Rabu, 19 Agustus 2026 | 6 Rabiulawal 1448H -
Sebulan terakhir, sumur di belakang kamar mandi masjid yang sering dimanfaatkan untuk jamaah masjid dan harian santri berulang kali bermasalah. Mulai dari alat pengisian otomatisnya, kabel mesin airnya yang hangus karena kemasukan air hujan, kabelnya yang putus lalu korsleting karena tidak sengaja ikut terpotong saat membersihkan semak belukar di sekitarnya, dll. Lalu dalam sepekan ini masalah lanjutannya adalah akibat cuaca kemarau, kekeringan.
Meski ini sudah diprediksi sejak jauh hari melalui berita nasional dan internasional yang mengabarkan terkait fenomena iklim "El Nino". Dari kombinasi antara El Nino dengan kemarau ini membuat hujan semakin jarang dan kekeringan pun menjadi lebih parah dibanding musim kemarau biasa.
Pal 100, lokasi pesantren, yang biasanya meski kemarau tetap cenderung dingin --apalagi malam dan shubuh, tapi kali ini kapanpun terasa gerah. Subhanallah.
Masalah kekeringan sumur belakang kamar mandi masjid berefek pada santri yang jadi repot mencari air demi memenuhi kebutuhan hariannya (khususnya hajat). Sehingga beberapa kali saat kondisi ini terjadi, santri diarahkan mengambil air ke sumur rumah kami dengan menyambung selang yang sangat panjang. Berhubung selang hanya satu, penyaluran dan pemindahan airnya terasa lama. Jadi perlu diakali lagi --mau tidak mau-- dengan estafet ember yang berat.
Alhamdulillah yang sedikit melegakan, sungai di samping pesantren masih mengalir dan sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan tukang dalam bekerja dan urusan kebersihan lainnya. Meski berlimpah, tapi santri tidak nyaman memakainya untuk mandi dan bebersihan pribadi.
Karena itu, dua hari lalu kami berikhtiar menggali sumur tadi jadi lebih dalam. Saya dan 3 santri --yang tidak berpengalaman dengan urusan sumur-- pun berjibaku selama 2 jam dan hanya berhasil menambah kedalaman setengah meter. Hah. Tentu saja jumlah airnya belum banyak bertambah. Jadi akhirnya hari ini memutuskan untuk libur belajar dulu untuk lanjut memperlebar diameter sumur dan mendalaminya lagi.
Menggali sumur tidak semudah yang dikira. Mulai dari alat: yaitu gagang cangkul yang dimodifikasi menjadi lebih pendek, dodos, ganco belencong (jika menemukan batu), ember anti pecah, besi penarik/tali. Tanah yg digali pun cenderung benyek, berat, dan lengket. Pun dikejar waktu. Jika terlalu lambat/santai, maka mata airnya keburu menggenangi dasar sumur lagi dan itu menyulitkan karena jadi perlu menguras ulang.
Pekerjaan galian hari ini dikerjakan kami bertiga (1 santri sedang sakit), dan pekerjaan dicukupkan sekitar mendekati pukul 11 siang karena kedua santri yang membantu kakinya terluka kena cangkul. Meski hanya luka ringan dan tidak parah, tapi menurut saya lebih baik luka kecilnya segera ditutup agar tidak infeksi kuman dll. dari kotornya tanah atau air galian sumur. Kali ini dalam 3 jam berhasil melebarkan dinding sumur dan menambah kedalaman 1 meter. Lumayanlah bagi amatiran.
Setelah memberi betadine dan hansaplast, santri diarahkan untuk bebersih (di sungai) lalu istirahat qoylulah. Dan saya pun lanjut ke kegiatan lainnya, bakar sate!
Alhamdulillah karena hari ini memasuki nikmat usia 17 30 tahun. Jadi memang sudah direncanakan oleh umi & istri untuk membuat syukuran kecil-kecilan, makan siang dengan menu yang lebih istimewa dibanding hari biasa. Umi selalu jadi andalan dengan kelihaiannya dalam membuat beragam menu yang enak, istri yang juga sigap dalam menyiapkan berbagai bahan, ibu yang bertindak sebagai sponsor utama, dan saya yang siap menghabiskan semua hidangannya. Haha.
Menyadari ketidakmampuan saya dalam bidang ini, satu-satunya yang bisa saya kerjakan menjelang makan siang adalah membakar sate sebagai salah satu menu utamanya. Tanpa perlu mengganti baju yang penuh lumpur selepas menggali sumur tadi --biarlah mencucinya sekalian kotor bersamaan dengan melekatnya aroma asap sate setelah ini, 65 tusuk sate ayam pun tuntas dibakar.
Lanjut mandi lalu bersiap zhuhur.
Ba'da zhuhur pun mengajak semua orang yang ada di pesantren untuk makan bersama depan rumah. Musyrif, para santri, dan tukang. Alhamdulillah.
Ba'da ashar, mesin air dipasang lagi dengan menyambung pipa baru untuk menyesuaikan kedalaman sumur agar bisa menjangkau bagian dasar. Seusai itu air sumurnya dikuras dahulu untuk menghabisi bagian yang keruh. Mungkin besok baru bisa mengisi tangki tedmond airnya. Biarlah malam ini air sumur memperbarui diri (lucu juga pemilihan kata ini).
Karena sumur belum bisa dimanfaatkan, mandi sore ini pun santri menyambung selang lagi sebagaimana sebelumnya saat air mereka bermasalah.
Ba'da maghrib, terkait kesulitan air ini saya sampaikan ke yayasan dan mengusulkan untuk menambah 1 sumur lagi. Mungkin bisa cari titik penggalian di antara rumah umi dan gedung yang saat ini sedang dibangun. Syukurlah yayasan mengiyakan. Jika ada rezekinya maka insyaallah pekan depan akan lanjut menggali sumur lagi. Tapi kali ini lebih baik kami tidak mengandalkan santri tapi harus mencari penggali sumur profesional agar lebih cepat, rapi, dan tuntas. Semoga urusannya lancar dan masalah air di musim kemarau ini pun bisa diatasi. Allah yusahhil, aamiin.
#JurnalPengasuhPesantren
0 komentar:
Posting Komentar