Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2020

'Alatul



Hari ini tepat dua bulan lalu meninggalkan Negeri Seribu Menara yang juga bisa kutulis sebagai negeri seribu kenangan: Mesir. Enam tahun di sana tentu bukan waktu yang sedikit. Banyak hal yang sudah dilakukan, teman-teman baru yang sudah seperti keluarga, keberhasilan melewati hal-hal luar biasa --di luar dugaan kadang-- dan momen-momen memorable di hampir setiap sudut ibu kotanya.

Walau mestinya kutulis ini di awal-awal kepulangan kemarin saat memorinya masih segar terekam. Tapi yaa better late than never, kan. Sayang kalo tentang ini nggak dituangkan di blog.

Awal 2020 dimulai dengan sesak. Membayangkan lepas dari lingkungan tempat aku tumbuh dewasa dan sudah terbiasa di sana --sungguh berat. Sebulan terakhir menjelang 'alatul  (istilah di Mesir bagi orang yang pulang dan tidak berniat kembali lagi) aku mulai lebih fokus memerhatikan jalan-jalan yang biasa kulalui beserta suasana yang ada. Gang sempit komplek Darrasah, luasnya Masjid Azhar, ramainya kendaraan selama jalan ke Hay Asyir, dinginnya bulan Januari, serunya nobar MU di kafe bawah rumah dan nyamannya tidur pagi selama musim dingin. Haha. 
Sembari itu yang selalu kupikirkan hanya "kapan lagi aku bisa menikmati hal ini". Karna bukan sebuah pertanyaan, jadi aku merasa tak perlu berlarut mencari jawabannya. Cuma doa saja yang aku panjatkan dengan lirih di saat take off pesawat Egypt Air menuju Saudi, "semoga di lain waktu punya rezeki ke negeri kinahah ini lagi".

Lalu hari Rabu, 12 Februari itu pun tiba.
Malam terakhir gagal kupakai untuk istirahat karena diluar perkiraan butuh waktu sampai subuh untuk menyelesaikan packing barang. Tapi keuntungannya aku bisa subuhan berjamaah di Masjid Azhar. Setelah shalat, di jalan pulang jadi sedikit sibuk merenung, entah berapa banyak waktu yang sudah kusia-siakan, lebih sering bersantai di rumah daripada talaqqi di ruwaq-ruwaq masjid ini.
Sebuah kesadaran yang mungkin tak bermakna lagi. 


Paginya aku pamit dengan teman-teman rumah karna harus ke Rumah Limas dulu (nama sekretariat kawan-kawan Sum-Sel) karna nanti berangkat bareng ke bandara Kairo dari sana. Yang paling berat ditinggalkan dari rumah adalah Simpus, kucing kampung yang sudah jadi anggota rumah sejak bulan puasa tahun lalu. Walau dia sering ngeselin karna suka sok-nggak-kenal kalo dipanggil saat sudah kenyang, tapi momen dia sering berdiam cari kehangatan ke atas kasurku sulit sekali dihilangkan. Jadi sebelum keluar, aku sempatkan dulu ambil foto dengannya dan dia entah ngapain  jadi ikut-ikutan nganter sampai depan pintu dengan memasang raut muka sedikit sedih. Hmm yaa mungkin dia merasa kehilangan. Kehilangan orang yang biasa beliin dia wiskas --tentunya.

Sekitar pukul dua siang aku dan teman-teman yang mau ikut nganter, berangkat dari Limas menuju bandara.

Walau sebulan terakhir jadi sedikit melow, tapi hari itu aku memutuskan sudah nggak mau terbawa suasana, aku ingin pulang dengan rasa bahagia. Tapi keinginan ini sedikit berat memang. Beberapa kawan nakal yang gelisah kenapa momen balik ini nggak ada rasa-rasa sedihnya, mulai menghasut dengan menyampaikan narasi-narasi sedih. Aku yang sudah tau trik basi ini --karna sebelumnya sering juga nganter senior/teman yang pulang-- nggak mau tergoda.

Sampai selesai foto-foto bareng di luar bandara aku masih nggak bergeming dan aku yakin nggak bakal ada dari kawan-kawan jahil ini yang merasa puas karna misi bikin-orang-nangisnya berhasil.
Tapi bahkan dengan keyakinan yang kuat sejak awal pagi hari itu pun, berujung ambyar juga di momen terakhir saat berpelukan sebelum masuk untuk check-in. Sungguh padahal aku sudah tahan-tahan sekuat tenaga, namun akhirnya mau nggak mau mengikuti hati dan menyadari "ternyata begini ya rasanya alatul". 
Dulu aku menganggap ini --secara kasar-- hanya sebuah formalitas pamitan dan edisi sedih-sedihan itu hanya part dari 'tradisi' nganter biar 'terasa' berpisahnya. Hingga aku ngerasain sendiri dan dengan berat mengakui bahwa "ini memang momen yang menyedihkan rupanya".


Untuk penutup yang baik, di akhir tulisan ini aku pengen nyampein
terima kasih banyak kepada teman-teman di Mesir yang selama ini sering aku repotkan, yang sering menemani bergadang buat saling tukar gosip pikiran, berbagi makanan padahal sama-sama lapar, juga atas kenangan pahit dan indah yang sudah bersama dilewatkan.
Mohon maaf jika banyak salah, sampai berjumpa lagi di Indonesia, semoga tetap saling menyapa --walau jauh tapi kan bisa via sosial media, hey.

Udah itu aja. Walau tulisan ini lebay, ya nggak apa-apalah. 
Toh ini blog siapa. Haha.

Depan Limas
Bandara

Kamis, 02 Januari 2020

Serba-Serbi Wisuda



Sebagai mahasiswa yang jarang upload foto saat belajar --seringnya sih posting screenshot cuitan orang di Twitter-- berfoto & publish suasana wisuda adalah momen yang ditunggu. Setidaknya jadi bukti kalau selama di sini nggak cuma jalan-jalan dan sosmed-an. Lagian mana bisa juga lulus kalo nggak belajar sama sekali (walau suka langganan ngebut di injury time). Ntah deh kalo di Azhar ada yang bisa nyogok kelulusan? Haha keknya nggak ada, nggak pernah denger sama sekali. Paling yang masyhur di sini adalah "nyogok" Yang-di-Atas dengan tawasulan, ziarah makam Waliyullah, juga perbanyak shalawat dan minta didoakan --lewat status sosmed atau japrian broadcast hmm~

Hal lucu pernah terjadi. Saat aku baru pulang dari ibadah haji dua tahun lalu, salah satu teman sempat bertanya apa beneran aku selama sebulan terakhir nggak kelihatan karna pergi ke Mekkah. Sempat bingung sebentar buat mencerna pertanyaannya. Ternyata dia hanya meragukan, soalnya selama sebulan pergi haji dulu aku nggak pernah buat status atau update foto suasana haji. Owalah. Bener-bener "Aku bersosmed maka aku ada". Padahal waktu haji sering sih dokumentasiin kegiatan, cuma lebih ke disimpen pribadi aja. Buat kenangan.

Balik lagi soal wisuda. 
3 Oktober 2019 lalu aku ikut wisuda yang diadain oleh PPMI Mesir. Sempet ragu buat ikut karna --kayak yang aku ceritain di post sebelumnya-- waktu itu masih punya 2 maddah yang butuh remedi. Sedangkan pas tanggal wisuda udah ditentukan, nilai remedial kami belum juga keluar. Yang aku pikirin adalah, kalo aku daftar terus nanti nggak lulus, rasanya bakal males banget setahun ke depan bakal ditanyain rangorang "Belum lulus kok dah wisuda ya". Sedangkan kalo aku nggak daftar wisuda tahun ini dan ternyata lulus, yakali kan sayang banget nggak punya foto kelulusan. 

Akhirnya daftar, dan hal yang dikhawatirkan beneran terjadi. Di hari H pulang wisuda saja teman-teman junior udah sibuk nanya "Abis ini kakak lanjut S2 mana", "Ada rencana pulang alatul belum nih" dll. yang cuma bisa aku jawab "Hehe. Belum tau nih. Masih perlu istikharah dulu" dsbg. Tapi ya sebenernya itu pertanyaan yang wajar, karna mereka juga nggak perlu dan untuk apa juga tau kalo aku belum bener-bener lulus dan masih nyisain dua matkul. Yang diketahui awam kan dengan seseorang-ikut-wisuda berarti ya dianggap sudah lulus, gitu. Dan semenjak hari itu hingga turun nilai aku merasa  sedang membohongi dunia. Bahkan nyeseknya ada teman yang tau aku wisuda dan juga tau masih nyisa dua, terang-terangan ngomong "Halah daftar wisuda, padahal belum lulus juga". Haha sungguh ringan sekali pernyataan tersebut keluar.
Syukurnya ini cuma soal penundaan informasi saja. Aku lulus dan tidak jadi melewati satu tahun ke depan dengan omongan berdengung ala netizen.

Ini dari tadi curhat nggak jelas. Padahal rencana yang mau ditulis bukan soal ini.
Lupakan. Aslinya yang mau diceritain tuh serba-serbi saat proses wisudanya. 


Tempat kita wisuda namanya al-Azhar Conference Center (ACC). Ruangannya luas dan megah. Di sepanjang bagian kursi yang tengah diisi dengan para wisudawan dan kanan-kirinya tempat duduk audience umum. Kita disusun perbaris kursi sesuai dengan taqdir nilai ujian. Yups sesuai yang kalian duga, sebagai mahasiswa yang belum punya nilai saat itu aku dapat kursi 2 baris belakang. Sungguh sangat tidak strategis, karena sudah di belakang, di barisan itupun aku dapat kursi yang di tengah. Fix berada di posisi yang sudah pasti akan sulit dapat angle foto bagus dari tim dokumentasi. Dan terbukti aku nggak punya foto yang pas dalam ruangan itu selain saat maju ke panggung menerima sertifikat. Kesimpulan: kalau mau dapat foto bagus saat wisuda, usahakan tidak manqulain di tingkat 4 kuliah.


Hari itu hari yang lumayan panjang. Dimulai sejak jam 7 pagi yang sudah harus berada di tempat untuk gladi, sampai pasca acara harus "berserah diri" untuk diajak foto sana-sini. Setidaknya dengan teman-teman Kemass Mesir yang punya tradisi setiap tahun harus banget foto bareng di Monumen Anwar Sadat. Beruntung sore itu di sana sudah bisa dipakai untuk berfoto, padahal pagi harinya Monumen Anwar Sadat masih dipakai untuk peringatan "Sittah Oktober" dan dihadiri presiden Mesir. Kami foto-foto di sana dari asar sampai tiba azan maghrib lalu pulang. Entah berapa banyak pose yang diabadikan.


Hal lain dari wisuda, yang bisa dimasukkan dalam kategori "lumayan bikin insecure" itu adalah, bakal ada atau tidaknya teman yang ngasih bunga/hadiah. Toxic-nya, ini sudah menjadi stigma buruk masyarakat (baca: Masisir). Aku sendiri pernah denger langsung ujaran-ujaran yang --menjurus kompetisi-- nggak penting, seperti: banyak-banyakan dapet hadiah. Jadi nggak perlu heran saat ada wisudawan/ti yang sebelum hari H sudah sibuk "promo" atau ngode ke teman dan adik-adik kelasnya buat dateng --dan pastinya beserta hadiah lah, heyy. Lalu di hari H, antar wisudawan/ti yang akhirnya memang dapat banyak hadiah, sibuk maksain untuk nentengin semua hadiah tersebut selama berfoto. Sungguh merepotkan kalo itu cuma buat ajang pamer dan disombongin.

Ini abis nulis ini bakal dibilang julid nggak ya. Bodo lah tapi.

Soalnya gara-gara kebiasaan itu, menjelang wisuda kemarin aku mau nggak mau jadi kepikiran juga. Sebagai lelaki yang nggak populer dan suka mager, jangan kan ngarep buat dapet banyak, bisa jadi malah nggak ada yang bawain. Sebuah kekhawatiran yang nggak berfaedah. Padahal coba kalo nggak ada tradisi gini, yang wisuda nggak perlu insecure, temen yang dateng juga nggak perlu merasa terintimidasi kalo sayang duit  lupa beliin hadiah.

Oh iya, wisuda ini walau yang ngadain temen-temen mahasiswa Indonesia, tapi acaranya dibuka untuk umum. Jadi mahasiswa luar kayak temen Malaysia, Thailand, Nigeria, Afghanistan dll juga boleh gabung, walau cuma beberapa --asal bayar. 

Tapi kalaupun nggak sempet ikut yang ini, dari al-Azhar nanti pun juga bikin acara serupa. Aku ikut dua-duanya. Karna walau sama-sama acara wisuda, ada hal lain yang bikin tertarik untuk ikut dua kali.
Pertama, peserta wisuda yang Azhar ini lebih variatif dari berbagai negara. Nggak cuma didominasi mahasiswa Indonesia doang. Jadi suasana "wisuda luar negeri"nya lebih kerasa.
Dua, seragamnya. Kalo wisuda PPMI tuh kita pakai jubah putih dilapisin kakula hitam khas al-Azhar plus selempang hijau, medali dan peci yang Azhar banget (seperti foto di atas tadi). Lebih gagah sih emang keliatannya, kayak bener-bener dicitrakan sebagai seorang calon duta Azhar (Karna emang seragam itu termasuk starterpack masyayikh kibar yang sering dipakai untuk acara-acara besar). 
Nah di wisuda yang Azhar ini kita pakai pakaian wisuda yang sesuai kayak umumnya: jubah kebesaran dan toga. Toganya itu sih yang bikin serasa wisuda banget. Dari dulu selalu pengen punya foto loncat sambil lempar toga ke atas. Haha. Kalo peci Azhar yang dilempar kan nggak sopan. Dan akhirnya keinginan absurd itu kesampaian juga kemarin.


Pendaftaran wisuda Azhar ini udah dibuka sejak sebulanan lalu. Syaratnya mudah, cuma fotokopi paspor depan dan ijazah sementara. Menjadi lebih menarik karna nggak dipungut biaya sepeserpun. Karna semua udah ditanggung penyelenggara, jiwa yang menggebu saat mendengar kata gratis pun jadi nggak perlu pikir panjang buat langsung daftar. Berkas daftar kemarin nitip pula ke temen yang tinggal di asrama Buuts, kawasan di mana kantor Azhar Parliament berada. Effortless parah.

30 Desember 2019 kemarin acara diselenggarain. Pukul setengah 9 paginya aku berangkat ke ACC make bis lagi-lagi gratis dari Buuts. Katanya acara dimulai jam 9, tapi udah ketebak pasti bakal molor karna banyak kursi peserta yang masih kosong dan tamu undangan di kursi depan belum datang. Sekitar pukul 11 akhirnya berlangsung juga hingga menjelang asar.
Sebagai seorang lulusan berpredikat mahasiswa biasa, aku dapat nomor urut kursi 158. Cuma entah kenapa nomor urut 110 ke atas tempatnya di kursi bagian tengah depan, dan urutan 1-100 malah ada di sebelah kanan terus ke belakang. Beruntungnya lagi, karna barisan depan masih saja kosong saat acara sudah hendak dimulai, kami pun disuruh maju. Hingga akhirnya aku berada di posisi barisan nomor 2 terdepan dan tepat sekali di bagian tengah, selurus dengan panggung. Sebuah posisi yang kalau di wisuda PPMI kemarin akan diisi dengan mahasiswa-mahasiswa bernilai mumtaz. Tentu enaknya posisi ini adalah dapat melihat panggung lebih jelas dan kemungkinan masuk foto sangat besar. Sempet ngomong ke temen samping "Kek gini ternyata rasanya jadi mahasiswa mumtaz."
Allah memang mengerti hambanya ya~ seolah keluhan wisuda yang lalu dibalasNya sekarang. 

Selesai pembagian sertifikat - foto bareng khirrijin di panggung dan sisa acara selanjutnya tinggal untuk para mutafawwiqin, rasanya keperluan di dalem udah abis. Jadi aku milih udahan ngikut acara dan bareng temen yang lain keluar untuk zuhuran.

Acara wisuda versi parlemen Azhar ini nggak terlalu rame dihadirin junior. Selain publikasinya yang nggak semasif wisuda PPMI, juga karna pelaksanaannya di tahun ini yang molor sampai akhir tahun, mepet masa ujian termin satu. Kalau aku di posisi mereka juga pasti males dateng sih. Mending di kamar buat persiapan imtihan yang tinggal beberapa hari. Teman angkatan yang ikut wisuda pertama pun hanya beberapa saja yang ikut lagi wisuda ini, beberapa bahkan sudah pulang ke Indonesia. Tapi sisi lainnya jadi nggak rempong untuk foto bareng sana-sini, cukup puas berpose di depan gedung acara. Walau sayang sekali nggak bisa lama-lama, karna jubah dan toga --pinjeman panitia-- udah disuruh balikin. Hah. Beginilah kalo gratisan~.

________________
maddah : pelajaran
pulang 'alatul : nggak tinggal sini lagi
taqdir : bentuk nilai
manqulain : sisa 2 pelajaran
Sittah Uktuber :  6 Oktober, Peringatan kemenangan perang terhadap Israel pada tahun '73
masyayikh kibar : Syekh-syekh besar
mumtaz : cumlaude
khirrijin : alumnus
mutafawwiqin : yang berprestasi
imtihan: ujian


Kamis, 05 Desember 2019

Wisuda, Lalu Apa


Dua bulan lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2019 jadi hari yang rasanya... campur aduk. Momen wisuda yang harusnya disambut suka-cita dan rasa syukur tapi kalo boleh jujur nggak sepenuhnya aku nikmatin. Saat itu sebenarnya aku belum dikatakan telah lulus. Karna nilai remedial ujian tingkat akhir belum keluar hingga sebulan ke depan. Tapi berhubung panitia penyelenggara wisuda ini adalah PPMI (Persatuan Pelajar & Mahasiswa Indonesia) sendiri, enaknya masih dibolehkan ikut.

Banyak temen yang hadir ngeramein, ataupun temen-temen di Indonesia juga ngucapin selamat dll, tapi hari itu masih terasa hambar. Pikiranku berkecamuk. "Nih kalo beneran lulus, gimana deh". Pikiran yang masih terngiang sampe sekarang.

Cerita mundur sedikit, jauh hari sebelum ujian remedial dilaksanain aku udah gamang duluan. Dari dua pelajaran yang harus diuji ulang, apa yang harus dilakuin? Nanti kalo lulus dua-duanya berarti jalan panjang nan berkelok akan terbentang. Hal-hal yang pernah kutulis di tulisan sebelumnya (di sini) akan terjadi. Persoalan nikah, lanjut S2, kerja dll akan menghantui. Sedangkan kalo nggak lulus, tentu aku masih dapat waktu lenggang satu tahun lagi untuk bersiap-siap, kan? Keknya yang ini bakal lebih enak.

Lalu yang mana?
H-2 ujian remedial masih belum buka buku. Saat itu yang mantap kupilih adalah mungkin belum lulus lebih dulu bakal lebih baik (baca: lebih santai?). Banyak alasan-alasan yang kubangun: Biar bisa lebih lama di Mesir lah, trus karna setahun ke depan cuma bawa 2 matkul bakal banyak waktu untuk talaqqi, kursus ini-itu dll lah.
H-1, kepikiran lagi. Mungkin bakal malu-maluin kalo pas jawab ujian isi kertasnya kosong karna nggak belajar sama sekali. Jadilah coba kuulang-ulang sedikit, dengan buka bookmarks ujian sebelumnya.
Berapa jam menjelang masuk ruang ujian, kembali tersentak oleh "apa yang aku lakuin ini bener ya. Apa nanti akan disesali?"

Di luar perkiraan, ternyata sebagian soal yang keluar tepat di halaman yang sempat dibaca. Bentuk soalnya pun bisa dikatakan serupa. Ruangan ujian mendadak jadi lebih dingin. Apa ini pertanda?
Jadi gimana, isi sesuai yang dipelajari atau tetap abaikan aja?

Singkat cerita, 17 November cek nilai: Lulus.
Sebuah plot twist yang kubuat sendiri.
Hal kilat yang kusadari saat di ruangan itu adalah, diri yang terlalu takut melihat masa depan lalu mencari alasan-alasan pendukung agar tak perlu bersusah dulu sekarang. Padahal rasa takut itu akan selalu ada  di benak dan rintangan masa depan pun tetap menunggu untuk dilalui, sedangkan yang kurencanakan saat itu hanya menundanya terjadi. 
Tak ada yang berubah kalo aku sendiri pun nggak beranikan diri ngambil sikap untuk memilih maju, mau hadapi kenyataan dan berlapang dada buat nerima kemungkinan-kemungkinan lain nantinya.

Dan.. begini lah aku sekarang. Menghitung bulan atau minggu, bersiap untuk melompat ke fase lain kehidupan. Entah lanjut S2 di sini atau di mana, entah pulang lalu apa, atau menikah dengan siapa?
Belum tahu pastinya. Tapi yang kutahu penting adalah, menyiapkan diri untuk itu semua, karna apapun tentu bisa saja terjadi, ya kan.

Terakhir, mungkin sedikit kata lagi bagi teman pembaca yang saat ini belum lulus sarjana, biar seenggaknya tulisan ini ada menyisakan tanda tanya yang baik. 
Satu tahun terakhir kuliah itu memang sering jadi drama tersendiri di otak. Tapi jangan seperti aku yang hingga detik terakhir pun masih bingung mau ngapain. Kalian bisa susun planning A, B dan C  dari sekarang, buat skala prioritas kerjaan, lalu persiapkan diri. Bukan lagi cuma jalani hari kek biasa seperti tahun-tahun sebelumnya dan kemudian saat lulus baru sibuk "abis wisuda, lalu apa?"

Senin, 07 Oktober 2019

Ketemu lagi, Matrouh!


Blog makin nggak keurus. Dua tahun terakhir ini tuh masa-masa nulis ginian pun jadi berat. Padahal di awal mulai dulu sebulan bisa 2x ngepost tulisan baru. Setelah dipikir, mungkin karena aku mulai milah-milih buat cuma nulis sesuatu yang bakal bikin pengunjung blog seneng. Padahal niat mulai ngeblog bukan untuk siapapun selain buat diri sendiri yang butuh wadah nyalurin hasrat nulis, share keresahan-keresahan atau cerita harian. Ya semua itu berubah saat aku mulai tergoda statistik pembaca.

Tapi kali ini aku mutusin ulang, bakal nulis apapun yang aku mau walau nggak ada pembaca sekali pun. Daripada kelamaan mikir trus nggak nulis-nulis, kan? 
Jadi mari mulai dari cerita akhir bulan lalu.

Tanggal 20-22 September aku ikut rihlah Kemass (Kekeluargaan masyarakat Sum-Sel di sini) ke daerah luar Kairo namanya Marsa Matrouh (Daerah utara Mesir). Mungkin ini jalan-jalan pertamaku di tahun ini yang ke luar ibu kota. Yah, hampir satu tahun ini seringnya cuma rebahan di kamar. Jadi emang momen rihlah ini ditunggu banget. Walaupun hampir juga nggak ikutan kalo aja jadwal rihlahnya nggak dimundurin.

Awalnya Kemass mo berangkat akhir Agustus, padahal di awal September aku ada ujian remedial sampai tengah bulan. Lucky for me rihlah diundur jadi bisa ikut ngeramein momen setahun sekali gini.

Destinasi Matrouh ini dipilih setelah Kemass melakukan istikharah berkali-kali. Haha. Agak sulit emang cari destinasi rihlah yang bagus tapi menyesuaikan budget mahasiswa --aku tau kebimbangan ini karna tiap kali main ke Rumah Limas (nama sekrenya Kemass) suka ngobrolin soal rihlah bareng ketuanya -temen sendiri.

Biasanya lokasi murah-meriah yang suka jadi tujuan refreshing Masisir (Mahasiswa di Mesir) untuk kawasan luar Kairo tuh, kalo nggak Alexandria, ya daerah Dimyat yang lokasinya nggak terlalu jauh --jadi cukup hemat di ongkos transportasi. Di daerah Dimyat ada tempat namanya Raas El-Bar dan Gamasa. Dua tahun pertamaku di Mesir kita rihlah ke sana. Ada pantai --pasirnya luas parah, bisa dipake main bola kaki-- dan pasar malam. Bahkan pas di Gamasa kita dapat penginapan yang langsung ngadep ke laut. Nikmatin banget selama di sana.

Lah, jadi cerita masa lalu.

Tahun ini sebenernya panitia sempat kepikiran buat ke Dimyat lagi. Tapi setelah ditimbang-timbang akhirnya lebih milih Matrouh karna pantainya jauh labih bagus dibanding Dimyat dan itung-itungan budgetnya nggak jauh beda. Dua tahun lalu Kemass juga udah ke Matrouh sih. Tapi ke Matrouh + Siwa (Kawasan gurun pasir luas yang ada oasisnya). Cuma harga ke dua tempat itu sekarang dah  naik mahal banget. Belum lagi kalo pas ke Siwa kan biasanya yang dicari adalah naik mobil off-road yang justru perlu bayar lagi. Totalnya bisa 1000an pound. Tapi kalo ke Matrouh cukup keluar setengahnya.

Jadi inti tiga paragraf terakhir ini tuh: Matrouh adalah pilihan paling bijak (baca: hemat). 
Terima kasih telah menyia-nyiakan waktu  membaca anda.

Kamis malam, pukul 1 dini hari lewat kita cuss naik bis, berangkat.
Sampai pagi harinya ke hotel dulu naro barang-barang lalu bebas berkeliaran masing-masing. Agenda rihlahnya baru mulai dari abis shalat jumat. Btw, penginapan kita deket pantai, walau nggak langsung ngadep laut. Di saat yang lain istirahat, aku lebih milih keliling-keliling sebentar nikmatin udara pantai --setelah sekian lama cuma nikmatin polusi ibu kota-- sambil hunting foto dikit-dikit.

Oh ya, selain cuma refreshing melepas penat abis ujian akhir tahun, tujuan aku ikut rihlah adalah buat nambah stok foto dan footage video. Dah lama banget nggak update portofolio di sosmed.
*Tapi malah jadinya hampir sepanjang rihlah kemaren sibuk dengan kamera.

Abis jumatan di masjid dekat penginapan, kami naik bis menuju Hammam Cleopatra. Katanya ini tempat di mana Ratu Cleopatra mandi. Yah, ini jadi semacam tempat bersejarah gitu yaa. Di luar alesan betapa nggak pentingnya kita ngunjungin kamar mandi orang, tempat ini lumayan indah. Air lautnya sangat biru, bening. Di bibir pantai juga banyak batu-batu karang termasuk satu yang mencolok --karna gede banget. Karang gede itulah (bentar, itu karang apa batu ya) yang konon di dalemnya jadi tempat pemandian Sang Ratu. Di pantai ini kita nggak dibolehin mandi, ya karna karang-karang tajam di sepanjang pinggiran pantai itu tadi.


Dua tahun lalu, Hammam ini tempat yang nggak kerawat gitu sih. Tempatnya terbuka aja, bebas. Tapi sekarang udah dibagusin. Dibangun gerbang masuk (jadi perlu bayar tiket), ada bangunan kecil dan tempat main. Bahkan jalan menuju karang gede juga dikasih jembatan kaca.

Sekitar satu jam di sana, kita lanjut ke pantai lain namanya Ageeba (bisa diartiin ajaib, atau amazing gitu lah). Air lautnya biru banget. Bahkan alasan kenapa dibilang ajaib tu karna katanya air di pantai ini bisa munculin tujuh warna (ntah warna apa aja). Cuma konon ya~ belum pernah liat langsung semuanya.
Buat menuju bibir pantai, kita mesti turun tangga lumayan jauh. Karna emang pantainya diapit tebing gitu dan kita parkir di atasnya. 
Di sini kita bebas buat berenang.


Kurang-lebih sepanjang sore di Ageeba, lalu kita pun pulang ke penginapan.

Oh iya, rihlah Kemass tuh seperti biasanya cuma 3 hari 2 malam.
Di malem pertama ini kita dikasih jadwal bebas mau keliling ke mana aja selagi masih sekitaran penginapan.

Rata-rata pada pergi ke pasar malem atau jalan di sebrang pinggiran pantai yang banyak orang-orang setempat jualan. Sebagian lagi pergi ke Suuq (Pasar) Libya. Lokasinya lebih jauh daripada ke pasar malam.
Kalo aku bareng beberapa temen yang lain milih ngabisin waktu ke pasar malam dan sekitarnya. Karna ke pasar Libya udah pernah pas rihlah dua tahun lalu. Nggak terlalu istimewa juga barang-barang yang dijual di sana.

Tapi sebenernya pas di pasar malam kita juga nggak ngapa-ngapain sih selain foto-foto dikit. Nggak naik wahana dsbg. Cukup ngobrol-ngobrol dan nikmatin udara malem gitu doang aja. Ya kalo aku justru nikmatin foto-fotoin suasananya. Kebetulan bawa lensa fix punya Kemass, jadi enak buat dapet foto yang blur-blur bokeh gitu. Di jalan pulang kita mampir ngisi perut di EFC (Egypt Fried Chicken) --saingan KFC nih. 

Siang hari kedua, tanggal 21. Agendanya adalah mandi dan naik banana boat di pantai deket penginapan. Tapi aku nggak ikutan naik sih. Cuma naik speed boat-nya, moto dan videoin temen-temen yang naik banana boat. Kita di sana sampe senja turun~~


Sore itu sebenernya lumayan cemas karna HP yg kutitipin di teman saat mau foto di atas speed boat dititipin lagi ke orang lain. Dioper lagi gitu tapi cuma ditaro di atas meja. Yang bikin khawatir karna ternyata yg dioper itu nggak ingat kalo dititipin, padahal posisi kita sudah di hotel. Beruntung ternyata masih ada temen di pantai yang bawain barang-barang ketinggalan. Fuh. 

Agenda malam harinya --malam terakhir-- adalah makan dan kumpul bareng di pinggir pantai. Aku nggak ikut kumpul sampe selesai. Selain karna angin pantai yang makin nggak bersahabat (kencang banget sampe tembus ke rusuk nih), isi acara kumpul malam itu adalah ngeprank anak baru. Karna dah tau duluan siapa yang bakal dan akan kena prank (sebab keikut obrolan "panitia" di malam pertama rihlah) jadi aku pikir nggak bakal seru lagi buat ngikutin sampe akhir. Jadi mending misah trus lanjut hunting sendiri di sekitaran pantai. Kalo isi acaranya game, bakar-bakar jagung atau permainan seru-seruan gitu mungkin masih betah walau nahan dingin.

Karna pagi hari terakhir besok nggak ada agenda, aku nggak begadang lagi malam itu. Soalnya ya kalo nggak tidur malem, otomatis paginya kepake tidur. Sayang di waktu. Karna sorenya kita dah jalan balik.

Sepulang hunting pagi-pagi, tetiba penginapan lagi heboh. Ada temen yang kemalingan! Pertama ngira ada yang prank lagi. Ternyata beneran. Kejadiannya bisa dipastiin pagi itulah selagi pada tidur (karna malemnya begadang). Yang ilang lumayan banget sih. Dua smartphone dan satu tas yang dalemnya ada dompet berisi macem-macem kartu termasuk ATM.

Setelah dilihat-lihat, tebakan kita si maling masuk dari sebrang jendela kamar. Malem itu emang jendela mereka dibuka. Sayangnya, kebetulan jarak antar gedung tuh deket banget, cukup sekali lompatan. Dan kamar mereka ada di lantai dua (kecil resiko kalo pun si maling jatuh). Ketebak gitu karna tas dan dompetnya ditemuin di gedung sebelah --tentu kondisinya sudah kosong.
Sebenernya ada harapan buat nemuin si maling kalo aja CCTV yang ada di gedung sebelah bisa kita cek. Masalahnya yang tanggung jawab sama gedung itu susah ditemuin karna emang masih pagi kan. Kebanyakan masih nyenyak tidur. Jadilah sampe sebelum kita pulang belum bisa diusut dan cuma bisa minta yang kehilangan untuk berbesar hati. Duh kasian tapi gimanaa.

Lalu sorenya kita balik.
Sepanjang perjalanan pulang dalem bis, selain ada teka-teki berdoorprize, ada juga diisi dengan penyampaian kesan-kesan selama rihlah. Mainstream emang tapi lumayan lah menghibur. Soalnya ada anak baru yang di luar dugaan punya kesan "pribadi" tentang perasaannya terhadap salah seorang peserta rihlah, yang ternyata cukup pelik karna terkuak mengandung cinta segitiga. 
Oh, drama remaja puber~ 

Tambahan cerita lucu pas jalan balik, di pemberhentian rest area pertama --perjalanan sekitar 6 jam lebih-- buat maghriban sekaligus jamak, aku berada di posisi mau nggak mau harus mesen teh karna masih nungguin temen-temen yang lain gantian shalat. Nunggunya sambil nonton bola yang kebetulan ada laga big match Premiere League, jadi mesen kursi sambil pesan minum.

Padahal, aku tuh alergi banget dengan kopi dan teh terutama di perjalanan. Karna biasanya efek abis minum itu jadi pengen bolak-balik buang air. So, jadilah sepanjang sisa perjalanan selanjutnya tersiksaa nahan air karna wc kecil di bis nggak bisa difungsiin, hadehhh. 
Beruntung kita tuh stop 2x. Jadi setelah nahan sekitar 2 jam dalem bis, kepentingan pribadi (baca: hajat terpendam) bisa tersalurkan jugaa.  Terima kasih, Tuhaan. 

Di rest area ini ternyata sekalian makan malam. Beruntung lauk malam itu enak, jadi lumayan mengalihkan pikiran dari ketersiksaan sebelumnya.

Eh, ini sebenernya nggak penting banget ya diceritain. Tapi bomat lah.
Dah, gitu doang~

Cheers... 

Kamis, 02 Mei 2019

Malam Festival



Seperti biasa, entah kenapa makin menjelang ujian malah jadi pengen nulis banyak hal.
Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 27 April, aku bertiga dengan teman rumah jalan ke Qal'ah Salahudin al-Ayubi. Benteng tua dari abad 12 Masehi ini lokasinya nggak jauh dari rumahku. Cukup naik mobil sekali, 10 menit sampe. Kita ke sana karna ada festival tradisional musik internasional. Nama resmi acaranya "The International Festival for Drums and Traditional Arts", berlangsung satu minggu penuh dan yang kita hadirin malam itu adalah momen penutupannya. Tiap hari mereka pindah-pindah lokasi sih. Sebelumnya di Qubet Alghuri, al-Moez Street, Sahet el-Hanager Theater, International Garden di Nasr City & banyak lagi.

Acara ini biasa diselenggarain tiap tahun sejak 2013 lalu di lokasi yang sama. Ini kali kedua aku dateng --empat tahun dulu kita perginya rame-rame serumah. Oh iya, lebih rinci lagi, sebenernya mahragan (festival) gini diadain 2x setahun, tapi di satunya lagi yang ditampilin adalah musik-musik keagamaan, pada bulan september. Nama festivalnya "Mahrajan el-Samaa'". Adalah Dr. Intisar Abdul Fatah sebagai sang penginisiasi sekaligus komponis perhelatan akbar ini.

Partisipannya ada dari 20 negara di empat benua. Salah satunya Kolombia, Cina, Polandia, Armenia, Srilanka, negara-negara timur tengah, termasuk juga Indonesia. Nah yang dari Indonesia ini biasanya yang ikut serta adalah teman-teman mahasiswa dari grup nasyid Da'i Nada, yang emang sering banget diundang tampil di TV Mesir dan di berbagai event ginian, bahkan sering juga jadi utusan resmi Kementerian Kebudayaan Mesir buat ke luar negeri. Keren emang mereka. Jadi ikut bangga.


Malam itu acara dimulai dari jam 8. Kita karna ngerasa tempatnya deket jadi jalan agak nyantai. Setengah 8 berangkat trus sampe, ternyata di depan gerbang masuk orang masih rame ngantri buat ke dalem. Masalahnya, dari tadi pintu ditutup sebentar jadi orang-orang pada numpuk. Karna bentar lagi dah mau mulai, jadilah sebagian pada ribut ke petugasnya minta dipercepat dan sekitar 15 menit baru pintu dan pagarnya dibuka lagi.

Oh iya, alesan  sebenernya kenapa aku mau pergi kali ini adalah buat ngeliput. Rencananya sih buat dikirim ke Citizen Jornalism, NET TV. Itu lho website terbuka untuk siapapun orang Indonesia yang punya berita bisa kirim ke sana, terus kalo diterima bakal dapat upah. Upahnya sih lumayan buat kita yang punya berita dari luar negeri. Hehe. Makanya ini diniatin banget pergi, kali aja kan rezeki.

Masalahnya, kita salah perhitungan. Harusnya kita dateng minimal 1 jam yang lalu.
Acara ini boleh bertajuk sama, tapi peserta yang hadir kali ini beda banget dengan 4 tahun lalu. Tahun ini ramenya naudzubillah. Beh, parah sih. Mau ke daerah yang selurusan panggung tu nggak dapet-dapet. Jangankan tempat duduk, buat berdiri biar panggung keliatan aja susah banget. Padahal kita mau ngeliput nih. Niat mau ngambil footage video dari berbagai sudut bahkan kalo bisa ke depan panggung 'pas', mendadak jadi ngimpi. Dulu sih kita santai aja buat pindah-pindah kursi, keluar-masuk. Bener-bener nggak nebak bakal berubah gini situasinya. Acaranya beneran berhasil menarik animo masyarakat sekitar. 


Kalo aja nggak ada rencana liputan tadi, aku bisa aja langsung pulang. Haha. Tapi yaudah deh, akhirnya grasak-grusuk nyoba nyempil-nyempil di tengah orang Mesir yang gede-gede dan tinggi. Dengan usaha ekstra, akhirnya kita pun dapet lah beberapa cuplikan acaranya walau nggak maksimal. Selain kejepit-jepit orang, juga kameraku agak gelap untuk suasana malem. Soalnya nggak berani nih make pengaturan ISO di atas 800. Takut hasilnya noise parah.

Jam 10 menjelang acara selesai, pas sebagian orang pada beranjak pulang, baru kita bisa masuk ke bagian bawah yang sehadapan panggung. Nggak disia-siain, langsung shoot dari deket. Setelah acara selesai, aku ketemu sama temen yang nampil. Kemarin malamnya aku udah bilang sih mau wawancara. Jadi kita dibawa ke samping panggung buat ngobrol dengan si vokalis sekaligus pendiri  grup Da'i Nada, namanya bang Nur Akhyari. Abis wawancara, aku dibilangin sama kakak senior dari Palembang yang juga nampil, katanya lain kali bilang-bilang dulu kalo mau ngeliput, biar dari sebelum acara mulai mereka bisa ajakin ke daerah deket panggung. Wah iya juga ya. Harusnya kalo punya orang dalem gini kan dimanfaatin fasilitasnya. Hehe. Next time lah insyaallah.

Sebelum pulang, karna udah lama banget nggak ke benteng ini, kami sempetin dulu foto-foto dengan background Masjid Ali Pasha --posisinya di bagian atas benteng. Karna ini di dataran tinggi, hampir se-seantero Kairo bisa liat masjid ini dari jauh. Kalo malem, masjidnya dikasih hiasan lampu di sekelilingnya, jadi keren. Seingetku terakhir kali masuk sini tuh, pas diminta tolong jadi fotografernya kakak senior yang mau foto-foto make pakaian wisuda bareng keluarganya, sekitar 3 tahun lalu. Dah lama banget.

Sampe rumah, malem itu juga video-video yang udah kuambil diedit jadi satu, lalu dikirim ke laman website. Karena kan berita ini masuk kategori moment, jadi harus cepet-cepet dipublish sebelum keduluan basi. Masalahnya, 3 hari berlalu sejak hari itu, video ini juga belum dapet kejelasan. Jadi kesimpulan kami, kita belum diterima. Hahahaha. Padahal event ini bagus banget lho buat jadi berita. Nasib, belum rezekinya. Tapi nggak papalah, pengalaman. Nggak kapok sih, lain kesempatan bakal coba ngeliput hal lain lagi. Dan biar nggak sia-sia, tulisannya masuk di sini~

Senin, 03 Juli 2017

Tenggelam Pada Alexandria


Jauh hari sebelum ujian bulan kemaren, entah kenapa jadi kepengen banget main ke Alexandria. Dan alhamdulillah jadi beneran ke sana tanggal 18 ini tadi. Niat awal sih sendirian aja. Pengen jalan sendiri di pinggiran laut birunya sambil nendang-nendang pasir di pagi hari - uhuy. Tapi saat nyeritain rencana ini sama temen-temen, ternyata mereka juga punya niat yang sama.

Ya udah, akhirnya kami ke sana bareng beberapa hari abis ujianku tanggal 14.

Satu jam sebelum buka puasa tanggal 18, kami berlima ditambah satu lagi temen - yang kebetulan juga mau balik ke Alex - berangkat. Pertama, ke stasiun Ramses dulu karena kami bakal naik kereta. Stasiun ini arsitektur interiornya klasik banget. Serasa lagi main di Eropa tahun 60an. Hah lebay. Sebenernya bisa juga sih naik mobil angkot gitu, tapi lebih milih kereta karena pastinya lebih asyik dan nyaman. Lagian udah lama juga aku nggak pernah naik kereta. Mungkin terakhir kali sekitar 2 tahun lalu saat jalan-jalan ke daerah Tanta dan Tafahna.

Keretanya berangkat jam 8 malem. Aku milih tempat duduk sebelah kiri, samping jendela. Hobiku dari dulu, selagi aku bisa dapet tempat duduk samping jendela aku bakal milih itu. Entah itu pas belajar di kelas ataupun lagi di perjalanan naik kendaraan apapun.

Alesannya? Mungkin karena aku orang yang gampang bosen ya. Jadi kalo lagi bosen dengerin guru nerangin pelajaran, ngeliat luar jendela lumayan bisa ngilangin jenuh. Termasuk kalo lagi bosen di perjalanan. Bagiku di luar jendela tuh selalu ada hal lain yang beda - dari posisi kita saat itu - dan kadang itu menarik untuk diperhatiin. Yah, walau jadinya aku malah lebih sering merhatiin luar jendela daripada penjelasan guru - dan akhirnya dapet lemparan spidol yang tepat kena di kepala. Headshot. Haha.

Next, ini pengalaman pertamaku naik kereta yang ber-AC di Mesir. Kalo di sini kami sering nyebutnya qitar mukayyaf. Tiket malem itu 40 pound. Sebenernya naik kereta ini termasuk boros juga sih. Padahal kan ya cuma jalan ke Alexandria doang gaya. Di sini emang udah biasa mahasiswa yang tinggal di Kairo bolak-balik ke Alex buat belajar dan mereka biasanya make kereta biasa yang tiketnya antara 5-10 pound. Tapi karena emang niat awal kami ke Alex buat jalan-jalan, jadi kami lebih milih qitar mukayyaf ini. Yah biar lebih nikmatin aja. Lagian ini juga cuma sesekali. Pertama kali malah.

Setelah beberapa jam, kami turun di stasiun Sidi Gaber, Alexandria sekitar pukul setengah 12. Karena tempat yang bakal kami tinggalin ada di kawasan Mandara, kami masih perlu naik kereta sekali lagi. Dan kali ini naik kereta biasa antar wilayah. Ongkosnya cuma se-pound 25 piester. Kurang-lebih setengah jam lagi sampenya.

Sampai di Mandara, ada mahasiswa yang jemput buat nganter ke tempat nginep. Oh ya, di sini kami akan tinggal selama 3 hari 3 malam di homestay punyanya mahasiswa. Dapet info rumah ini dari temen yang tinggal di sana juga. Beruntung, karena dianggapnya temen, kami pun dapet diskon. Lumayan.

Sebelumnya kami ditawarin temen yang di Alex itu buat nginep di rumahnya aja. Tapi setelah tau kalo rumahnya juga lagi ditempatin anak-anak baru yang ikutan daurah, kami lebih milih nyewa homestay. Takut nganggu dan nggak enak juga karena kami emang cuma mau jalan-jalan doang.

Sampe di homestay, kami langsung milih tempat tidur masing-masing. Aku pastinya ngambil ranjang yang pas banget samping jendela. Oh ya, di awal sebelum mesen homestay ini kami sempet dikasih tau kalo rumahnya pas banget sehadepan laut. Wow, seneng banget pas denger itu. Aku langsung ngebayangin film KCB di scene waktu Azzam lagi nginep di hotel di Alexandria dan pas dia buka pintu balkon, keliatan background kerlap-kerlip lampu kendaraan di sepanjang pinggiran pantai malem hari dan juga hamparan luas laut birunya. Indah banget.

Tapi aku langsung buang ekspektasi itu. Aku yakin realitanya pasti meleset. Dan beneran, rumah kami nggak langsung pas di seberang laut. Masih ada satu gedung lagi yang ngehalangin. Jadi saat aku buka jendela kamar, pandanganku langsung nabrak dinding belakang gedung itu.

But, it's ok. Seenggaknya rumah kami deket banget dengan lautnya.

Sekitar jam dua malem pas kami sampe, dan setelah dijelasin apa-apa aja fasilitas yang ada di rumah, kami langsung sibuk mikirin sahur mau masak apa. Untung ada toko yang jual bahan masakan nggak jauh dari rumah. Abis subuh, kita briefing bentar - gayanya - buat bahas apa aja yang mau kita lakuin bareng selama 3 hari di Alex dan kapan waktu bebas buat mencar masing-masing.

Singkatnya, siang hari pertama tanggal 19, kami bakal ke Perpustakaan Alexandria dan Taman Montazah. Malemnya bebas.

Mulustrasi Kota Alexandria & tempat yang aku kunjungin
(dilingkarin merah)
Telat dikit dari waktu yang tadi pagi ditentuin, abis zuhur kami berangkat naik mobil angkot ke Perpustakaan. Lumayan jauh juga. Mungkin 20 atau 25 menit. Ini kali keduaku ke sini. Pertama kali dulu pas ikutan tour Alexandria selama sehari bareng tim tari dari Palembang. Karena waktu itu aku masih  pengurus kekeluargaan Palembang jadi diajak. Tapi waktu itu bentar banget. Makanya sekarang ke sini lagi dan sekalian mau ke Planetarium-nya yang emang masuk kawasan perpustakaan. Sayangnya pas kami sampe di sana udah tutup. Yah.

Emang salahku sih. Harusnya nyari info jadwal tayangnya dulu sebelum berangkat. Kami sampe di sana jam satu siang dan pas banget itu udah jadwal tayang yang terakhir. Jadilah cuma dapet masuk perpustakaannya aja - bayar 3 pound buat pelajar - dan itupun juga cuma bentar doang karena perpusnya tutup jam 2. Argh. Beneran nggak puas. Ini gara-gara cuma berangkat doang tanpa tau info. Ya udah, kami harus berpuas diri dan sebelum jam 3 udah keluar dari daerah perpus. - Banyak cumanya ya. Hah.

Perpustakaan Alexandria
Selanjutnya kami ke Taman Montazah. Taman yang ada di ujung timur Alexandria ini lumayan deket dari tempat inap kami. Cukup jalan pun sampe.  Nah, di taman ini kita dikasih liat pemandangan hijau seluas 155 hektare dan rata-rata tanamannya didominasi sama pohon kurma. Tapi selain itu ada juga sih macem-macem kembang kayak bougenville, lantana ungu, dan tanaman hias lain yang jarang ditemuin di wilayah tropis kayak Indonesia.

Di bagian utara, naik dikit, kita bisa ngeliat pantai dari atas. Di sana ada beberapa rumah sejenis villa yang berbaris. Nah di tempat itu juga - katanya - tempat yang paling mantep buat ngeliat sunrise di kota terbesar kedua Mesir ini karena letaknya yang paling timur. Nggak jauh dari situ juga kita bisa liat gedung paling mewah di sini, Istana Raja Farouk. Aslinya sih emang taman ini masuk bagian dari istana raja terakhir Dinasti Muhammad Ali itu. Tapi sayang, kita nggak boleh masuk ngelewatin pagernya. Jadi kalo mau poto-poto yah sekedar di depannya aja.

King Farouk Palace
Kurang lebih satu setengah jam lagi masuk waktu buka, kami milih pulang jalan kaki. Sambil di jalan sambil mikirin mau buka make apaan. Ternyata di jalan pulang, nggak jauh dari rumah, kami ketemu maidatur rahman - istilah di Mesir buat makanan buka gratis. Wah.

Mikir bentar, akhirnya kami setuju buat buka di sana. Selain lumayan buat ngirit biaya, ini jadi pengalaman seru juga nyicipin maidah Alexandria. Lauk saat itu ikan. Masuk akal karena emang ini kota pinggir laut. Ikannya gede dan lumayan bikin kenyang. Alhamdulillah.
Malemnya kami nggak kemana-mana. Sebagian asyik ngobrol dan aku lebih milih buat tidur karena rencananya besok pagi-pagi aku mau jalan-jalan di sepanjang pinggiran pantai.

Oh ya, kalo sekilas aku perhatiin, kehidupan mantan Ibukota Mesir ini kebanyakan terpusat di pinggir jalan besar yang ada di pinggir laut yang panjang kayaknya. Rata-rata, gedung-gedung penting kayak kedutaan, objek-objek wisata, bank, universitas dan lain-lain ada di selurusan jalan itu. Tapi bagus gitu sih. Jadi ngemudahin para pelancong buat jalan-jalan sendiri.

Setengah lima pagi besoknya, aku berdua sama temen nyusurin pinggiran pantai. Masing-masing bawa kamera. Sepagi itu udah lumayan banyak orang-orang yang main dan berenang. Wah, berenang sepagi ini nggak kedinginan apa ya. Langit masih gelep. Kami jalan terus sampe sunrise muncul dan aku mulai sibuk ngambil momen dengan video.

Untuk masuk ke pantai kita bayar 20 pound berdua, termasuk dapet tempat duduk dan payung di pinggir pantai. Duduk gini sambil nikmatin sunrise emang nikmat banget rasanya. Sesekali sambil ngeliatin anak-anak pribumi main bola dan kadang ngelamunin diri. Ngelamun aja, bukan ngegalau. Hah.

Pulang dari jalan pagi, karena capek aku langsung tidur. Temen yang lain juga lagi pada tidur. Dan pas bangun langsung kaget. Udah jam 2 siang! Padahal rencana kami hari ini mau jalan ke Benteng Qaitbay abis zuhur. Telat banget. Karna udah telat parah gitu, temen-temen udah ilang semangat buat pergi. Aku ngehibur diri dengan mastiin di google kalo siang gini bentengnya masih buka. Yups, kata google bentengnya buka sampe jam 5 sore.

Benteng Qaitbay tampak dari samping luar
Nggak make buang-buang waktu lagi, aku langsung ajakin semuanya buat siap-siap dan langsung berangkat. Nggak boleh ada satu pun tujuan yang udah direncanain yang nggak jadi. Tapi naasnya, karena butuh hampir satu jam buat ke sana - ujung ke ujung, boy - pas kami sampe jam tiga, udah tutup. Brrr. Ternyata jadwal yang dibilang google udah nggak valid. Argh. Gagal lagi. Aku sebenernya nggak terlalu kecewa sih karena dulu udah pernah masuk ke sini sekali. Tapi kasian sama dua temen lagi yang belum sama sekali. Tapi yah, apa boleh buat kan.

Biar nggak sia-sia banget, kami jadinya asik duduk dan ngabadiin momen dari halaman luarnya aja sambil ngeliatin perahu-perahu yang seliweran di laut sekitar sana. Next abis ini kami mau main di pantai seberang rumah. Jadi kami pun pulang. Beruntungnya, bis dua tingkat yang kami tunggu-tunggu dari kemaren tapi nggak bisa dinaikin karena selalu penuh, kali ini kosong. Nggak perlu mikir dua kali kami udah ambil posisi di kursi atas.


Rute bis ini kayaknya cuma di sepanjang jalan utara Alex aja. Karcisnya 7 pound. Dua kali lipat dari naik mobil angkutan umum biasa. Aku nggak tau mau ngomong apa tapi yang pasti seneng banget bisa naik ini. Hah, Lebay. Padahal di Indonesia kan juga ada ya. Tapi seenggaknya ini pertama kali aku nyicipin bis merah kayak bis khas kota London gini. Sekitar satu jam di atas bis, di satu jam itu juga aku nikmatin pemandangan angle berbeda dari kota yang biasanya juga disebut Iskandariyah ini.

Sempat hampir kelewatan rumah saking asiknya, sore itu kami lanjut ke agenda selanjutnya: berenang!

Sebelum masuk pantai, kami sempetin beli beberapa snack makanan sama minum juga karena emang rencananya mau buka puasa di dalem. Kan seru ya buka sambil ngeliatin sunset langsung di ujung laut. Setelah lumayan lama berenang dan main-main pasir kayak anak kecil, akhirnya berenti juga karena kedinginan. Naasnya handuk ketinggalan dan aku nggak bawa salinan karena mikirnya 'ah, rumah deket sini juga. Sekalian ganti di rumah aja ntar'.

Jadilah abis bilas di kamar mandi, aku biarin aja angin yang buat pakaiannya kering.

Nggak lama duduk-duduk sambil nunggu buka, di situlah momen yang indah ini dateng. Sunset. Jujur, ini indah banget. Momen matahari tenggelam di ujung laut ini otomatis langsung masuk ke salah satu senja paling berkesan di hidupku.

Saat akhirnya matahari ilang, tenggelam di ujung laut Alexandria, saat itu juga suara azan saut-menyaut menggema.
So, waktunya berbuka.

Karena cuma takjilan make snack-snackan doang dan suasana mulai gelep, kita pun langsung pulang, shalat, dan yang paling utama, cari makan. Udah kelewat laper. Hari ini nggak ambil makan di maidah lagi jadi kami cari rumah makan. Di deretan pinggir jalan kebanyakan makanan-makanan junk food, kami coba masuk dikit ke bagian-bagian dalem area pasar. Akhirnya nemu juga yang kayaknya bakal buat puas.

Kami sepakat mesan satu ayam buat berlima sama nasi. Pas mipesen, kata pelayannya kami nggak bisa pesen cuma itu doang karena pasti nggak bakal cukup. Lah, dia kira kita orang arab apa yang makannya banyak banget. Tapi walaupun kami tetep maksa beli satu aja dianya tetep nolak. Waduh. Akhirnya musyawarah bentar dan kami mutusin mesen yang satu orang setengah ayam. Gila sebenernya tapi gimana ketimbang kalam tambah panjang sedangkan perut udah laper. Lagian sesekali juga.

Inti pada akhirnya, ayamku nggak habis dan untung dibantu sama temen yang milih menu lain yang ternyata lauknya mereka kedikitan. Hah. Pas banget jadi.

Malem itu abis makan, temen-temen yang lain milih jalan ke luar lagi. Aku istirahat aja di kamar. Sambilan rumah sepi gitu aku coba ngecek-ngecek hasil hunting video yang diambil dari kemaren. Saat itu juga aku nyadar kalo ternyata aku nggak banyak ngambil foto. Padahal niat di awal sebelum berangkat itu selain jalan-jalan juga mau nyari portofolio foto. Duh. Mau ngulang nggak sempet lagi. Sisa sehari di Alex. Ya udahlah nggak apa-apa. Udah lewat.

Hari ketiga, hari terakhir sesuai jadwal yang kami rencanain, ini hari bebas. Jadi masing-masing kami boleh ke mana aja, tapi harus udah ngumpul di rumah jam 4. Soalnya kami mau ngambil kereta sore biar nggak kemaleman pas sampe di Kairo.

Karena niat di hari pertama mau nonton di Planetarium nggak kesampean, jadi di hari itu aku mau ke sana lagi dan kali ini insyaallah nggak bakal gagal lagi. Aku udah tau jadwal tayang dan judul filmnya apa. Dua temen yang lain juga ikut. Jadi kami bertiga. Dua temen lagi katanya mau ke Qaitbay - yang kataku tadi mereka belum pernah masuk sama sekali ke sana.

Jam 11 kami ke sana, ambil jadwal film jam 12.

Sebelum ini aku sama sekali belum pernah nonton di Planetarium. Tapi sempat pernah tau dikit kalo isinya itu film tentang suasana luar angkasa trus make layar lebar cembung. Karena aku penggemar berat luar angkasa jadi aku punya ekspektasi gede. Jadwal jam 12 ini judul filmnya The Mission. Nggak tau itu bakal nyeritain misi apaan. Masuknya 10 pound buat pelajar, 50 buat turis umum.

Film pun mulai, dan eng-ing-eng, filmnya di luar ekspektasi. Ternyata filmnya make gaya kartun 3D gitu. Planet-planetnya dikasih mata dan mulut. Gaya anak-anak banget. Yaah. Kiraku bakal kayak liputan NASA gitu. Kecewa sih. Apa kami salah pilih judul ya. Tapi kayaknya emang gini semua sih. Mungkin akunya aja yang gaptek. Ya udahlah nggak apa-apa. Untung bayarnya yang 10 pound, jadi untuk ukuran nonton film yang durasinya hampir setengah jam itu yah lumayan murah lah. Seenggaknya aku nggak penasaran lagi.

Abis dari situ, kami masuk ke perpustakaan lagi. Hari pertama kemaren masih kurang puas.


Jam 2nya kami pulang dan langsung beres-beres. Jam 4 harus udah check out dari homestay dan ke stasiun. Nah, kali ini kami pulang make kereta 10 pound yang biasa karena kereta yang kayak berangkat kemaren itu jadwalnya jam 8 malem dan itu masih lama banget. Waktu itu masih jam 5. Selain itu juga harga tiketnya lagi mahal banget. 70-100 pound. Glek.

Jadilah kami naik kereta yang antar wilayah dulu ke mahattah mashr baru beli tiket kereta biasa buat ke Kairo. Beruntung, pas kami beli tiket itu keretanya udah tinggal berangkat bentar lagi dan timing kami pas banget. Duduk dan beberapa menit kemudian langsung tancap gas. Kami ngambil kursi yang paling belakang banget di gerbong paling akhir. Nggak lupa sebelum itu kami udah beli beberapa snack buat buka puasa karena azan maghribnya masih 1 jam-an lagi.

Pas udah buka, matahari juga udah tenggelem, baru ketauan ternyata lampu yang di gerbong kami ini mati semuanya. Jadilah gelap-gelapan satu gerbong. Aku sih nggak takut gelep kalo orangnya rame gini. Cuma cemas aja kalo ada orang yang usil ngambilin barang-barang kami. Tapi alhamdulillah 4 jam sampe stasiun Ramses nggak ada masalah sama sekali. Aku bahkan tidur. Tapi antara kami emang ada yang asik ngobrol sih.

Turun kereta, gila laper banget. Perut melilit-melilit. Padahal kami masih perlu naik mobil sekali lagi. Jadi tanpa ba-bi-bu langsung nyari mobil angkutan. Pas udah dapet eh si sopirnya malah ribut soal rebutan penumpang. Karna udah tau biasanya ribut yang ginian bakal lama dan nyakitin kuping, kita langsung cabut dan nyari bis aja. Sialnya kami malah salah milih nomor bis. Bis yang kami naikin ini yang rutenya agak lebih panjang dan jalannya jam gini lagi macet parah.

Wuuh gila. Udah panas, isi bis rame, perut laper, macet pula.

Mungkin sekitar dua jam dari itu kami baru sampe dan akhirnya bisa duduk manis di rumah makan Indonesia kemudian mesen menu andalan masing-masing.

Jadi, yah, itulah ceritaku kali ini. Panjang banget ya. Hah. Maaflah. Aku udah berusaha nyingkatnya semaksimal mungkin tapi ternyata masih aja kepanjangan. Soalnya emang rata-rata tentang hal-hal yang baru pertama kali aku rasain.

Dan saat tulisan ini selesai aku ketik, aku udah mau ikut jalan-jalan ke destinasi lain lagi. Tapi yang kali ini jalan-jalan resmi diadain sama pengurus mahasiswa asal Sum-Sel. Acara tahunan emang. Bakal tiga harian juga. Semoga bisa jauh lebih berkesan dari yang ke Alexandria ini. Soalnya tempatnya jauh lebih keren katanya. Yah, semoga bener sesuai ekspektasi dan nggak banyak gagalnya deh.
Hah.

Limas, Kairo
02/07/2017

--
Yang mau lihat video jalan-jalan kami, udah diupload di YouTube. Bisa klik di sini

Jumat, 26 Mei 2017

Cerita Kemarin


Kairo, 25 Mei 2017.

Masa-masa ujian emang nggak mudah. Otak diajak pusing 7 keliling (udah kayak thawaf). Mana bawaan musim panas bikin suasana tambah ruwet. Tapi aku coba jalanin itu semua. Karna ujian emang harus dihadepin kan. Kalau dihindari terus, nggak bakal ada penyelesaian malah penyesalan yang ada.

Jadi ceritanya, kemaren siang (24/5) jam 1 aku ada jadwal ujian Fiqih Perbandingan. Karena persiapan belum mantep bener, paginya sekitar jam 10 aku milih buat belajar di Masjid Azhar biar lebih fokus. Karena niatnya bakal belajar sampe zuhur terus abisnya langsung berangkat ke kuliah dan nggak pake pulang lagi, jadi seluruh peralatan ujian udah aku bawa termasuk pakaian juga udah rapi.

Pagi itu masjid rame banget. Rata-rata lagi belajar. Selebihnya ada yang ikut ngaji di shaf depan dan beberapa sekedar lepas penat. Aku milih duduk di shaf bagian belakang. Sekitar setengah jam setelah itu, entah kenapa aku ngerasa ada yang ganjil. Aku liat ke belakang dan bener ada kejadian. Sepatuku hilang.

Aku coba nggak berburuk-sangka dulu. Aku perhatiin lagi sepatu-sepatu yang ada di rak. Karena sepatuku warna putih jadi buat ngenalinnya enak. Tapi, setelah bolak-balik dicek nggak ada. Bener-bener hilang. Langsung bawaannya tambah pusing. Persiapan ujian belum selesai malah ada masalah lain.

Kebetulan ada temen orang Indonesia juga di sampingku, aku pinjem sepatunya buat liat ke luar masjid. Kali aja orang yang ngambilnya keluar dan belum pergi terlalu jauh. Tapi nihil. Aku bahkan sempet curiga sama kakek-kakek yang di deket aku tadi. Dia bawa tas kantong gede warna ijo dan lagi pengen keluar masjid. 

Aku sopan nanyain dan coba ngecek isi kantongnya. Dia keluarin, isinya cuma baju. Mukanya udah nggak ngenakin banget. Ya wajar sih kalo dituduh sembarangan emang gitu. Terus dia bilang "Ana musy haroomi yaa walaa'. Dah 'aib. 'Aib." Aku langsung minta maaf dan langsung nyerah aja. Lebih milih buat lanjut belajar karena waktunya udah mepet. Argh, padahal itu sepatu kesayangan banget. Sekali-kali doang pakenya. Kalo aja sepatu satunya nggak rusak, aku nggak bakal pake yang ini.

Tapi yah, kalo rezeki nggak bakal kemana. Kalo bener nggak ketemu lagi, ya udah mungkin ada rezeki lain. Dan ini pengalaman pertamaku kehilangan barang di tempat umum selama 3 tahun di Mesir. Dan masih bisa dibilang alhamdulillah cuma hilang sepatu. Banyak temen-temen yang lain hilang barang jauh lebih berharga dari itu.

Karena rumahku nggak terlalu jauh dari Masjid, aku balik ke rumah dan ngambil sandal. Terus lanjut belajar lagi di Masjid.

Siangnya aku pun ujian. Dan naasnya, soal-soal yang keluar di luar perkiraan semua. Terutama soal pertama yang bentuk soalnya anti-mainstream banget buat al-Azhar. Mungkin ini pertama kalinya ada bentuk soal gitu. Biasanya bentuk soal di sini tuh selalu pertanyaan essai. Tapi yang kali ini beda. Kita di suruh nyocokin uslub-uslub Fiqih Muqaran yang dipelajarin dalam bentuk Side A & Side B. Total ada 25 anak soal di soal yang pertama dari 3 soal yang ada. Dan ini beneran ngebuat bingung.

Tapi yang lucunya, kan di Azhar kalo lagi ulangan boleh sambil minum teh --malah ditawarin. Si penjual tehnya hari ini semangat banget nawarin. "Hayo hayo siapa yang mau teh, hayo siapa yang mau. Ketemu selanjutnya kalian nggak bakal bisa pesen lagi loo~" kira-kira gitu. Aku sempet bingung kok nggak bisa lagi pesen. Lah iya baru inget. Hari ahad pas ujian selanjutnya kan udah masuk Ramadhan. Puasa. Hah. Bisa aja mamang teh.

Setelah hampir 2 jam di dalem ruangan, dan udah mentok nggak tau mau jawab apalagi, akhirnya aku keluar dan balik. Perut laper banget karena belum sempet sarapan tadi. Ah, bad day.

Pas sampe rumah, buka hp, ngeliat ada pesan di grup WA komunitas fans MU Indonesia di Mesir (United Army Cairo). Oh iya. Malem ini ada laga final Europe League, MU vs Ajax. Admin grup udah ngasih info dari kemaren-kemaren kalo bakal ada nobar bareng temen-temen fans MU Mesir di Sittah Oktober.

Wah, langsung deh siap-siap. Refresh dulu abis ujian. Ujian selanjutnya juga masih 4 hari lagi. Kita kumpul jam 6 di Ramsis. Karena yang berangkat dari Darrasah cuma aku sendiri, aku pun maksa 1 temen buat ikutan. Embel-embelnya semua ongkos aku yang tanggung dan kalo MU juara bakal aku traktir makan. Hah.

Jam 6 di Ramsis, tepat depan Masjid al-Fath, udah banyak yang make jersey MU. Rata-rata make jersey home yang merah. Sampe sana disuruh nulis nama buat ngatur kursi mobil. Dan singkatnya, kami pun berangkat ke Sittah Oktober. Ngabisin sekitar 1 jam perjalanan.

Untungnya karena dateng agak awalan, kursi kafe tempat nobar belum terlalu penuh dan kami dapet posisi yang strategis buat duduk. Shalat maghrib dulu dan jam 8.45 laga dimulai. Sempet ngobrol-ngobrol dikit, ternyata yang dateng buat nonton di sini bukan orang-orang Kairo doang. Yang luar provinsi juga dateng. Kayak orang-orang di depanku yang dateng dari Alexandria, katanya mereka berangkat dari jam 12 siang tadi. Yang di belakangku dateng dari Luxor. Bujubuset. Jauh banget itu. Ujung Mesir. Mungkin kayak orang Palembang terus pergi ke Jakarta cuma buat nonton. Salut banget.

Ismuh Khaled min Iskanadriyyah
Yang bikin seru, orang Alex depanku ini yang jadi provokator teriak-teriak malem ini. Hah. Riuh.

Alhamdulillah, abis menit 90+4' MU menang 2-0. Juara! Champiooooons! Semua orang berdiri, yang di depan ngidupin api flare dan kembang api sambil neriakin ole-ole dan yel-yel ala MU. Glory-glory Man United. Gitu terus sampe bagi medali, ngangkat piala dan akhirnya layar dimatiin. Bubar.

Sebelum pulang, pas tau kalo ada yang jual baju komunitas aku langsung beli. Lumayan buat seru-seruan dan kenang-kenangan selama di sini. Abis beli, langsung dipake sampe rumah. Trus dibungkus lagi. Haha. Selama perjalanan balik di mobil niatnya mau tidur. Tapi pupus karena diajak ngobrol sepanjang jalan sama orang-orang Mesir. Nggak berhenti-berhenti pula ngomongya. Ada aja yang dibecandain. Khas Mesir banget susah diem.

Karena pas nyampe di Darrasah udah jam 12 lewat, janji buat nraktir makan temenku yang dipaksa ikut tadi harus ditunda besok. Dan tulisan ini selesai diketik nggak lama setelah menunaikan janji itu di rumah makan Indonesia tepat di bawah rumahku. Fiuh.

Begitulah cerita kemarin.


Sabtu, 06 Mei 2017

Rumah Baru


Kairo, 05 Mei 2017.

Aku mulai nulis ini pas banget setelah ngabisin satu mangkok indomie rasa soto dengan satu telur mata sapi. Ditulis di kamar lantai 3, di atas kasur sambil senderan berdua dengan bantal. Ciee sender-senderan. Hush. Ini akan jadi sore hari yang cerah kalo aja punggungku nggak lagi pegel.
Oh ya, aku punya beberapa kabar.

Pertama, KAMI PINDAH RUMAH. Bukan karena kami diusir empunya rumah, bukan. Itu karena kami (anak-anak komunitas Rumah Syariah tingkat 2 yang banin) udah selesai belajar di sana selama 2 tahun ini. Karena emang Rumah Syariah program belajarnya cuma 2 tahun, berarti setelah penutupan kegiatan bulan lalu kami udah resmi dinyatain tamat. Nah, karena udah tamat berarti rumah yang kami tempati sekarang --kami sering nyebutnya Aspus (Asrama Pusat)-- akan diisi sama anak-anak Rumah Syariah yang sekarang akan naik tingkat 2. So, kami harus nyari rumah baru.

Begitu.

Jadilah beberapa bulan ini kami --aku nggak ikut sih-- udah sibuk nyari-nyari info rumah yang letaknya masih di sekitaran sini. Setelah banyak rumah yang ditanya dan dicek, akhirnya kami dapet juga rumah yang kayaknya pas untuk jadi persinggahan berikutnya dan juga masih berada di sekitaran kampus.

Karena sebulan kemaren aku jarang pulang ke rumah di Darrasah, aku baru ngeliat langsung rumah baru kami 2 hari kemaren. Dan ternyata.. rumahnya bagus, men! Aku langsung suka. Oh ya, rumah yang aku maksud di sini tuh flat ya. Kalo di sini biasanya disebut dengan sya'ah. Bukan rumah yang bentuknya satu-satu kayak di Indonesia. Seneng aja di sini nyebutnya rumah. Jadi dalam satu gedung tinggi itu ada beberapa flat. 

Flat baru kami ada di lantai 4 dari 6 lantai yang ada --lantai bawah nggak diitung. Ini lumayan susah buat naik-turun sebenernya. Tapi yang lumayan enak, gedung kami (nyebutnya 'imarah) letaknya pas di atas rumah makan Indonesia. Yow! Jadi kalo lagi laper dan kebetulan yang jadwal masak lagi kosong bisa langsung cus turun ke bawah. Biasanya juga di rumah makan itu ada siaran sepak bolanya. Jadi nggak perlu lagi nonton di kafe Mesir yang bakal bikin sesak dada dengan kepulan asap sisha-nya.

Lokasi flat baru juga lumayan deket dengan pasar sayur.  Jadi kalo mau belanja untuk piket masak nggak perlu jalan jauh lagi. Di selurusan jalan sebelum masuk gang juga ada 2 toko penjual roti dan banyak lagi jualan-jualan makanan khas mesir kayak kusharie, ruz bil basal, dll. Pokoknya urusan makan, aman.

Flat kami punya 3 kamar, 1 sholah (aula), 1 kamar mandi --ada bath tubnya euy, dan 1 dapur kecil. Karena kami tinggal ber-8 jadi per-kamar diisi 2 / 3 orang. Trus karena kamarku agak besar jadi kami ber-3 satu kamar. Sayangnya rumah ini nggak punya balkon kayak di rumah lama yang langsung menyuguhkan pemandangan bagian belakang Azhar Park. Jadi salah satu favoritku di gedung ini itu atapnya. Karena 'imarah ini lumayan tinggi --6 tingkat, pemandangan dari atap lumayan memuaskan. Saat udah di atas kita bisa langsung ngeliat Masjid al-Azhar di sisi kirinya dan Masjid Ali Pasha (Masjid bergaya Turki yang mirip Hagia Sophia) di sisi kanan. Udaranya juga sejuk. Angin sepoi-sepoi gitu.

Nah, karena tanggal 1 kemaren kami udah transaksi sama tuan rumahnya --udah bayar ta'minijar-- maka kami udah dibolehin buat ngangkat barang ke dalam rumah. Dan semalem akhirnya kami pindahan. Semua barang udah di-packing dan mobil naql udah standby depan 'imarah rumah lama.

Saat packing di rumah lama
Nggak disangka ternyata barang-barang kami banyak banget. Kami cuma ber-8 yang mau pindah tapi barang yang mau dibawa bisa buat mobil pick up --yang kami sewa-- 3x bolak-balik saking banyaknya. Barang yang paling banyak itu kitab-kitab. Sekali perjalanan kurang buat bawa kitabnya doang.

Singkatnya, seluruh barang pun udah sampe di depan 'imarah baru kami. Berhubung barang yang mau di bawa ke atas banyak banget dan berat-berat, kami pun nyusun formasi untuk dibuat eftafet. Jadi sambut-menyambut barang gitu biar lebih memudahkan. Aku kebagian dari lantai 2 ke 2 setengah (karena setiap lantai punya 2 cabang tangga).

Semua berjalan lancar sampe udah hampir sejam-an ngangkat-ngangkatnya, kaki jadi pegel banget karena naik-turun tangga sambil bawa barang berat. Kami pun sampe perlu beberapa kali ngambil jeda istirahat. Akhirnya seluruh kitab udah dibawa semua dan nyisain 2 lemari kayu. Fuh. Oke, dilanjutin biar sekalian capeknya.

Dan proses pindahan yang dimulai dari abis maghrib ini pun selesai saat udah mau masuk pukul 11 malem. Lumayan lama ternyata. Saking lamanya, aku punya kabar buruk. Pertandingan semi-final MU lawan Celta Vigo udah abis. Argh. Padahal awalnya aku kira pindahan ini cukup sampe jam 9 doang dan bisa ngeliat kick-off pertandingan di rumah makan Indonesia yang deket rumah baru. Jadi selama jeda istirahat ngangkat-ngangkat tadi aku bolak-balik ngecek live score di hape buat mastiin kalo MU baik-baik aja.

Dan alhamdulillahnya MU menang 1-0. Yess. Golnya indah pula. Tendangan free kick Rashford si bocah yang baru 19 tahun itu sukses nipu Alvarez. Wow.

Setelah tenang ngeliat hasil di live score, kami pun balik ke rumah lama buat makan. Menu malem ini ayam, beli di mat'am mesir. Terlalu capek kalo mau masak sendiri. Lagian sekali-kali manjain diri juga perlu, kan. Hah.

Abis makan, sebagian teman-teman balik ke rumah baru buat langsung tidur di sana. Aku milih masih di rumah lama. Soalnya masih lumayan banyak juga barang-barangku yang tercecer di kamar. Jadi aku masih tidur di sini dengan 2 teman lainnya juga --kalo sendiri nggak mau juga aku. Haha.

Ya udah itu aja cerita kali ini.
Oh iya, 1 lagi kabar buruknya. Tepat 1 lantai di bawah flat kami ada tetangga yang hobi muter musik kenceng-kenceng sampe tengah malem. Orangnya juga kesannya kurang baik. Kami sempet berpapasan pas lagi mindahin barang. Yang tinggal sih cewek-cewek. Tapi kayak aneh gitu. Ah, ya udahlah. Semoga cuma salah paham di awal aja. Lama-lama mungkin bakal terbiasa.

1 lagi, sampe sekarang punggungku masih kerasa pegel. Pake banget malah. Argh.

Oke, itu aja. Sampai ketemu di ceritaku selanjutnya. *Jangan bosen.

.
.
NB: 
Makin deket ujian minat buat nulis makin ninggi. Ini udah tulisan yang ke-3 dalam sebulan ini. Tumben-tumbenan banget. Nulis dijadiin alesan biar stop belajar, Jadi mohon doanya ya semoga belajarku nggak keteteran dan ujianku bakal baik-baik aja.


 
biz.