda ya". Sedangkan kalo aku nggak daftar wisuda tahun ini dan ternyata lulus, yakali kan sayang banget nggak punya foto kelulusan. 

Akhirnya daftar, dan hal yang dikhawatirkan beneran terjadi. Di hari H pulang wisuda saja teman-teman junior udah sibuk nanya "Abis ini kakak lanjut S2 mana", "Ada rencana pulang alatul belum nih" dll. yang cuma bisa aku jawab "Hehe. Belum tau nih. Masih perlu istikharah dulu" dsbg. Tapi ya sebenernya itu pertanyaan yang wajar, karna mereka juga nggak perlu dan untuk apa juga tau kalo aku belum bener-bener lulus dan masih nyisain dua matkul. Yang diketahui awam kan dengan seseorang-ikut-wisuda berarti ya dianggap sudah lulus, gitu. Dan semenjak hari itu hingga turun nilai aku merasa  sedang membohongi dunia. Bahkan nyeseknya ada teman yang tau aku wisuda dan juga tau masih nyisa dua, terang-terangan ngomong "Halah daftar wisuda, padahal belum lulus juga". Haha sungguh ringan sekali pernyataan tersebut keluar.
Syukurnya ini cuma soal penundaan informasi saja. Aku lulus dan tidak jadi melewati satu tahun ke depan dengan omongan berdengung ala netizen.

Ini dari tadi curhat nggak jelas. Padahal rencana yang mau ditulis bukan soal ini.
Lupakan. Aslinya yang mau diceritain tuh serba-serbi saat proses wisudanya. 


Tempat kita wisuda namanya al-Azhar Conference Center (ACC). Ruangannya luas dan megah. Di sepanjang bagian kursi yang tengah diisi dengan para wisudawan dan kanan-kirinya tempat duduk audience umum. Kita disusun perbaris kursi sesuai dengan taqdir nilai ujian. Yups sesuai yang kalian duga, sebagai mahasiswa yang belum punya nilai saat itu aku dapat kursi 2 baris belakang. Sungguh sangat tidak strategis, karena sudah di belakang, di barisan itupun aku dapat kursi yang di tengah. Fix berada di posisi yang sudah pasti akan sulit dapat angle foto bagus dari tim dokumentasi. Dan terbukti aku nggak punya foto yang pas dalam ruangan itu selain saat maju ke panggung menerima sertifikat. Kesimpulan: kalau mau dapat foto bagus saat wisuda, usahakan tidak manqulain di tingkat 4 kuliah.


Hari itu hari yang lumayan panjang. Dimulai sejak jam 7 pagi yang sudah harus berada di tempat untuk gladi, sampai pasca acara harus "berserah diri" untuk diajak foto sana-sini. Setidaknya dengan teman-teman Kemass Mesir yang punya tradisi setiap tahun harus banget foto bareng di Monumen Anwar Sadat. Beruntung sore itu di sana sudah bisa dipakai untuk berfoto, padahal pagi harinya Monumen Anwar Sadat masih dipakai untuk peringatan "Sittah Oktober" dan dihadiri presiden Mesir. Kami foto-foto di sana dari asar sampai tiba azan maghrib lalu pulang. Entah berapa banyak pose yang diabadikan.


Hal lain dari wisuda, yang bisa dimasukkan dalam kategori "lumayan bikin insecure" itu adalah, bakal ada atau tidaknya teman yang ngasih bunga/hadiah. Toxic-nya, ini sudah menjadi stigma buruk masyarakat (baca: Masisir). Aku sendiri pernah denger langsung ujaran-ujaran yang --menjurus kompetisi-- nggak penting, seperti: banyak-banyakan dapet hadiah. Jadi nggak perlu heran saat ada wisudawan/ti yang sebelum hari H sudah sibuk "promo" atau ngode ke teman dan adik-adik kelasnya buat dateng --dan pastinya beserta hadiah lah, heyy. Lalu di hari H, antar wisudawan/ti yang akhirnya memang dapat banyak hadiah, sibuk maksain untuk nentengin semua hadiah tersebut selama berfoto. Sungguh merepotkan kalo itu cuma buat ajang pamer dan disombongin.

Ini abis nulis ini bakal dibilang julid nggak ya. Bodo lah tapi.

Soalnya gara-gara kebiasaan itu, menjelang wisuda kemarin aku mau nggak mau jadi kepikiran juga. Sebagai lelaki yang nggak populer dan suka mager, jangan kan ngarep buat dapet banyak, bisa jadi malah nggak ada yang bawain. Sebuah kekhawatiran yang nggak berfaedah. Padahal coba kalo nggak ada tradisi gini, yang wisuda nggak perlu insecure, temen yang dateng juga nggak perlu merasa terintimidasi kalo sayang duit  lupa beliin hadiah.

Oh iya, wisuda ini walau yang ngadain temen-temen mahasiswa Indonesia, tapi acaranya dibuka untuk umum. Jadi mahasiswa luar kayak temen Malaysia, Thailand, Nigeria, Afghanistan dll juga boleh gabung, walau cuma beberapa --asal bayar. 

Tapi kalaupun nggak sempet ikut yang ini, dari al-Azhar nanti pun juga bikin acara serupa. Aku ikut dua-duanya. Karna walau sama-sama acara wisuda, ada hal lain yang bikin tertarik untuk ikut dua kali.
Pertama, peserta wisuda yang Azhar ini lebih variatif dari berbagai negara. Nggak cuma didominasi mahasiswa Indonesia doang. Jadi suasana "wisuda luar negeri"nya lebih kerasa.
Dua, seragamnya. Kalo wisuda PPMI tuh kita pakai jubah putih dilapisin kakula hitam khas al-Azhar plus selempang hijau, medali dan peci yang Azhar banget (seperti foto di atas tadi). Lebih gagah sih emang keliatannya, kayak bener-bener dicitrakan sebagai seorang calon duta Azhar (Karna emang seragam itu termasuk starterpack masyayikh kibar yang sering dipakai untuk acara-acara besar). 
Nah di wisuda yang Azhar ini kita pakai pakaian wisuda yang sesuai kayak umumnya: jubah kebesaran dan toga. Toganya itu sih yang bikin serasa wisuda banget. Dari dulu selalu pengen punya foto loncat sambil lempar toga ke atas. Haha. Kalo peci Azhar yang dilempar kan nggak sopan. Dan akhirnya keinginan absurd itu kesampaian juga kemarin.


Pendaftaran wisuda Azhar ini udah dibuka sejak sebulanan lalu. Syaratnya mudah, cuma fotokopi paspor depan dan ijazah sementara. Menjadi lebih menarik karna nggak dipungut biaya sepeserpun. Karna semua udah ditanggung penyelenggara, jiwa yang menggebu saat mendengar kata gratis pun jadi nggak perlu pikir panjang buat langsung daftar. Berkas daftar kemarin nitip pula ke temen yang tinggal di asrama Buuts, kawasan di mana kantor Azhar Parliament berada. Effortless parah.

30 Desember 2019 kemarin acara diselenggarain. Pukul setengah 9 paginya aku berangkat ke ACC make bis lagi-lagi gratis dari Buuts. Katanya acara dimulai jam 9, tapi udah ketebak pasti bakal molor karna banyak kursi peserta yang masih kosong dan tamu undangan di kursi depan belum datang. Sekitar pukul 11 akhirnya berlangsung juga hingga menjelang asar.
Sebagai seorang lulusan berpredikat mahasiswa biasa, aku dapat nomor urut kursi 158. Cuma entah kenapa nomor urut 110 ke atas tempatnya di kursi bagian tengah depan, dan urutan 1-100 malah ada di sebelah kanan terus ke belakang. Beruntungnya lagi, karna barisan depan masih saja kosong saat acara sudah hendak dimulai, kami pun disuruh maju. Hingga akhirnya aku berada di posisi barisan nomor 2 terdepan dan tepat sekali di bagian tengah, selurus dengan panggung. Sebuah posisi yang kalau di wisuda PPMI kemarin akan diisi dengan mahasiswa-mahasiswa bernilai mumtaz. Tentu enaknya posisi ini adalah dapat melihat panggung lebih jelas dan kemungkinan masuk foto sangat besar. Sempet ngomong ke temen samping "Kek gini ternyata rasanya jadi mahasiswa mumtaz."
Allah memang mengerti hambanya ya~ seolah keluhan wisuda yang lalu dibalasNya sekarang. 

Selesai pembagian sertifikat - foto bareng khirrijin di panggung dan sisa acara selanjutnya tinggal untuk para mutafawwiqin, rasanya keperluan di dalem udah abis. Jadi aku milih udahan ngikut acara dan bareng temen yang lain keluar untuk zuhuran.

Acara wisuda versi parlemen Azhar ini nggak terlalu rame dihadirin junior. Selain publikasinya yang nggak semasif wisuda PPMI, juga karna pelaksanaannya di tahun ini yang molor sampai akhir tahun, mepet masa ujian termin satu. Kalau aku di posisi mereka juga pasti males dateng sih. Mending di kamar buat persiapan imtihan yang tinggal beberapa hari. Teman angkatan yang ikut wisuda pertama pun hanya beberapa saja yang ikut lagi wisuda ini, beberapa bahkan sudah pulang ke Indonesia. Tapi sisi lainnya jadi nggak rempong untuk foto bareng sana-sini, cukup puas berpose di depan gedung acara. Walau sayang sekali nggak bisa lama-lama, karna jubah dan toga --pinjeman panitia-- udah disuruh balikin. Hah. Beginilah kalo gratisan~.

________________
maddah : pelajaran
pulang 'alatul : nggak tinggal sini lagi
taqdir : bentuk nilai
manqulain : sisa 2 pelajaran
Sittah Uktuber :  6 Oktober, Peringatan kemenangan perang terhadap Israel pada tahun '73
masyayikh kibar : Syekh-syekh besar
mumtaz : cumlaude
khirrijin : alumnus
mutafawwiqin : yang berprestasi
imtihan: ujian


Kamis, 05 Desember 2019

Wisuda, Lalu Apa


Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2019 jadi hari yang rasanya... campur aduk. Momen wisuda yang harusnya disambut suka-cita dan rasa syukur tapi kalo boleh jujur nggak sepenuhnya aku nikmatin. Saat itu sebenarnya aku belum dikatakan telah lulus. Karna nilai remedial ujian tingkat akhir belum keluar hingga sebulan ke depan. Tapi berhubung panitia penyelenggara wisuda ini adalah PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) sendiri, enaknya masih dibolehkan ikut.

Banyak temen yang hadir ngeramein, ataupun temen-temen di Indonesia juga ngucapin selamat dll, tapi hari itu masih terasa hambar. Pikiranku berkecamuk. "Nih kalo beneran lulus, gimana deh". Pikiran yang masih terngiang sampe sekarang.

Cerita mundur sedikit, jauh hari sebelum ujian remedial dilaksanain aku udah gamang duluan. Dari dua pelajaran yang harus diuji ulang, apa yang harus dilakuin? Nanti kalo lulus dua-duanya berarti jalan panjang nan berkelok akan terbentang. Hal-hal yang pernah kutulis di tulisan sebelumnya (di sini) akan terjadi. Persoalan nikah, lanjut S2, kerja dll akan menghantui. Sedangkan kalo nggak lulus, tentu aku masih dapat waktu lenggang satu tahun lagi untuk bersiap-siap, kan? Keknya yang ini bakal lebih enak.

Lalu yang mana?
H-2 ujian remedial masih belum buka buku. Saat itu yang mantap kupilih adalah mungkin belum lulus lebih dulu bakal lebih baik (baca: lebih santai?). Banyak alasan-alasan yang kubangun: Biar bisa lebih lama di Mesir lah, trus karna setahun ke depan cuma bawa 2 matkul bakal banyak waktu untuk talaqqi, kursus ini-itu dll lah.
H-1, kepikiran lagi. Mungkin bakal malu-maluin kalo pas jawab ujian isi kertasnya kosong karna nggak belajar sama sekali. Jadilah coba kuulang-ulang sedikit, dengan buka bookmarks ujian sebelumnya.
Berapa jam menjelang masuk ruang ujian, kembali tersentak oleh "apa yang aku lakuin ini bener ya. Apa nanti akan disesali?"

Di luar perkiraan, ternyata sebagian soal yang keluar tepat di halaman yang sempat dibaca. Bentuk soalnya pun bisa dikatakan serupa. Ruangan ujian mendadak jadi lebih dingin. Apa ini pertanda?
Jadi gimana, isi sesuai yang dipelajari atau tetap abaikan aja?

Singkat cerita, 17 November cek nilai: Lulus.
Sebuah plot twist yang kubuat sendiri.
Hal kilat yang kusadari saat di ruangan itu adalah, diri yang terlalu takut melihat masa depan lalu mencari alasan-alasan pendukung agar tak perlu bersusah dulu sekarang. Padahal rasa takut itu akan selalu ada  di benak dan rintangan masa depan pun tetap menunggu untuk dilalui, sedangkan yang kurencanakan saat itu hanya menundanya terjadi. 
Tak ada yang berubah kalo aku sendiri pun nggak beranikan diri ngambil sikap untuk memilih maju, mau hadapi kenyataan dan berlapang dada buat nerima kemungkinan-kemungkinan lain nantinya.

Dan.. begini lah aku sekarang. Menghitung bulan atau minggu, bersiap untuk melompat ke fase lain kehidupan. Entah lanjut S2 di sini atau di mana, entah pulang lalu apa, atau menikah dengan siapa?
Belum tahu pastinya. Tapi yang kutahu penting adalah, menyiapkan diri untuk itu semua, karna apapun tentu bisa saja terjadi, ya kan.

Terakhir, mungkin sedikit kata lagi bagi teman pembaca yang saat ini belum lulus sarjana, biar seenggaknya tulisan ini ada menyisakan tanda tanya yang baik. 
Satu tahun terakhir kuliah itu memang sering jadi drama tersendiri di otak. Tapi jangan seperti aku yang hingga detik terakhir pun masih bingung mau ngapain. Kalian bisa susun planning A, B dan C  dari sekarang, buat skala prioritas kerjaan, lalu persiapkan diri. Bukan lagi cuma jalani hari kek biasa seperti tahun-tahun sebelumnya dan kemudian saat lulus baru sibuk "abis wisuda, lalu apa?"

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Kemarin


Kairo, 25 Mei 2017.

Masa-masa ujian emang nggak mudah. Otak diajak pusing 7 keliling (udah kayak thawaf). Mana bawaan musim panas bikin suasana tambah ruwet. Tapi aku coba jalanin itu semua. Karna ujian emang harus dihadepin kan. Kalau dihindari terus, nggak bakal ada penyelesaian malah penyesalan yang ada.

Jadi ceritanya, kemaren siang (24/5) jam 1 aku ada jadwal ujian Fiqih Perbandingan. Karena persiapan belum mantep bener, paginya sekitar jam 10 aku milih buat belajar di Masjid Azhar biar lebih fokus. Karena niatnya bakal belajar sampe zuhur terus abisnya langsung berangkat ke kuliah dan nggak pake pulang lagi, jadi seluruh peralatan ujian udah aku bawa termasuk pakaian juga udah rapi.

Pagi itu masjid rame banget. Rata-rata lagi belajar. Selebihnya ada yang ikut ngaji di shaf depan dan beberapa sekedar lepas penat. Aku milih duduk di shaf bagian belakang. Sekitar setengah jam setelah itu, entah kenapa aku ngerasa ada yang ganjil. Aku liat ke belakang dan bener ada kejadian. Sepatuku hilang.

Aku coba nggak berburuk-sangka dulu. Aku perhatiin lagi sepatu-sepatu yang ada di rak. Karena sepatuku warna putih jadi buat ngenalinnya enak. Tapi, setelah bolak-balik dicek nggak ada. Bener-bener hilang. Langsung bawaannya tambah pusing. Persiapan ujian belum selesai malah ada masalah lain.

Kebetulan ada temen orang Indonesia juga di sampingku, aku pinjem sepatunya buat liat ke luar masjid. Kali aja orang yang ngambilnya keluar dan belum pergi terlalu jauh. Tapi nihil. Aku bahkan sempet curiga sama kakek-kakek yang di deket aku tadi. Dia bawa tas kantong gede warna ijo dan lagi pengen keluar masjid. 

Aku sopan nanyain dan coba ngecek isi kantongnya. Dia keluarin, isinya cuma baju. Mukanya udah nggak ngenakin banget. Ya wajar sih kalo dituduh sembarangan emang gitu. Terus dia bilang "Ana musy haroomi yaa walaa'. Dah 'aib. 'Aib." Aku langsung minta maaf dan langsung nyerah aja. Lebih milih buat lanjut belajar karena waktunya udah mepet. Argh, padahal itu sepatu kesayangan banget. Sekali-kali doang pakenya. Kalo aja sepatu satunya nggak rusak, aku nggak bakal pake yang ini.

Tapi yah, kalo rezeki nggak bakal kemana. Kalo bener nggak ketemu lagi, ya udah mungkin ada rezeki lain. Dan ini pengalaman pertamaku kehilangan barang di tempat umum selama 3 tahun di Mesir. Dan masih bisa dibilang alhamdulillah cuma hilang sepatu. Banyak temen-temen yang lain hilang barang jauh lebih berharga dari itu.

Karena rumahku nggak terlalu jauh dari Masjid, aku balik ke rumah dan ngambil sandal. Terus lanjut belajar lagi di Masjid.

Siangnya aku pun ujian. Dan naasnya, soal-soal yang keluar di luar perkiraan semua. Terutama soal pertama yang bentuk soalnya anti-mainstream banget buat al-Azhar. Mungkin ini pertama kalinya ada bentuk soal gitu. Biasanya bentuk soal di sini tuh selalu pertanyaan essai. Tapi yang kali ini beda. Kita di suruh nyocokin uslub-uslub Fiqih Muqaran yang dipelajarin dalam bentuk Side A & Side B. Total ada 25 anak soal di soal yang pertama dari 3 soal yang ada. Dan ini beneran ngebuat bingung.

Tapi yang lucunya, kan di Azhar kalo lagi ulangan boleh sambil minum teh --malah ditawarin. Si penjual tehnya hari ini semangat banget nawarin. "Hayo hayo siapa yang mau teh, hayo siapa yang mau. Ketemu selanjutnya kalian nggak bakal bisa pesen lagi loo~" kira-kira gitu. Aku sempet bingung kok nggak bisa lagi pesen. Lah iya baru inget. Hari ahad pas ujian selanjutnya kan udah masuk Ramadhan. Puasa. Hah. Bisa aja mamang teh.

Setelah hampir 2 jam di dalem ruangan, dan udah mentok nggak tau mau jawab apalagi, akhirnya aku keluar dan balik. Perut laper banget karena belum sempet sarapan tadi. Ah, bad day.

Pas sampe rumah, buka hp, ngeliat ada pesan di grup WA komunitas fans MU Indonesia di Mesir (United Army Cairo). Oh iya. Malem ini ada laga final Europe League, MU vs Ajax. Admin grup udah ngasih info dari kemaren-kemaren kalo bakal ada nobar bareng temen-temen fans MU Mesir di Sittah Oktober.

Wah, langsung deh siap-siap. Refresh dulu abis ujian. Ujian selanjutnya juga masih 4 hari lagi. Kita kumpul jam 6 di Ramsis. Karena yang berangkat dari Darrasah cuma aku sendiri, aku pun maksa 1 temen buat ikutan. Embel-embelnya semua ongkos aku yang tanggung dan kalo MU juara bakal aku traktir makan. Hah.

Jam 6 di Ramsis, tepat depan Masjid al-Fath, udah banyak yang make jersey MU. Rata-rata make jersey home yang merah. Sampe sana disuruh nulis nama buat ngatur kursi mobil. Dan singkatnya, kami pun berangkat ke Sittah Oktober. Ngabisin sekitar 1 jam perjalanan.

Untungnya karena dateng agak awalan, kursi kafe tempat nobar belum terlalu penuh dan kami dapet posisi yang strategis buat duduk. Shalat maghrib dulu dan jam 8.45 laga dimulai. Sempet ngobrol-ngobrol dikit, ternyata yang dateng buat nonton di sini bukan orang-orang Kairo doang. Yang luar provinsi juga dateng. Kayak orang-orang di depanku yang dateng dari Alexandria, katanya mereka berangkat dari jam 12 siang tadi. Yang di belakangku dateng dari Luxor. Bujubuset. Jauh banget itu. Ujung Mesir. Mungkin kayak orang Palembang terus pergi ke Jakarta cuma buat nonton. Salut banget.

Ismuh Khaled min Iskanadriyyah
Yang bikin seru, orang Alex depanku ini yang jadi provokator teriak-teriak malem ini. Hah. Riuh.

Alhamdulillah, abis menit 90+4' MU menang 2-0. Juara! Champiooooons! Semua orang berdiri, yang di depan ngidupin api flare dan kembang api sambil neriakin ole-ole dan yel-yel ala MU. Glory-glory Man United. Gitu terus sampe bagi medali, ngangkat piala dan akhirnya layar dimatiin. Bubar.

Sebelum pulang, pas tau kalo ada yang jual baju komunitas aku langsung beli. Lumayan buat seru-seruan dan kenang-kenangan selama di sini. Abis beli, langsung dipake sampe rumah. Trus dibungkus lagi. Haha. Selama perjalanan balik di mobil niatnya mau tidur. Tapi pupus karena diajak ngobrol sepanjang jalan sama orang-orang Mesir. Nggak berhenti-berhenti pula ngomongya. Ada aja yang dibecandain. Khas Mesir banget susah diem.

Karena pas nyampe di Darrasah udah jam 12 lewat, janji buat nraktir makan temenku yang dipaksa ikut tadi harus ditunda besok. Dan tulisan ini selesai diketik nggak lama setelah menunaikan janji itu di rumah makan Indonesia tepat di bawah rumahku. Fiuh.

Begitulah cerita kemarin.


Minggu, 06 Maret 2016

Menimba Ilmu Dari Markaz Tahfidz Balita

Pemandangan di luar mahattah Sakiet Mekky
Jum’at, 4 Maret 2016-

Yuhu. Gimana kabarnya temen-temen? Sehat yaa sehat yaa. Kalian tau, asiknya Kairo belakangan ini tuh kalo kita keluar rumah, udah nggak mesti make jaket tebel lagi. Dalam artian… yups, musim dingin bisa dibilang udah berakhir. 

Yah, tapi belum bisa dibilang udah masuk musim panas juga sih. Soalnya walau kadang cuaca kerasa panas, tapi angin dinginnya juga kenceng. Jadi kalo keluar rumah tetep make jaket tapi pakenya yang tipisan, antisipasi aja. Kali kan pas udah sorean ampe malemnya cuaca balik dingin lagi. Singkatnya tuh, musim pancaroba lah. Haha. Ribet amat bilangnya dari tadi ya.

Dan… alhamdulillah hari ini cuacanya juga cerah kayak kemaren-kemaren. Pas banget buat keluar rumah.

Agendaku hari ini adalah ikut kegiatannya Sahah Indonesia.

Hm.. jelasin singkat dulu kali ya tentang Sahah ini. Sahah itu kalo diartiin bisa dibilang kayak ‘aula’, atau ‘flat’ gitu. Nah kenapa bisa bernama Sahah Indonesia itu karena ceritanya, mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) diberi kepercayaan oleh beberapa masyayikh Azhar untuk mengelola sebuah flat yang berada di belakang masjid Azhar, untuk kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan kajian keilmuan dan keagamaan Masisir. Jadi flat ini dijadiin tempat belajar agama tambahan selain dari Azhar untuk Masisir. Yah, begitulah singkatnya.

Nah, para asatidz Sahah ternyata punya kegiatan outdoor juga. Kita pun diajak untuk silaturrahim dan menimba ilmu ke suatu tempat di daerah yang bernama ‘Umroniyya.

Tempat yang akan kami kunjungi ini adalah sebuah markaz tahfidz yang bukan markaz tahfidz qur’an biasa. Markaz ini adalah sebuah ma’had yang melahirkan para huffadz, penghafal al-Qur’an sejak masih kecil banget. Yaitu anak-anak kecil usia 3-6 tahun. Wiih… sakti banget kan?

Oke, kita mulai diary ceritaku tentang kunjungan kali ini.

Sekitar pukul 10 pagi aku bareng beberapa temen dari Rumah Syariah udah siap-siap mau berangkat. Tujuan pertama kami adalah daerah Ramsis. Ntar para mahasiswa lain yang mau ikutan bakal start berangkat bareng dari sana dengan asatidz Sahah.

Pukul 11 siang, kami pun turun ke bawah tanah. Yups, untuk perjalanan kali ini kami bakal naik kereta bawah tanah atau kalo di sini masyhurnya disebut metro. Perkiraan sampe di tempat tujuan adalah setengah jam. Terus ntar jalan kaki ke lokasi 15 menitan.

Nah ini rute metronya. Start dari yang di lingkaran biru sampe yang di lingkarin merah.
Kami stop di stasiun yang bernama Sakiet Mekky. Melewati stasiun Giza tempat bangunan Piramid berada.



Alhamdulillah perjalanan lancar nggak pake macet. Ya kali bro kereta pake macet. Haha.

Udah sampe di stasiun yang dituju, kami pun lanjut jalan ke lokasi. Hm.. lokasinya emang nggak terlalu jauh sih dari stasiun. Iya, nggak jauh.

Saat belum sampe bener ke lokasi, ternyata azan Jum’at berkumandang. Kami ke Masjid dulu. Nama masjidnya Masjid el-Umroniyya. Sama ama nama tempatnya.

Yah, karena bagian dalemnya udah penuh, aku pun ikutan saf jamaah di teras depan masjid. Jadi nggak keliatan siapa yang khutbah.

Abis jum’atan, ternyata kami nggak langsung lanjut jalan. Kata ustadznya ikutan dengerin ceramah di dalem masjid dulu.

Ditelisik sebentar, ternyata yang ceramahnya sama dengan yang khutbah tadi. Akhirnya keliatan juga wajahnya. Perawakannya khas orang mesir. Plus beliau make peci merah putih Azhar. Ceramahnya seru. Intonasinya main banget, ditambah tangannya yang selalu mengisyaratkan apa yang disampein. Orang mesir banget. Sayang ada beberapa kalimat beliau yang aku nggak faham. Eh, banyak sih. Haha. Beliau ceramahnya make bahasa ’amiyah mesir soalnya. Cepet pula. Tapi singkatnya, aku lumayan banyak nangkep kata-kata hikmah dari tausiyah beliau. Salah satunya yang dulu pernah kudenger pas di pondok yaitu, al-‘ilmu yu’taa wa laa ya’tii. Atau bisa diartiin, ilmu itu didatengin bukan dianya yang dateng.

Nah, abis puas dengerin siraman rohani dari beliau, kami pun lanjut ke lokasi markaznya.
Lokasinya ternyata di selewatan jalan kami ke masjid tadi. Yaelah.

Dan kami pun sampai. Lokasinya ternyata ada di lantai sutuh, paling atas sebuah gedung. Gedungnya sederhana banget. Punya 6 lantai. Cukuplah ngelatih otot kaki sebentar.

Lumayan banyak yang nyambut, dan ramah-ramah. Nggak lama abis kami masuk, seorang syekh masuk juga bareng anak kecil. Lah, ternyata syekh yang ceramah tadi yang kami kunjungi sekarang. Nama beliau adalah Syekh Dr. Ibrahim Amiin. Nggak pake lama juga kami akhirnya nyusun barisan duduk mengitari beliau.

Abis bincang santai sebentar, acaranya dimulai. Pertama-tama dibuka dengan shalawatan dan nasyid-nasyid memuji Rasulullah SAW dulu. Munsyid pertama dari Masisir namanya Kholiq. Terus lanjut ke munsyid dari Mesir, kalo nggak salah namanya Bashim. Terus lanjut lagi ke munsyid dari Masisir namanya Falih. Wiih, suara mereka bagus banget. Apalagi nama yang terakhir. IMO.

Sebentar setelah itu, kami disuguhkan makanan. Alhamdulillah. Haha. Syukur banget ternyata ada makan beratnya juga. Soalnya tadi pagi aku cuma makan tho’miyah 2 biji. Ckck.

Makanan yang disuguhkan juga lumayan. Daging bro. Plus ada dan lain-lainnya yang aku nggak tau namanya apa. Haha.

Baru abis itu acara lanjut lagi, syekhnya bicara. Aku bakal nerjemahin semampuku. Maaf banget kalo ada yang salah artian.

Di mukadimah beliau mulai dengan memuji Allah SWT dan shalawat, kemudian berdoa semoga dilimpahkan keberkahan untuk al-Azhar, Indonesia, dan Malaysia –ada beberapa mahasiswa Malaysia yang juga ikutan. Beliau juga berdoa semoga kita ditanamkan rasa cinta kepada al-Azhar dan Islam dan semoga bertambahnya generasi-generasi pejuang islam dari yang hadir. Aamiin yaa Rabb. Dan banyak lagi doa-doa lainnya.


Beliau juga tawadhu’ dengan bilang “isma’ minnaa wa laa tasma’ ‘annaa” atau secara pemahamannya sama dengan “unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala”. Bisa diartiin dengan “Dengar/lihatlah dari apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan”.

Kemudian beliau lanjut dengan menceritakan sirah para sahabat, juga menyampaikan pentingnya tarbiyatun nafs, membangun rumah tangga yang baik dan membina serta mendidik anak. Enaknya penyampaian beliau itu, beliau nggak lupa untuk menyisipkan hal-hal yang membuat para hadirin tertawa. Dan ekspresi beliau benar-benar hidup.

Nah lanjut, dalam berbagai penyampaian beliau tentang tarbiyah tadi, beliau menekankan lagi pada tarbiyah al-Qur’an dalam rumah tangga.

Beliau juga menyampaikan tentang awal dulu saat beliau berkeinginan membangun markaz ini berawal dari melihat anak-anak kecil sekarang yang hanya disibukkan dengan komputer, berbagai kartun, dll. Beliau ingin di waktu keemasan seorang anak ini diisi dengan menghafal al-Qur’an. Hingga akhirnya beliau mendirikan markaz untuk anak-anak menghafal Qur’an ini. Dan benar saja, sesuatu yang awalnya diragukan dan tidak dipercayai ini, benar-benar berhasil menciptakan anak-anak kecil berumur 3-6 tahun sudah khatam al-Qur’an. Subhanallah.

Dalam kesehariannya, anak-anak ini dididik dengan dibuatnya nizham atau aturan sehingga mereka bisa disiplin dalam waktu.

Oke, langsung masuk nih ke hal inti yang orang-orang ingin ketahui.

Mereka dibangunkan setiap harinya pada pukul 4 pagi untuk menghafal, dan pukul 3 siang baru boleh pulang ke rumah. Atau singkatnya waktu mereka dibagi dua, setengah hari untuk al-Qur’an, setengah harinya lagi untuk keluarga.

Atau lebih rincinya lagi beliau menyampaikan, mereka mulai menghafal dari pukul 4 pagi sampai pukul 8 pagi -selama 4 jam (Halaqah pertama). Kemudian mereka diberi istirahat selama setengah jam untuk makan, minum, dll, kemudian lanjut lagi dari pukul 8 setengah hingga 12 setengah siang hari (Halaqah Kedua). Kemudian istirahat lagi sebentar, dan lanjut belajar ilmu hadhanah (Nggak mudeng belajar apa ini. Hehe. Tapi kayaknya ini pelajaran tambahan kayak belajar huruf, angka, dll gitu). Nah belajar ini selama sekitar 2 jam atau 2 jam setengah.

Banyak orang yang nggak percaya dengan sistem ini, tapi masyaallah ternyata bisa. Malah beliau bilang, anak-anak itu yang kadang ngebangunin pengasuhnya dari ketiduran pas waktu mereka menghafal pagi. Haha.

Abis dari penyampaian singkat dari beliau, beliau ingin selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dari para hadirin, agar lebih tersampaikan apa yang ingin diketahui dari para hadirin tersebut.

Pertanyaan pertama: Apakah ada perbedaan antara cara menghafal anak-anak dengan cara menghafalnya orang dewasa.

Jawaban beliau:
Anak-anak biasanya menghafal dengan metode talqin, atau mereka dibacakan ayat oleh pembimbing –karena mereka belum diajari membaca dan menulis sehingga tidak bisa dengan metode selain itu. Dan cara menalqinkan mereka juga tidak langsung se-ayat panjang, namun sedikit-sedikit dulu hingga sempurna hafal satu ayat, kemudian diulang-ulang.

Juga, mereka mulai menghafalnya dari juz 30 terlebih dahulu. Dan itu juga dimulai dari surat paling akhir. Yaitu dari surat an-Naas dan lanjut hingga an-Naba’. Setelah juz 30 juga gitu, lanjut ke juz 29, kemudian juz 28, dan seterusnya begitu hingga tamam seluruh al-Qur’an.

Adapun untuk selain anak-anak, tentu tidak terbatas dengan metode talqin itu saja.

Pertanyaan kedua: Penanya minta dikenalin sama anak kecil yang duduk di samping syekh.

Nah, anak kecil ini, yang dari awal masuk tadi di samping syekh, namanya Muhammad –aku nggak tau nama panjangnya siapa. Heh. Anaknya masih kecil banget. Mungkin kisaran umur 3-4 tahun.
Anaknya kayak malu gitu. Haha. Kalo ngomong kecil banget suaranya.

Jadi syekhnya ambil inisiatif dengan menguji hafalannya. Beliau tes secara acak dari juz-juz 20an. Dan masyaallah. Hafalannya lancar. Kagum banget. Abis tuh dipuji-puji tambah malu dia. Haha.

Pertanyaan ketiga: Bagaimana membuat anak-anak bisa mengetahui atau mengatasi ayat-ayat mutasyabih (ayat-ayat yang punya kemiripan dengan ayat-ayat lain dalam al-Qur’an)

Jawaban beliau: 
Yaitu dengan ditatsbitkan. Atau maksudnya membuat anak itu bisa menetapkan posisi-posisi ayat-ayat mutasyabih tersebut. Misal, anak tersebut tertukar dengan ayat lain yang mirip, nanti pembimbing akan mengingatkan kalo ayat yang itu posisinya bukan di surat yang ini, tapi dia di surat yang itu. Dan anak itu coba mengingat kesalahannya. Kemudian kalo tertukar lagi, diingatkan lagi, begitu berulang-ulang sampai anak itu tahu posisi ayat-ayat mutasyabih itu dimana saja. Begitupun sama dengan sering tertukarnya huruf seperti ‘waw’ menjadi ‘fa’, karna anak-anak hanya diajari menghafal saja bukan pamahaman ayat, maka mereka akan terus diingatkan dan nanti seiring bertambahnya umur mereka, mereka memahaminya sendiri dan tidak lagi tertukar.

Pertanyaan keempat: Berapa lama waktu yang dibutuhkan Muhammad dalam menghafal 1 juz al-Qur’an

Jawaban beliau: 
Biasanya Muhammad dan anak-anak lain dalam sehari menghafal setengah sampai satu halaman. Satu halaman lah. Dan seiring berjalannya hari, mereka yang sudah terbiasa dan tambah banyak waktu menghafalnya, dalam sehari mereka bisa menghafal hingga satu halaman setengah. Jadi bisa dikatakan mereka menyelesaikan satu juz (satu juz=20 halaman) selama 20 hingga 25 hari. Dan pada prakteknya, jika anak-anak itu merasa sudah capek atau ketiduran, mereka diajak bermain sebentar sekitar 5 menitan, namun bermainnya tetap ada unsur menghafalnya.

Pertanyaan kelima: (Ini pertanyaannya cuma minta kejelasan lagi dari syekh tentang apa yang disampaikan syekh tadi, dianya masih kurang jelas. Jadi cuma pengulangan penyampaian yang di atas)

Pertanyaan selanjutnya (orang yang sama): Berapa anak yang sudah menyelesaikan al-qur’an dari markaz ini (Dia nanya make kata khirrijiy, atau bisa diartiin lulusan gitu. Kalau lulus dari sana kan bisa diartiin juga dengan dianya udah hafidz Qur’an)

Jawaban beliau: Ratusan.

Ditanya lagi: Nggak ribuan?

Jawaban beliau: 
Nggak kalo ribuan. Soalnya berita tentang markaz ini tidak begitu tersebar luas dengan baik. Dan masih banyak juga yang meragukan tentang anak kecil umuran balita udah hafal Qur’an. Atau ragu anaknya bisa setiap hari bangun dan mulai menghafal dari 4 pagi, dll. Dan juga beliau minta orang tuanya mendukung anaknya agar datang menghafalnya tidak bolong-bolong, sehingga tidak susah dan juga tidak mengganggu pikiran teman-temannya karena hal itu.

Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana dengan anak-anak yang bukan dari arab, atau bukan anak-anak yang sehari-harinya terbiasa dengan bahasa arab bisa mengikuti atau menghafal sejak balita. Kan kalo anak-anak dari arab mungkin tidak sesusah anak-anak yang bukan dari arab sehingga mereka mampu untuk menghafal sejak balita. Sedangkan yang bukan dari arab mungkin agak susah.

Jawaban beliau: 
Tidak juga. Mungkin memang ada pengaruhnya. Tapi apa kamu ngelihat di sekitarmu di sini semua hafal qur’an hanya karena mereka terbiasa mendengar perkataan arab? Bahkan ada juga profesor arab yang tidak hafal Qur’an. Apa kamu juga nggak bicara dalam bahasa arab? Ya, jadi itu tidak terlalu berpengaruh pada hakikatnya. Tapi jika kau punya waktu untuk menghafal, maka kamu bisa hafal. Tidak penting kamu kecil atau besar.

Kemudian lanjut beberapa pertanyaan ringan tentang Qur’an dll. Karna udah capek nulisnya, haha, pertanyaan selanjutnya ini nggak aku tulis ya. Soalnya juga nggak bahas tentang menghafal lagi.
Setelah udah nggak ada yang nanya-nanya lagi, berhubung azan ashar sudah berkumandang, kami pun shalat ashar berjamaah.

Kemudian abis shalat ada ngobrol-ngobrol bentar, nasyid-nasyid lagi dikit, abis tuh foto bareng, kemudian pulang.

Bersama Syekh Dr. Ibrahim Amiin
Yah, akhirnya selesai sudah ngambil ilmu dari tempat ini. Semoga lah nanti bisa menerapkan ilmu-ilmu yang di dapat ini untuk ngebangun keluarga Qur’an nanti. Cieee omongannya udah nyampe bina keluarga. Haha. Ya nggak papa lah kali ya. Kali aja dikabulin. Aamiin.

Tapi tentunya sebelum berfikiran untuk membangun keluarga Qur’an seperti itu, kitanya juga udah harus mulai dari diri sendiri dong untuk deket dengan al-Qur’an. Nah, kalo udah, cari pasangan yang juga bisa berjuang bareng untuk ngebangun keluarga Qur’an. Eaa. Hahaha.

Ya udah, itu aja sharing ceritaku kali ini. Beberapa perkataan syekh tadi ada yang kurang atau nggak aku sampein di tulisan ini –ilmu terjemah ‘amiyah aku nih yang belum kesampaian. Haha. Dan juga ada beberapa perkataan yang aku tambahin biar bisa lebih dimengerti, tapi insyaallah nggak ngerubah maksud dari apa yang syekh sampein, insyaallah.

Dan kami pun pulang, balik lagi ke Kairo naik metro. Perjalanannya sama kayak pas pergi tadi.

Oke deh, itu dulu ya. Semoga bermanfaat, dan sampai ketemu lagi di ceritaku selanjutnya. Jangan bosen. Haha.

Senin, 23 November 2015

80 Coret, Bis Yang Melegenda & Selalu Ditunggu-Tunggu

Penampakan bis 80/ yang terparkir cantik di mahattah Darasa
Judul tulisan ini -di atas- nggak perlu diragukan lagi kebenarannya. Haha. Emang bener kok.

Sebelumnya, yuk kenalan dulu sama bis bernomor 80/ (baca: delapan puluh coret) ini bagi yang belum sempet taarufan.

Bis ini umumnya berwarna merah. Tapi ada juga beberapa yang warnanya hijau. Kalo di Indonesia biasanya kan lebih sering ngenalin transportasi umum kayak angkot dan bis dari warnanya aja, di sini biasanya lebih ngenalin selain warna juga sama nomornya. 

Kalo berdasarkan warna, ada 3 warna bis yang masyhur. Yaitu merah (bis besar yang ukurannya kira-kira sama kayak bis trans di Indonesia), biru (yang ini ada 2 tipe. Satu yang besarnya sama dengan bis merah tadi, ada juga yang kecil) terus hijau (2 tipe juga tapi rata-rata lebih banyak yang kecil).

Kalo berdasarkan nomor, wah nggak usah ditanya. Banyak banget. Satu jurusan aja punya banyak nomor --dan aku banyakan nggak hafalnya ketimbang hafal.

Rute bis 80/ ini dimulai dari daerah Zahra >> Asyir (Mutsallas, Gami', Bawwabat) >> Tamin >> Awal Sabi' >> Sadis (Kuliah Azhar Putri, sebagian fakultas putra yang lain, juga Markaz Lughah) >> >>  Madinah Bu'uts (asramanya mahasiswa Azhar non-Mesir) >> Darasa (Kuliah Azhar putra dan lokasi Masjid al-Azhar).

Sekarang, mari masuk ke pertanyaan "Kenapa cuma bis merah 80 coret yang sering dibilang melegenda?"

Hmm.. yang pastinya karena bis ini menyimpan banyak kenangan. Yups!

Dari dulu, bis merah 80/ ini beroperasinya dari mahattah di Zahra' hingga Darasa. Nah, dari Zahra sampe Darasa ini, banyak mahasiswa yang tinggal di antara keduanya terutama masisir --sebutan untuk mahasiswa Indonesia di Mesir. Karena hal inilah, awal mula keterikatan masisir dengan bis 80/ ini. Swit swit. Uhuk.

Mahasiswa-mahasiswa yang pengen kuliah di setiap harinya, pasti nungguin bis ini. Ya walaupun ada juga bis-bis lain yang jurusannya ke Darasa juga. Ada bis merah 65, ada juga bis kuning-merah 65 dan 1058 tujuan Sayyidah Aisyah yang ngelewatin Darasa. Tapi di antara semua itu bis 80/ yang paling sering lewat dan lebih hemat di kantong. Karna bis kuning-merah ongkosnya 2 Le., 2 kali lipat lebih mahal dari 80/. Dan juga karena dari dulu 80/ sudah ada untuk masisir sebelum datangnya nomor-nomor baru yang satu jurusan.

Karena seringnya berjumpa dengan 80/ ini, akhirnya banyak juga cerita yang terjadi antara 'ia' dan masisir. Ceilee..

Pertama, kejar-kejaran.
Yup, kita biasanya nungguin bis ini dari pinggir jalan. 80/ memang munculnya lumayan lebih sering ketimbang bis lain yang satu jurusan. Namun.. sebenernya jarang juga, sampe terkadang bis ini munculnya tiba-tiba, pas kitanya lagi lengah. Lengahnya itu karena kita sering di PHPin dengan bis-bis merah yang fisiknya sama tapi ternyata berbeda nomor dan beda jurusan.

Nah, di saat lengah itulah tiba-tiba 80/ muncul dan ngelewatin kita, sampe terpaksa adanya adegan kejar-kejaran lebih dulu (yang ngejar juga bukan 1 orang). Fiuuh~
Juga karena bis ini kalo berhenti jarang banget tepat di depan kita berdiri nunggu. Walau kita udah melambai-lambaikan dari kejauhan sebelum dia dateng tetep aja berhentinya agak jauhan dan kadang juga nggak bener-bener berhenti namun jalan pelan.

Kedua, Desak-desakan
Wah, nggak usah ditanya soal ini. Ribuan mahasiswa yang kuliah di Azhar, berangkat dan pulang juga di waktu yang bersamaan dengan jumlah bis yang sedikit. Jadilah kita yang naik itu sempit-sempitan. Mending kalo dapet tempat duduk. Beruntung banget malah.
Saat dapet pun, kalo ada orang yang udah tua dan cewek berdiri deket kita duduk, sebagai cowok yang masih berjiwa muda harus dong ngalah.

Nah karena seringnya kejadian ini terjadi, hingga akhirnya muncullah beberapa trik sederhana, dan menjadi rahasia umum. Yes.

Pertama, kalo kita berangkat dari Asyir dan nggak dapet tempat duduk, berdirilah deket orang mesir yang kayak mau ke kuliah --dikira-kira aja. Perawakannya bujang misalnya. Biasanya, nanti mereka cuma sampe di Sadis (Tempat kuliah yang rata-rata jurusannya umum). Kita bisa nempatin kursi mereka abis itu untuk ke Darasa.

Kedua, berdiri deket ibu-ibu. Hmm.. kalo yang ini nggak selalu tepat sih. Tapi terkadang juga berlaku. Biasanya ibu-ibu ini nggak terlalu jauh perjalanannya --maksudnya nggak lama-lama banget mereka di dalem bisnya. Atau biasanya ibu-ibu ini stop di Nadi Sikkah atawa Dweiah. Ya ini lebih mending, ketimbang berdiri di bagian terlalu depan dekat supir yang susah buat bersaing dapet tempat duduk.

Ketiga, kalo berangkatnya dari Darasa sehabis kuliah, berdirinya deket mahasiswa-mahasiswa non-Mesir kayak Rusia, Afrika dll. Biasanya mereka cuma naik sampe asrama di Bu'uts aja.

Keempat, kalo masuknya saat bis sepi penumpang, ambillah kursi paling belakang. Kursi belakang ini berbentuk kursi panjang yang biasanya muat hingga 5-6 orang, beda sendiri dengan kursi bis di bagian depan yang terbagi menjadi dua, yaitu 2 kursi berdempetan di sebelah kanan dan 1 kursi sebelah kiri.
Dan memang biasanya kursi belakang ini ditempati oleh cowok aja. Nanti kan selama perjalanan bis biasanya bakalan nambah penuh. Saat hal ini terjadi, kamu nggak perlu repot-repot berdiri kalo kamu ngelihat ada ibu-ibu atau mahasiswi yang nggak kebagian kursi berdiri di depan kamu. Karna kiri-kananmu penuh dengan cowok, walaupun kamu nawarin mereka untuk duduk, mereka bakal nolak.

Udah itu aja sih untuk saat ini. Sebenernya ada lagi kayak kalo sore berangkat dari Darasa mau ke Asyir ambil kursi sebelah kiri aja soalnya kalo sebelah kanan bakal kena sinar matahari dan itu ngangguin ke-pewe-an duduk kamu di perjalanan. Gitupun sebaliknya. Kalo dari Asyir berarti duduk di kursi sebelah kanan. Pagi sebaliknya lagi.

Ya udah, sekian dulu tulisan kali ini. Kalo ada tambahan atau temen-temen punya cerita yang lain sampein aja di kolom komen, key.

Semoga bermanfaat.

________________ _  _
mahattah: terminal

Senin, 01 Juni 2015

Ujian Selesaiii















Ahad, 31 Mei 2015 -

Dimana-mana dan siapapun orangnya, kalo sehabis melewati suatu ujian pasti merasa lega.
Nah, tak terkecuali aku. Lega banget rasanya setelah tadi siang menghabiskan madah ujian terakhir termin dua ini.

Ujian lisan dimulai dari tanggal 11 kemarin, terus ada jeda 6 hari untuk bersiap menjalani ujian tulis.
Kemudian lanjut ke ujian tulis yang menghabiskan waktu sekitar 2 minggu (tanggal 17-31). Alhamdulillah semuanya sudah dilalui.

Jauh sebelum ujian-ujian dimulai pun, otak sudah tegang mikirinnya. Dimulai dari sibuk membaca sambil memahami kitab-kitab muqorror ujian, kemudian mentalkhisnya dan kemudian dihafal.

Sedikit ingin ngebandingin antara fakultas Syari'ah dengan Ushuluddin, kitab-kitabnya fakultas Syari'ah itu lebih tebal dibanding Ushuluddin, tapi juga fakultas Ushuluddin punya madah yang lebih banyak dibanding dengan Syari'ah. Hm.. ya kurang lebih ada enak-nggak enaknya masing-masing lah. Heh.

Nah, karna perbedaan itulah, nggak enaknya bagi Syari'ah, ada begitu banyak pembahasan yang harus difahami dalam satu kitab yang buat otak njlimet-njlimet --nggak tau ini bahasa dari mana.
Tapi enaknya, ya karna madah kami lebih sedikit jadinya ujian kami pun selesai lebih awal. Hehe. Ada perbedaan seminggu antara kami dengan mereka dalam masa-masa imtihan.

Nah, di ujian termin dua ini juga ada nizhom atau peraturan baru yang sudah ditetapkan untuk mahasiswa Azhar terutama anak-anak Syari'ah.

Biasanya, dari tahun-tahun sebelumnya, jadwal ujian untuk mahasiswa Syari'ah itu antara satu madah dengan madah yang lain berjarak 2-3 hari --karna kitab-kitabnya yang tebal itu. Tapi untuk sekarang semua fakultas diberlakukan hal yang sama. Jadi jarak dalam jadwal mata ujian hanya sehari-sehari. Waw.
Satu lagi, waktu mengerjakan ujiannya pun dikurangi dari 3 jam ke 2 jam saja.

Dan khusus untuk yang tingkat 1, yang termin 1 kemarin ujiannya dimulai pukul setengah dua siang, di termin dua ini mulainya pukul 3 sore.

Bagiku sendiri sih ini pilihan yang menguntungkan. Karna sekarang ini Mesir lagi musim panas, bro.
Nggak bisa dibayangin berangkat ke kampus pukul 12 siang --jarak dari rumahku ke Azhar kurang-lebih 1 jam.

Nah, bicara soal musim panas, walau aku berangkat ujiannya sekitar pukul setengah dua siang yang bukan di pukul 12 tepat, terik matahari tetap saja menyengat tajam. Dan yang sedikit disayangkan dari musim panas ini yaitu angin yang menerpa pun juga ikut-ikutan panas.
Dan penderitaan belum selesai jika ditambahkan dengan harus menaiki bis ke kampus yang biasanya selalu ramai, selama satu jam.
Ditambah lagi kalo nggak dapet tempat duduk. Fiuhh~
Ya begitulah ujian disini. Double ujiannya.

Perbandingan lagi antara fakultas Ushuluddin dengan Syari'ah, untuk ujian mereka mulainya pagi hari sedangkan Syari'ah siang harinya.
Ini juga masing-masing ada enak-nggak enaknya.
Bagi Ushuluddin yang ujiannya pagi, ini menguntungkan mereka ketika musim panas.
Dan bagi Syari'ah yang ujiannya siang, ini menguntungkan mereka ketika musim dingin.
Hm.. adil lah.

Selama menjalani hari-hari ujian termin dua ini, bagiku hari-hari selalu panas. Dan terkadang aku juga mengalami seluruh penderitaan yang sudah aku tuliskan diatas tadi.
Tapi cuaca sedikit berbeda di dua ujian terakhirku. Cuacanya sedang saja bahkan bisa dibilang sejuk.
Alhamdulillah.
Padahal sebelumnya aku sempat cemas ketika sehari sebelum ujianku yang nomor 2 terakhir ini cuaca Kairo sedang buruk-buruknya. Panas hari itu awalnya diperkirakan sampai 45 derajat celcius! tapi sedikit meleset yaitu 43/44 derajat celcius. Kairo benar-benar panas.

Berdasarkan itu, aku berfikir bahwa besoknya saat aku ujian nanti cuaca Kairo bakal lebih buruk lagi.
Tapi alhamdulillah jauh dari perkiraan. Kairo cuacanya cerah dan sejuk.

Hm.. ya beginilah cerita suka-duka ujianku kali ini.

Lalu, bagaimana hasil ujiannya?
Nah, mohon doanya saja ya teman-teman sekalian semoga aku dan kawan seperjuangan yang lain mendapatkan hasil yang memuaskan.
Karna menurut cerita kakak-kakak senior, banyak mahasiswa yang sudah merasa yakin dengan jawabannya ternyata malah rasib atau gagal di mata ujian itu. Dan ada juga yang sebaliknya merasa akan gagal ternyata najah atau lulus dan naik ke tingkat selanjutnya.

Oleh karna itu nasihat mereka, jangan sombong-sombong dulu setelah melewati ujian. Tetap tawakkal dan terus berdoa semoga diberi nilai yang terbaik.

Jadi, doakan kami ya teman-teman. :)

______________ _ _
madah: pelajaran
muqorror: diktat kuliah
talkhis: ringkasan

Selasa, 12 Mei 2015

Curhat Ujian Lisan Pertama Di Al-Azhar

Komplek Universitas Al-Azhar beserta masjid
Senin, 11 Mei 2015 -

Huahh, nggak terasa kami sudah ujian lagi. Rasanya baru minggu kemarin selesai ujian tengah tahunnya.
Tapi 'ala kulli hal, alhamdulillah aku masih diberi kesempatan berada di Bumi Kinanah ini dan bisa mengikuti ujian.

Hari ini aku ada jadwal ujian lisan. Tapi tidak semua mahasiswa Azhar yang mengikuti ujian hari ini. Kami memiliki jadwal ujian masing-masing sesuai fakultas dan tingkat kelasnya.

Aku sekarang duduk di tingkat 1 fakultas Syari'ah Islamiyah.
Yup, hari ini salah satu yang ujian yaitu mahasiswa Syari'ah tingkat 1.

Aku termasuk yang datang lebih awal di kampus. Jam 10an. Karna beberapa hari kemarin aku dapet info di grup FB yang bilang kalo ujian lisannya dimajukan sebelum zhuhur. Tapi ternyata ujiannya dimulai setelah zhuhur. Sedikit kesel sebenernya. Kenapa juga aku langsung percaya. Karna memang di jadwal resmi yang ditempel, ujian akan dilaksanakan jam 12 setelah zhuhur.

Lumayan lama aku menunggu di depan gedung fakultas --bahkan sampai menguap beberapa kali. Semalam aku kurang tidur untuk nyiapin ujian hari ini.
Ya agar tidak hanya sekedar menunggu aku pun memilih untuk muraja'ah Qur'an saja. Al-Qur'an salah satu madah yang akan diujikan hari ini. Untuk tingkat 1 seperti aku yaitu hafalan Al-Qur'an juz 1.

Nah, untuk batas pengujian Al-Qur'an, ada sedikit perbedaan yang diterapkan oleh pihak Azhar yaitu, untuk mahasiswa seperti aku yang bukan mahasiswa pribumi Mesir --mahasiswa-mahasiswa non-Arab-- kami diharuskan menghafal hanya 1 juz disetiap tingkatnya dimulai dari awal Al-Qur'an dan seterusnya. Jadi, tingkat 1 menghafal  juz 1, tingkat 2 menghafal  juz 2 dan begitu seterusnya sampai tingkat akhir.

Berbeda dengan mahasiswa asli dari Mesir, mereka lebih banyak dari kami. Mereka diharuskan menghafal 7 setengah juz untuk setiap tingkatnya. Jadi 4 tahun di S1 Azhar ketika lulus, mereka selain mendapat gelar Lc., mereka juga mendapat gelar Al-Hafidz. Tapi, walau diharuskan hafal 30 juz agar lulus dari Azhar, mahasiswa Mesir ini tetap saja banyak. Salut untuk mereka yang sanggup untuk itu.

Nah, beda lagi dengan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari negara-negara Arab yang non-Mesir seperti Saudi, Yaman, Libia, dll., mereka diharuskan menghafal Al-Qur'an 3,5 juz untuk setiap tingkatnya.

Ya perbedaan ini dibuat karena memang pihak Azhar melihat kemampuan masing-masing mahasiswa itu juga.
Pintu masuk gedung fakultas Syari'ah
Azan zhuhur berkumandang. Pintu gedung tempat ujian kami sudah dibuka. Sebelum masuk aku memastikan dulu dimana ruang ujianku. Sip. Ruang ujianku berada di lantai 3 ruang 9. Aku pun mengambil wudhu' dulu dan sholat di musholla yang ada di lantai 2. Selesai sholat aku segera naik ke lokasi ujian.

Beberapa ruangan lain sudah mulai ujian. Ruanganku? sedikit ada masalah yang akhirnya kami harus mondar-mandir dulu dan menunggu.

Itu tidak terlalu lama, beberapa teman kelasku kemudian sudah banyak yang masuk dan akhirnya selesai diuji.
Sistem ujian lisan disini simpel sekali, yaitu siapa yang sudah siap silakan masuk untuk menghadap duktur penguji. Masuknya berdua dengan mahasiswa lain. Tapi tidak selalu juga sih. Ada juga yang bertiga. Lebih tepatnya terserah yang menguji.

Aku memilih tidak langsung masuk tapi membaca ulang lagi madah-madah yang akan diujikan.
Adapun madah yang akan diuji untuk kami yaitu selain Al-Qur'an juga ada madah Fiqih, Ushul Fiqih dan Fiqih Muqoron atau Fiqih perbandingan.

Tanpa sadar, orang-orang mulai sedikit. Kami yang di akhir-akhir inipun sudah dipanggil-panggil oleh penguji. Bismillah, aku pun masuk ke ruang ujian.

Di ruang ujian kami itu ada 3 duktur penguji. Aku kebagian yang dibarisan belakang. Berdua dengan temanku.

Madah pertama yang diuji ke kami yaitu Al-Qur'an. Temanku yang diminta pertama untuk menyambung ayat yang dibaca duktur kemudian aku disuruh melanjutkan darinya dan kemudian dibalik, aku yang duluan dan dia yang disuruh menyambung selesainya aku. Kemudian baru di suruh menyambung satu-satu.
Setelah itu, masuk ke pertanyaan tentang ta'rif-ta'rif madah Fiqih dan Ushul Fiqih dan juga pertanyaan dari Fiqih Muqoron.

Dan ujian pun selesai alhamdulillah. Lega banget rasanya. Jujur saja, aku ini termasuk orang yang sangat gugup untuk hari-hari pertama ujian. Ini sudah kebiasaan dari pondok dulu. Jadi setiap selesai ujian itu terasa sangat beda sekali. Sangat-sangat lega. Apalagi kalo lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Hm.. adapun untuk cerita bagaimana jawaban-jawabanku di ujian lisan tadi, doakan saja ya semoga aku mendapatkan nilai yang terbaik. Aamiiin yaa Rabb... :D

Oke, itu saja yang ingin aku ceritakan disini. Sampai bertemu dengan cerita-ceritaku selanjutnya ya.

 
biz.