Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2021

Here I Am



2021. Di momen awal tahun baru gini, biasanya banyak orang yang akan memikirkan kembali resolusinya untuk satu tahun ke depan. Mulai dari merencanakan hal-hal seru, menyusun list perjalanan ke tempat asing, planning keuangan untuk target masa depan, atau sekedar melanjutkan catatan tahun lalu yang belum sempat terealisasi.

Aku pun begitu. 

Tapi sebelumnya, mau lihat ke belakang sebentar.

Di arsip tulisan 2020, atau bahkan lebih lama sebelum itu saat masih kuliah S1. Sebagai mahasiswa yang jiwa adventure-nya masih menggebu-gebu, aku punya keinginan lanjut ke jurusan yang nggak linier dengan ilmu agama, S2 di Eropa. Untuk mengejar passion yang mungkin kurang pas kalo dicari di negeri Timur Tengah.

Jadi setelah lulus pada 2019 lalu, udah mulai nyusun rencana untuk bisa berangkat ke sana. Awal tahunnya pulang ke Indonesia, beberapa bulan kemudian memantapkan bahasa di Pare, lanjut tes TOEFL/IELTS di Ibu kota, trus daftar kuliah ke luar negeri.

Indah, ya. Kalau emang bisa semulus itu.

Nyatanya nggak.

Aku pamit 'alatul dari Mesir di pertengahan Februari, mampir sebentar ke Saudi selama sebulan untuk umrah. Pas pertengahan maret mau bertolak ke Indonesia, pandemi sudah menggila. Aku bahkan tertahan di bandara Jeddah selama 3 hari karna penerbangan sudah dibatasi. Situasinya sangat rumit saat itu (mungkin kapan-kapan akan kutulis juga detail ceritanya).

Yups, seperti yang kita tau, Corona berhasil merusak banyak hal. Termasuk merubah 180o resolusi orang-orang yang mengira tahun ini akan diisi dengan wishlist yang tertulis… namun justru beralih ke; terpaksa isolasi diri & survive sehari-hari. 

Kita termasuk yang ‘beruntung’ belum mati.

Empat bulan dari Maret aku nggak ke mana-mana. Nggak keluar Bengkulu sama sekali. Alhamdulillah punya tabungan, uangnya kupakai untuk beli alat gambar digital, kemudian buka jasa ilustrasi. Lumayan banget untuk ngisi kekosongan dan memenuhi hasrat hobi. Jadi selama waktu berbulan-bulan pasca tamat tadi masih ada kegiatan, walau hanya dikerjakan di rumah.

Berita di bulan Juli, belum banyak perkembangan tentang menurunnya angka kematian sebab wabah ini. Tapi aku pun nggak bisa gitu terus-terusan ngurung diri. Nggak bisa sok idealis juga untuk maksa lanjut ke luar negeri. Jadi orang tua nyaranin untuk ambil pasca sarjana di Bengkulu ini dulu. Fuh. Bismillah, akhirnya bulan itu aku ikut ujian masuk IAIN Bengkulu, dan lulus.

Mulai bulan depannya, Agustus, aku pun ninggalin Curup, pindah ke kota. Tinggal di pondok pesantren yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kampus. Dari awal daftar kuliah aku udah mutusin, kalo aku nggak bakal ngekos pas pindah ke kota. Banyak pertimbangan, salah satunya untuk menjaga lingkungan. Yah, aku ini tipe yang kalo nggak tertuntut keadaan, agak susah untuk bergerak. Jadi, kalau tinggal di kos, besar kemungkinan bakal jarang keluar kamar, banyakan tidurnya, atau banyakan mainnya. Haha.

Beruntung ayah ada kenalan ustadz yang punya pesantren, jadi aku bisa kuliah sambil ngajar di sana. Dan ternyata mudir itu kakak seniorku di Pondok Sakatiga. Cuma kita nggak sempat ketemu pas sekolah, karna di tahun aku masuk, beliau satu tahun sebelumnya sudah tamat.

So, here I am. Keseharianku sekarang bisa dibilang hampir full mengabdikan diri ke pesantren. Karna kuliah semester ini masih dilaksanain online, dan hanya jum'at-sabtu.

Tapi hal yang akhirnya kusyukuri sekarang, hikmah dari kejadian ini. Walau aku belum bisa meneruskan niat ke luar negeri dan hanya menetap di kota yang nggak jauh dari tempat asal, namun aku jadi bisa lebih mengenal daerah ini. Jujur, karna sejak SD sudah merantau ke luar provinsi, terutama Sumatera Selatan, −pulang ke rumah hanya saat hari libur. Aku jadi lebih banyak mengenal Palembang daripada Bengkulu. Bahkan bahasa pun sering tercampur karna udah susah ngebedainnya.

Aku lebih mengenal seluk beluk daerah dan budaya Sum-Sel daripada Bengkulu. Teman-teman di Bengkulu, selain keluarga dan yang masih di Mesir, mungkin bisa dihitung jari. Karna emang sekuper itu. Aku kalo pulang jarang bergaul ke luar-luar rumah, anaknya sok introver banget emang.  

Jadi sekarang aku pun bersyukur bisa menetap lama di kota ini. Bisa lebih mengenal suasana dan dapat teman-teman baru yang sedaerah. Karna mau nggak mau, kampung halaman, tempat aku pulang ada di sini. Area dakwah yang pertama kali harus aku jelajahi pun seharusnya di sini. Kalo seluruh putra daerah yang merantau nggak pulang ke tempat asalnya, lalu dengan siapa lagi tempat itu berharap mendapat cakrawala ilmu-ilmu lain yang ada di luar. Pengetahuan dunia ini terlalu luas kalau hanya untuk disimpan sendiri tanpa disharing dengan orang dan lingkungan terdekat.

Hm. Mungkin itu dulu ceritaku di awal tahun ini.

Sebagai resolusi 2021, semoga bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi dalam segala hal. Pergaulan, keilmuannya, kematangan usia, pengalaman dsbg. Lalu kalau memang sudah tepat waktunya, semoga segera bertemu seseorang yang bisa diajak jalan beriringan untuk berjuang bersama. Haha. Aamiin..

Semoga juga, keinginan untuk menjelajah ke negeri luar ini belum pupus, tetap membara, dan bisa direalisasikan di waktu mendatang. Yaa Rabb..

.

Kalo resolusimu?


Minggu, 24 Maret 2019

Solo atau Surakarta?



Jauh hari sebelum balik libur musim panas ke Indonesia --bulan juli lalu, aku dah ngerencanain kalo pulang nanti mesti main ke Jawa. Cuma karna nggak ada keluarga di sana, harus nyari temen jalan dulu. Haha. Jadi nyoba bikin snapgram, bilang kalo aku mau main ke Jawa tapi nggak tau mau ke mana dan sama siapa. Beberapa temen reply nawarin destinasi-destinasi yang bagus, tapi sayangnya mereka belum bisa nemenin. Temen di Jogja juga bales, cuma karna dua tahun lalu udah main ke sana --walau belum puas-- maunya nyicip daerah lain dulu. Beruntung nggak lama kemudian ada kakak senior di pondok dulu yang ngeDM ngajak ke Solo. Namanya kak Lekat. Dia dulu kuliah di sekolah tinggi pondok pas aku masih Aliyah. Momen kami yang paling aku inget itu pas pernah dia nganterin aku pulang di pertengahan semester kelas 3 aliyah lalu, diboncengin motor sampe stasiun Kertapati Palembang.

Nggak pake lama aku langsung nge-iyain dan auto browsing seputar destinasi apa aja yang bagus di Solo.


Jam 12 siang tanggal 20 Oktober 2018 --10 hari sebelum balik lagi ke Mesir, start berangkat naik kereta dari Pasar Senen ke Stasiun Purwosari Solo. Sengaja lebih milih kereta daripada bis atau pesawat mau buat nostalgia-an. Dulu pas kelas 5-6 SD di Lampung, aku sering bolak-balik ke Bengkulu naik kereta jurusan Tanjung Karang - Kertapati - Lubuk Linggau.

Sayangnya karna kurang peka, baru keingetan kalo harusnya udah mesen tiket kereta dari jauh-jauh hari, menjelang hari H tiket yang tersisa cuma gerbong ekonomi dengan harga eksekutif --itupun seat sisa dikit. Hah, sial. Sekalian biar ntar nggak keteteran, aku pun langung mesen tiket return.

Nama kereta yang membawaku ke Solo adalah Jaka Tingkir, legenda Indonesia nih. Setelah hampir 10 jam perjalanan, pukul 21.45 akhirnya sampe dengan nyaman. Nggak lama setelah itu kak Lekat ngasih tau kalo dia udah di depan stasiun. Ini pertemuan pertama kami setelah terakhir 4 tahun lalu. Wah, dia makin gemuk ternyata. Jadi kalo dipikir-pikir, selepas tamat Aliyah semua orang berubah jadi gemuk selain aku. Absurd. 

Source: Kompasiana.com
Jalanan sekitar stasiun Purwosari masih ramai. Tapi suasana khas kotanya belum begitu terasa, mungkin karna udah malem.

Oh ya, selama di Solo aku bakal nginep di tempat kak Lekat tinggal. Dari atas motor sambil menuju rumahnya, kak Lekat nyeritain kenapa dia sekarang tinggal di sini. Jadi sehabis tamat sarjana di pondok 2 tahun lalu, dia diajak sama alumni pondok yang punya pesantren kecil di tengah kota ini. Tapi lebih tepatnya sih kayak Rumah Tahfidz. Isinya anak-anak yang mau ngehapal Qur'an, dan jumlahnya --kalo nggak salah-- ada 4 rumah. Satu untuk santri putra yang udah tamat aliyah, satu untuk santri putra yang masih kecil (SD), satu untuk santri putra yang SMP dan satu lagi untuk santri putri. Hampir semua penghuni rumah itu dari Palembang. Nah kak Lekat punya tugas sebagai pengawas rumah yang pertama.

Pertama-tama, malam itu aku diajak ke rumah yang pusat, tempat mudirnya sering mampir. Namanya Ustadz Irham. Di awal cerita, beliau bilang lulus pondok tahun 2001. Beliau seangkatan dengan guru MTs-ku dan ternyata alumni S1 Syria. Obrolan jadi menarik karna kami sama-sama punya background pendidikan di Timur Tengah. Kebanyakan kami bertukar cerita antara Mesir dan negara beribukota Damaskus itu. Nggak kerasa hampir 2 jam ngobrol, kami izin pamit buat istirahat.

Sampe di rumah satunya lagi --tempat kak Lekat tinggal, aku naro barang-barang sebentar lalu ngajak makan. Soalnya dari siang baru makan sekali. Tapi karna udah tengah malem, nggak banyak warung makan yang masih buka di sekitar sana. Kami masuk ke rumah makan kecil di pinggir jalan, lalu nggak pake lama satu piring mie goreng spesial dan segelas teh hangat siap dinikmati untuk malam pertama di Solo.

***

Hari pertama, rencana mau ikut Car Free Day pagi itu batal. Badanku belum bisa move on dari kasur. Jadilah cuma nyantai-nyantai aja di asrama --salah satu hal yang kusesali. Kebetulan jam 9 paginya ada futsal-an antar anak rumah kami (yang udah tamat aliyah) dengan para ustadz. Itu jadi momen yang pas buat kenalan secara nggak langsung. Aku ikut main, tapi cuma satu babak. Masih capek --alesannya. Haha. Lalu sehabis zuhur sampe asar diajak ke rumah yang satunya, tempat anak-anak yang SMP. Di sana ketemu lagi dengan beberapa ustadz yang tadi main futsal.

Jalan-jalan hari ini tepatnya baru dimulai abis asar. Aku diajak keliling-keliling naik motor, dimulai dari Keraton Solo, melintasi jalan Slamet Riyadi yang panjang. Jalan ini lah yang biasanya dijadiin lokasi Car Free Day dan merupakan jalan utama kota Solo. Jalannya luas dan bagus. Kerennya di beberapa titik terlihat ada rel kereta yang katanya sih itu dijadiin jalur kereta pariwisata tengah kota. Sayang sampe pulang nanti aku nggak dapet kesempatan buat naik walau sekali karena operasinya hanya di waktu-waktu tertentu.

Source: Colomadu.com
Kami cuma sebentar di keraton. Berapa kali ambil dokumentasi diri abis tu langsung menuju kampung wisata batik Kauman. Jalan masuk lokasinya lewat gang kecil  yang ditandai dengan gapura. Rumah-rumah kecil terlihat berjejer padat. Ternyata kak Lekat juga baru pertama kali masuk ke dalam. Entah kami kesorean atau kenapa, sore itu hanya beberapa toko yang buka. Aku nggak sampe masuk ke toko karna yang terlihat sedang buka cuma toko pakaian biasa. Padahal niatku mau liat pameran orang-orang yang sedang buat batik. Jadi kami cuma menelusuri sepintas gang-gangnya lalu keluar. Sebalik dari Solo aku baru tau ternyata kampung batik yang populer dijadikan spot foto-foto bagus itu di kampung satunya, Kampung Laweyan.

Kami lanjut ngelewatin pasar-pasar yang ada di Solo. Ada Pasar Gede dan Pasar Klewer. Dinamakan Klewer katanya karna dulu para pedagang menawarkan dagangannya dengan disampirkan di bahu, sehingga tampak berkeleweran di pinggir jalan. Sekarang, pasar ini jadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Solo. Rata-rata yang dijual di sini adalah pakaian, mulai dari batik tradisional sampe baju-baju modern. Sedangkan Pasar Gede diberi nama seperti itu karna mempunyai atap yang besar. Pasar ini merupakan pasar yang paling megah di Solo. Arsitektur bangunannya perpaduan antara Jawa-Belanda. Selain itu kami juga ngelewatin kawasan kuliner Gladag Langen Bogan (Galabo). Tapi sayangnya karna masih sore, belum banyak yang buka jajanan. Mereka memang baru buka sekitar dari jam 5 sore sampai tengah malam.

Source: IDN Times
Sekitar satu jam sebelum maghrib, kami sempetin pergi ke Universitas Sebelas Maret --sering disingkat jadi UNS. Yang buat aku kepikiran, kenapa singkatan kampusnya bukan USM sesuai kepanjangan? Pertanyaan itu aku jadiin snapgram dan akhirnya dijawab sama temen asal Solo. Katanya itu disingkat UNS karena asli namanya adalah Universitas Negeri Surakarta. Aku baru ngeh. Oh ya satu lagi, jujur aku baru tau ternyata Surakarta adalah nama lainnya Solo. Pertama tau karna saat nyari nama Solo di Google Maps nggak ketemu-ketemu. Ternyata setelah dicari tau, nama daerah ini emang aslinya adalah Surakarta. Sura dalam bahasa Jawa maknanya "keberanian", Karta berarti "makmur". Dari berbagai info yang aku telusurin, Surakarta umumnya dipakai untuk situasi formal seperti nama-nama kantor pemerintahan. Sedangkan nama Sala/Solo lebih sering digunain dalam keseharian atau obrolan umum makanya nama itulah yang jadi lebih melekat --selain juga karna pelafalannya yang lebih singkat dan mudah.

Kampus UNS ini gede banget. Dan yang jadi perhatian itu suasananya yang asri, banyak pepohonan sana-sini. Pokoknya adem. Tempatnya bersih juga. Wah, kayaknya betah kalo ngampus di sini. Pilihan lokasi buat nongkrongnya ada banyak. Sore itu juga tampak beberapa mahasiswa-mahasiswi yang lagi joging. Kami stop di depan gedung besar yang merupakan kantor pusat universitas. Di halamannya yang luas ada tulisan nama kampus yang besar. Cocok banget buat jadi tempat dokumentasi. Malah sore itu kebetulan lagi ada sesi pemotretan mahasiswa berseragam wisuda.

Langit mulai gelap. Kami beranjak keluar.
Karna Solo juga terkenal dengan produksi susunya, kak Lekat coba ngajak aku ke salah satu toko susu yang dia pernah mampir dan diakuinya itu susu terenak yang pernah dia coba di Solo. Namanya susu Yasmin. Kami sempet muter-muter lama karna lupa lokasinya di mana, ternyata tempatnya lagi tutup. Haha nasib. Langit dah merah jelas, kami balik ke rumah dan maghriban di sana.

Abis maghrib aku ngajak nyari makan malem di luar. Ntah kenapa lagi pengen banget makan sate. Kebetulan kak Lekat tau mana tempat sate yang enak tempat dia pernah makan. Sayangnya terulang  lagi kejadian yang sama dengan susu Yasmin tadi. Malah lebih parah. Kak Lekat lupa tempatnya di mana bahkan lupa nama warungnya apa. Hampir sepanjang maghrib sampe isya kami muter-muter nggak karuan dan akhirnya nyerah, lalu mutusin buat masuk ke warung sate mana aja yang terlihat. Pilihan jatuh ke warung tenda pinggir jalan sederhana. Yang menarik, di dalamnya ada TV dan kebetulan sedang ada siaran timnas Indonesia U-19 lawan Qatar U-19. Pas banget kami datang saat masih babak pertama dan Indonesia belum mencetak gol sama sekali. Awal babak kedua Indonesia sudah ketinggalan 5-1. Sate hangat yang kami santap mendadak dingin. Kebantai, men! Untungnya sejak Rivaldo Ferre masuk lapangan, permainan mulai keliatan menarik bahkan hampir comeback. Walau kalah 6-5, tapi Ferre cetak hattrick dengan gol-gol yang spektakuler. Tontonan yang menarik. Haha malah bahas bola.

Pulang dari sana aku langsung istirahat dengan bawaan sedikit kesel karena jaringan kartu Tri mendadak bermasalah. Padahal kan mau update foto-foto.

***

Pagi hari ke-dua, kejadian tidur abis subuh terulang lagi. Rencana mau joging santai di stadion Manahan Solo batal. Tapi saat aku baca berita, ternyata stadionnya sedang direnovasi malah sejak awal tahun. Sebelum zuhur kami ke rumah tahfidz yang anak SD. Biasa disebut rumah Badran Dua. Di dalem kantornya aku kenalan dengan Ust. Baihaqi. Beliau teman satu angkatannya Ust. Irham pas di Syria dulu. Kami ngobrol sampe zuhur. Ceritanya, beliau sepulang S1 Syria langsung lanjut S2 di Brunei. Keren emang. Sehabis zuhur sampe asar kami ke rumah satunya lagi tempat anak SMP. Enaknya di sana ada wifi. Aku pikir abis asar kami bakal jalan, tapi ternyata nggak bisa karna mendadak ada panggilan dari Ust. Irham buat ikut kumpul di rumah tempat aku nginep. Wah kapan jalan-jalannya nih. Aku pengen nolak tapi  ya nggak enakan.

Jadi ceritanya ada salah satu santri yang ngotot mau pulang ke Palembang karna dah nggak betah. Ust. Irham sengaja ngumpulin seluruh santri rumah itu buat ngasih motivasi ke mereka tentang pentingnya sabar dalam ngehapal Qur'an. Aku mendadak jadi contoh sore itu karena kebetulan sebulan sebelumnya baru abis ngambil karantina tahfidz di pondok kecil di Tangsel. Hadeh. Motivasi sore itu berlangsung lama. Padahal rencanaku sore itu mau main ke Gramedia yang sempat aku lihat pas jalan kemarin. Gedungnya bergaya jawa, beda dengan Gramedia yang ada di kota lain.

Walau sedikit ngeluh selama ngikutin kumpul motivasi tadi, hal yang aku syukuri adalah aku jadi sedikit kenal dengan santri rumah itu. Soalnya dari awal dateng belum ada ngobrol dengan mereka sama sekali karena sibuk jalan ke luar dan pulang pas udah malem. Berhubung yang tinggal di rumah itu adalah santri-santri yang udah tamat aliyah di pondok --yang sama denganku dulu, ternyata beberapa dari mereka yang mondok nya dari MTs ada yang saling kenal.

Abis maghrib kami balik ke rumah Badran Dua. Di sana lagi pesta jagung bakar. Ntah berapa karung jagung yang dibeli. Katanya kebetulan tadi lagi dijual murah. Nggak ada alasan buat nolak gabung bakar-bakar.

Jadilah jalan-jalan hari ini baru dimulai abis isya. Aku ngajak jalan ke Taman Sriwedari. Di taman ini ada Gedung Wayang Orang yang setiap malamnya menampilkan pertunjukan seni wayang orang. Tapi kami nggak masuk, cuma mau foto-foto. Sekitar 100 meter di sebelah kanannya ada tulisan I LOVE SOLO gede. Cocok jadi tempat foto yang nandain kita pernah mampir ke sini. Oh ya, kalo dipikir dikit, rasanya aku belum nemu semacam trademark kota ini tuh apa. Kalo Jogja kan terkenal dengan tugunya atau Palembang dengan Ampera-nya. Paling yang aku lihat cuma di ujung jalan panjang Slamet Riyadi ada patung tokoh pahlawan nasional tersebut yang berdiri tegap. Mungkin itu ya.

Source: traveltodayindonesia.com
Puas foto di sana, sambil jalan pulang kami mampir ke penjual Wedang Ronde yang buka lapak di pinggir jalan. Semenjak pertama kali nyicip minuman ini di Jogja, aku jadi ketagihan dan memang udah niatin diri buat nyoba itu lagi kalo ke daerah jawa. Bagian yang paling enak adalah bola kecil putih di dalamnya. Hm..

***
Pagi hari ketiga di Solo, aku nemenin santri yang udah nggak betah kemaren itu buat beli tiket pulang ke Palembang. Niat dia udah bulat walau kemaren udah dimotivasi lama-lama. Karena tiketnya udah dipesen online, jadi pagi itu aku cuma nemenin buat bayar di ATM. Sengaja aku yang nemenin karna mau sekalian keliling santai juga. Selesai urusan pembayaran, ternyata ATM yang kami singgahi nggak jauh dari lokasi kampus baru Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kemaren aku sempet ngeliat sekilas dari luar dan gedung barunya beneran bagus. Jadi sebelum balik rumah, aku ngajak santri tadi buat mampir foto-foto dulu di sana.

Dan bener aja, kampus ini keren banget. Arsitekturnya mantep, di sampingnya juga ada danau kecil dan udah ditata secantik mungkin. Bisa dibilang banyak banget sudut-sudut yang cakep untuk dijadiin background. Cuma sayangnya kami nggak bisa lama-lama karna udah ditelpon buat pulang.


Ternyata disuruh pulang cepet karna kak Lekat mau ngajak berenang bareng ustad-ustad rumah lain. Kami berangkat sehabis sarapan pagi. Nama tempat yang kami tuju adalah Mata Air Cokro di Klaten. Cukup jauh jalan yang ditempuh, tapi nggak kerasa karna hampir sepanjang jalan kiri-kanannya dihiasi sawah-sawah hijau. Bener-bener indah. Padahal sejauh kami keliling kemaren belum ada ngelewatin komplek persawahan sama sekali. Sebenernya suasana hijau-hijau kayak gini yang sering bikin kangen Indonesia kalo udah balik ke Mesir nanti.

Sampe di lokasi, di sana banyak banget pohon rindang. Bentuk kolamnya lurus memanjang, dari pangkal mata air sampai di bawahnya ada bendungan besar. Jangan tanya airnya sebening apa karna kita lagi di sumber mata air langsung. Dan pastinya dingin banget. Di sepanjang kolam banyak gerobak-gerobak kecil yang menjajakan makanan-makanan ringan dan gorengan. Jadi sehabis berenang, kami sibuk menyantap gorengan hangat dan segelas teh panas. Indah kali lah momen ini.

Saat keluar, aku kira kami bakal langsung pulang. Ternyata yang lain masih mau berenang di tempat lain. Katanya di sana lebih seru lagi karna bisa foto-foto di bawah kolam. Nama tempatnya Umbul Ponggok dan lokasinya lebih jauh lagi. Kali ini aku nggak ikut berenang karna udah capek. Jadi saat yang lain sibuk di dalam air, aku cuma nyantai di tempat duduk pinggir kolam. Baru abis zuhur kami bener-bener pulang dan sempet mampir sebentar buat beli es dogan. Lalu sisa hari ini aku habiskan di rumah.

***
25 Oktober, hari terakhir di Solo.
Sore nanti aku udah harus ke stasiun. Jadi jadwal pagi ini adalah beli oleh-oleh. Tapi sebelum belanja ke Pasar Klewer, aku ngajak buat foto-foto lagi bentar di halaman Keraton. Kebetulan pagi itu keraton belum terlalu rame jadi bisa lebih mudah untuk diexplore. Di Klewer aku beli beberapa batik dan kaos khas Solo buat keponakan yang baru lahir. Baru setelahnya kami ke pusat oleh-oleh jajanan. Karna emang Solo dan Jogja itu nggak jauh dan banyak persamaannya, jadi di toko ini banyak jajanan yang berasal dari Jogja. Salah satu yang kubeli adalah kopi Jogja, bubuk minuman wedang uwuh dan beras kencur. Biar bisa dinikmati kalo udah pulang ke Mesir.

Jam 4 sore aku udah di stasiun setelah sebelumnya sempet mampir buat beli nasi dan cemilan dulu. Karna perjalanan kan lama sampe 10 jam. Di awal pergi kemaren aku nggak kepikiran beli makanan berat dan akhirnya terpaksa beli di kantin kereta yang harganya mahal tapi rasa standar. Yah daripada kelaparan, kan. Yang nganter pulang sore ini ada kak Lekat dan Ustad Baihaqi. Setelah ambil tiket aku pamit dan masuk ke dalam. Nggak lupa juga bilang terima kasih banyak atas kesediaan, keramahan dan rela direpotin selama di Solo. 


Sedihnya, kereta --namanya Gaya Baru Malam-- yang akan membawa kami telat datang hampir 2 jam. Jadi yang seharusnya sampe di Pasar Senen pukul 2 pagi harus molor sampe menjelang Subuh. Tapi nggak papa juga sih. Toh aku mesti nunggu di stasiunnya sampe bakda subuh, karna dari Senen aku masih harus nyambung lagi naik KRL ke Tanah Abang lalu Pondok Ranji dekat tempat abangku tinggal. Loket KRL baru buka abis subuh.

Jadi, begitulah cerita jalan-jalannya. Haha panjang juga. Aku sengaja nulis agak rinci biar kapan-kapan saat dibaca lagi memori perjalanan ini bisa diingat ulang secara detail. Dan intinya 4 hari 3 malam di Solo sangat mengesankan. Sayangnya di waktu yang terbatas itu masih banyak sudut indah kota ini yang belum aku jelajah. Moga di lain kesempatan bisa main ke sini lagi. Trus kalo dikasih umur panjang dan rezeki, daerah Jawa selanjutnya yang pengen banget aku kunjungin adalah Kota Apel, Malang. Moga kesampaian deh, aamiin..

Pertanyaan, kalian pernah ke Solo dan Malang? Atau malah tinggal di sana?

Nanti bagi-bagi juga ya ceritanya atau sharing destinasi mana yang paling keren buat ditelusuri.

Selasa, 06 November 2018

Satu Tahun Terakhir



Libur musim panas. Pertengahan Juli sampai akhir Oktober kemarin akhirnya bisa menghirup ulang udara Indonesia --setelah biasanya hidup bersama polusi ibu kota Negeri Seribu Menara. Selama pulang, nggak banyak yang aku lakuin selain bercengkrama bareng keluarga, nostalgia dengan teman-teman lama dan juga mengunjungi tempat baru atau yang dulu pernah disinggah. Secara tampilan umum rasanya nggak banyak yang berubah. Tapi soal cerita, banyak hal yang tak lagi sama. Seperti sepupu-sepupu yang mulai dewasa juga kawan-kawan yang sudah lulus dan mendapat kerja. Semua hal bergerak maju dan aku sering merasa kecil karena belum kunjung wisuda. Tapi nggak apa-apa lah. Optimismeku selama ini; semua memiliki waktunya. Ya, kan?

2018, tahun yang paling nggak produktif untuk blog ini. Belum ada satu pun tulisan yang diposting. Tapi tentu aja bukan berarti nggak ada hal dalam setahun terakhir ini yang nggak bisa diadaptasi jadi tulisan. Ini baru aja mau cerita.

Kalo dirunut lebih mundur dikit, peristiwa tahun lalu yang paling berkesan adalah saat visa hajiku keluar tepat di hari ulang tahun dan malem itu juga sudah berdiri di Saudi. Perjuangan haji yang sangat cepat berlangsung. Padahal sebelumnya nggak punya ekspektasi sama sekali bisa berangkat ke Tanah Suci di umur 21. Bener-bener kado terbaik yang pernah dikasih. Karena beneran serasa istimewa, hampir tiap hari aku nyatet hal-hal penting --dan nggaknya-- tentang keseharian selama di sana. Bahkan udah niat mau dishare di blog dengan judul "Diari Haji". Tapi nggak jadi-jadi sampe sekarang. Haha. Nah ini baru ekspektasi.

Setahun terakhir secara aktivitas aku disibukkan dengan kerjaan sebagai wakil ketua organisasi kedaerahan anak SumSel di Mesir (sering disingkat Kemass). Jika bicara persentase, mungkin sampe 75% waktu yang disisihkan buat mikirin dan ngejalanin kegiatan-kegiatan organisasi ini. Eh kalo lebih dari 50% gini namanya bukan sisihan ya. Serasa prioritas. Tapi emang gitu realitanya. Sebelum itu, jadi Waket Kemass nggak pernah masuk ke dalam agenda utamaku selama studi di Mesir. Apalagi saat dulu pernah ngejabat Sekretaris Kemass di tahun pertama aku langsung anjlok secara akademis, yang mana itu jadi titik penyesalan terbesar selama di sini. Jadi saat tawaran jadi Waket itu datang aku mikir dua kali dan nanya sama ortu. Lalu singkatnya aku beneran duduk di jabatan itu dan berhasil berjalan satu tahun lamanya --yang mana sangat menyita otak apalagi keringat, penuh intrik dan kritik, tapi melatih kedewasaan dan kesabaran. Satu periode kepengurusan singkat yang bisa kubilang (walau hanya berposisi wakil) merubah banyak sifatku, terutama dalam menilai dan bersikap. 

Alhamdulillahnya dengan perjuangan yang sedikit lebih sulit dengan adanya kesibukan di luar kuliah itu, tahun ini aku najah ke tingkat 4 kuliah. Yang menandakan tahun ini adalah satu tahun terakhir di Mesir (tentunya jika lulus nanti. Aamiin).

Dalam banyak situasi, jika sudah menjelang akhir waktu, penyesalan baru akan menghampiri. Begitupun sekarang. Aku jadi mikir panjang tentang apa aja yang sudah aku lakuin selama di Negeri Para Nabi ini. Hasil dari mikir itu nggak lain selain per-andai-an yang sia-sia.  Tapi aku pastiin itu bukan intinya. Hal yang terpenting itu menyusun ulang agenda dan berusaha mengejar hal-hal yang tertinggal biar di akhir nggak ada sesal lagi. Jadi, dari apa yang sudah aku rencanain, tahun terakhir ini harus jadi tahun penuh dengan belajar dan baca. Sebagaimana prioritas utama mahasiswa. Tambahannya, mengembangkan skill dan hobi selain itu, selagi bermanfaat. Karna belajar terus adalah sesuatu yang nggak mungkin --bagiku.

Catatan lain untuk satu tahun terakhir ini, melakukan pencarian jati diri dan konsistensi. Dua hal rumit yang belum ketemu dan bisa aku lakuin sampe sekarang. Lalu menata ulang planning ke depan, mau jadi apa, pergi ke mana, berdamping dengan siapa. Haha.

---
Kairo, 06/11



Selasa, 26 Desember 2017

Abang



“Kalian pernah ngerasain bahagia dan sedih bersamaan?”
____________________________________________

Aku punya kakak laki-laki –biasa kupanggil abang. Jarak kami lahir cuma 15 bulan. Aku dan abangku selalu sekolah di tempat yang sama dari TK sampe Aliyah --kami udah pindah sekolah ke 5 tempat. Ke mana abangku pindah aku juga ikut. Dan seperti yang kalian tau, pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain itu bukan hal yang mudah. Perlu mencari teman baru dan adaptasi ulang. Tapi seenggaknya itu bukan hal yang terlalu sulit untukku, karena kalau nggak ada teman baru pun selalu ada abang yang nemenin.

Layaknya dua saudara yang cuma beda umur setahun dan selalu bareng, pastinya kami nggak selalu akur. Beberapa kali ada berantemnya bahkan sampe ke tingkat yang agak ekstrim, pukul-pukulan. Ada sifat seorang kakak yang nggak mau diremehin adiknya, dan juga ada aku sang adik yang nggak mau dianggap kalah hebat dari kakaknya. Yah, mungkin itu salah satu dasar kami sering berantem.

Tapi gimana pun keadaannya, nantinya kami bisa akur lagi. Kembali layaknya kakak-adik.

Nggak terlalu banyak momen yang aku ingat pas TK dan SD selain kami sering pulang-pergi sekolah bareng berdua jalan kaki. Padahal sekolah lumayan jauh. Juga saat pergi ke les sekolah dan ngaji sore. Tapi kami selalu menikmati saat nemuin jalan-jalan pintas baru. Bahkan pernah waktu itu terpaksa ngelewatin kandang angsa –kalian tau sendiri gimana nggak bersahabatnya mereka dengan orang asing— sampe kami dikejar-kejar, yang kalo kami kalah cepet lari bisa kena cium congornya.

Pas masuk pesantren pertama kali di Lampung umur 9 tahun dulu, aku nggak pernah bisa bayangin gimana jadinya kalo nggak ada abang saat itu. Jauh dari orang tua, ketemu orang-orang baru yang belum bersahabat –yang aku masih ingat banget, baru beberapa hari di pondok makanan kami dicuri orang satu kamar. Pernah juga waktu itu aku dikata-katain kakak kelas yang lebih gede badannya, tapi akhirnya ada abang yang ngebelain bahkan sampe berantem dengan orang itu.

Saat MTs kami pindah pondok ke Palembang untuk pertama kalinya, nggak sesulit saat mondok pertama kali memang karena seenggaknya kami udah biasa jauh dari orang tua. Tapi kehidupan lingkungan pondoknya lebih sulit. Air susah, dan makanan sehari-hari yang enggak lebih enak daripada sebelumnya –bahkan dijatah. Namun bukan santri kan kalo cuma bisa ngeluh? Seingatku waktu itu kami pernah beli mie ekstra pedas di warung buat jadi tambahan lauk. Masak sendiri make air panas yang diambil di dapur lalu dimakan berdua. Nikmat.

Tahun berikutnya kami pindah ke pondok –masih di SumSel juga. Semua kerasa jauh lebih baik. Salah satunya karena pondok itu deket dengan rumah nenek, jadi kalo ada apa-apa bisa diurus. Pernah waktu itu aku demam, langsung diurus uwak (kakak ayah) dan bisa izin pulang sampe sembuh. Tapi di pondok ini kami nggak selalu bareng. Bahkan di tahun kedua kami udah beda asrama. Dan aku mulai nggak ada masalah walaupun kami pisah asrama. Tapi setiap aku ada masalah aku sering main ke kamarnya. Termasuk pas awal-awal dulu bingung belajar photoshop. Yah, salah satu hal yang bikin kami akrab itu karena emang kami punya banyak kesamaan hobi –mungkin efek dari ngelakuin banyak hal bareng. Dari sama-sama suka baca novel, komik, desain, dll. Ah, kecuali satu hal. Dia suka matematika –dan ahli— beda banget sama aku yang paling males dengan urusan yang ada sangkut pautnya dengan angka. Sampe pernah waktu itu di kelas Mtk aku dibilang sama guru “kamu ini beda banget dengan kakakmu”, karena emang saat itu keliatan banget aku kurang gairah pas belajar. Oh ya, abang itu juga kesayangan guru banget. Selain emang orangnya rajin, pinter juga. Dari kelas 1 Aliyah sampe kelas 3 selalu nyicip juara 1. Efek dari itu aku pun selalu jadi dibanding-bandingin guruku.

Sampe udah 4 tahun di pondok itu, abang pun lanjut kuliah di Jakarta. Aku sama ayah ikut nganter di bandara.

Pas aku kelas 3 aliyah akhirnya ada waktu satu tahun di mana aku sama abang nggak di satu tempat lagi. Aku masih di pondok dan abang udah kuliah. Satu tahun itu kami nggak ketemu kecuali pas liburan semester doang. Di akhir kelas 3 saat semua orang udah mikirin mau lanjut kuliah di mana, aku pun mantep milih buat nggak bakal lanjut kuliah di tempat yang sama dengan abang. So, jadilah aku di sini saat ini. Jauh dari Jakarta. Tapi kami sempet ketemu sekali sebelum berangkat ke Mesir. Yaitu pas koperku rusak di jalan mau ke bandara dan akhirnya abang rela nyari dan bawain koper gede dari Tangerang ke bandara sekalian nganter --ayah dan ibu waktu itu cuma nganter dari SumSel.

Tahun kemaren, dua setengah tahun setelah di Mesir, akhirnya aku bisa pulang ke Indonesia. Udah kangen banget sama keluarga dan Tanah Air. Saat sampe di bandara udah ada abang yang jemput. Diajak ke kostannya di TangSel. Waktu itu bulan puasa. Kami sampe kostan pas banget nggak lama lagi azan buka. Kebetulan ada acara bukber di kostannya. Aku diajak gabung. Awal pulang ke Indonesia itu aku seminggu nginep di sana. Seminggu di Tanggerang aku diajak keliling-keliling sama ngunjungin pesantren adik kami yang mondok nggak jauh dari sana –sekitar setengah jam make motor. Oh ya belum kuceritain, kami juga punya adik. Usianya beda 7 tahun denganku. Masih MTs. Abang sering ngunjungin ke pondoknya setiap sebulan sekali/dua kali. Ngegantiin ayah sama ibu yang nggak mungkin sesering itu ngunjunginnya karena jauh banget jarak Bengkulu ke sana. Jadi bahkan saat abang nggak ngurusin aku lagi karena udah jauh, abang masih ngurusin adik yang lagi mondok –yang manjanya jauh ngelebihin aku. Maklum dari umurnya yang masih 3 tahun udah kami berdua tinggal ke pesantren dan cuma ketemu pas liburan.

Hampir 4 bulan libur di Indonesia, sebelum balik ke Mesir lagi pun aku nginep lagi di kostan abang. Dia nemenin aku beli macam-macam barang dan oleh-oleh yang nggak sempet aku beli di Bengkulu. Juga ngajak adik keluar pondok buat nonton bareng bertiga di bioskop. Dan kemudian besoknya aku pun balik lagi ke Mesir –yang pastinya di antar lagi sama abang.

Tengah tahun kemaren abis abang wisuda, dia coba ngelamar kerja di beberapa tempat. Dan akhirnya  diterima di salah satunya, yaitu ngajar. Sampe udah ngerasa cukup berpenghasilan sekarang, dia pun  bilang ke orang tua pengen nikah. Calonnya juga ternyata ngajar di sekolah yang sama. Pas denger kabar ini dari ibu, entah kenapa aku sedikit terhenyak. Ngerasa ada yang aneh.

Bukan rasa yang biasa. Rasanya mau nyegah itu terjadi. Kayak mau bilang ‘nggak usah aja sih nikah’ atau pas aku nanyain ke ibu ‘calonnya orang mana, nggak dipastiin lagi dulu, ntar nggak cocok lho’ dan hal-hal lain yang aku coba cari alasannya biar abang nggak jadi nikah aja. ‘Rasa-rasa’ itu setelah aku telaah dikit pas agak tenang, aku pun tau itu maksudnya mungkin aku belum rela ‘kehilangan’ sosok kakak yang sudah lama ini ada terus buat aku. Lah iya kan. Kalo seandainya abang nikah, pasti perhatiannya bakal berubah lebih merhatiin istrinya. Waktu untuk kami berdua nggak bakal sesering dulu lagi dan banyak lagi hal lainnya yang mungkin nggak bakal terulang pas dia udah punya istri.

Aku ingin ncegah semua itu terjadi. Tapi nggak akan mungkin. Life must go on, ada waktunya sesuatu itu nggak bakal selalu sama lagi, dan aku nggak bisa egois tentang hal itu.

Dan hari ini, pukul 4 dini hari di sini atau pukul 9 pagi nanti di Indonesia, abang bakal akad nikah. Keluarga besar udah kumpul di tempat calon mempelai wanita di Cilacap, Jawa Tengah. Dan yang menyesakkannya, aku nggak bisa hadir. Ada ujian Azhar seminggu lagi yang perlu disiapin. Jadi, di salah satu momen paling bahagianya dia di dunia ini aku malah nggak bisa hadir –setelah pas wisudanya dulu juga nggak bisa.

Namun begitulah, yang bisa aku lakuin dari sini cuma ikut ngedoain semoga acaranya nanti berjalan lancar hingga selesai.

Dan, beginilah tulisan ini mengalir dari awal hingga huruf yang kuketik sekarang. Aku nggak biasa ngucapin perasaan secara langsung.

Emang nggak semuanya ngewakilin apa yang aku rasa tapi seenggaknya aku udah coba nyampein hal aneh ini biar sedikit lega. Tentang gimana sosok abang bagiku, tentang betapa pentingnya jarak yang jauh ini ada hingga kita bisa lebih akur pas ketemu di waktu yang terbatas kemarin, tentang gimana aku juga belajar jadi seorang lelaki yang bisa berfikir lebih dewasa, tentang betapa indahnya kenangan itu ada dan cara menghargainya. Dan banyak lagi hal lain.

Mungkin sampe ini aja aku sudahi. Ditulis penuh emosi namun inilah hasil yang bisa aku sampaikan. Semoga ini bisa jadi 'kado' dariku di hari yang paling penting di hidupmu ini. Tapi tampak sedikit agak lebay sih. Hah. Tapi jujur inilah caraku menghargai waktu kebersamaan selama ini. Yang mungkin waktu kita berdua bersama lebih banyak daripada waktu yang dihabiskan bersama dengan ayah dan ibu. Dan dirimulah yang selama ini sering menggantikan peran mereka itu.

Akhir kata, semoga dirimu mampu jadi lelaki yang lebih bijak lagi di fase hidup yang baru nanti. Kalau dulu sudah menjadi abang yang keren untuk adik-adiknya, jadilah juga suami dan calon ayah yang baik bagi istri dan anak-anak nanti.

Selamat menempuh hidup baru, dan selamat berbahagia.

Salam dari Kairo,
adikmu yang sedang sedih namun juga turut bahagia.

Kairo, 26 Deseember 2017.

Sama abang pas liburan tahun kemarin di Bengkulu

Jumat, 02 September 2016

Explore Jogja


Gerbang masuk kawasan Borobudur
Tanggal 25 Agustus, hari keduaku di Jogja--

Hai teman, sebelumnya aku ada nulis prolog tulisan ini di post sebelumnnya: Jogja, I'm Coming!

Uhuk. Okey,
Jujur aja, alasan kenapa aku ngebet banget pengen ke Jogja itu salah satunya karena di sana ada Candi Borobudur, yang kita tau itu adalah satu dari beberapa situs sejarah dan budaya Indonesia yang pernah masuk ke jajaran 7 wonders of the world. 

Menurutku itu keren banget.

Eh tapi, jujur juga, aku baru tau ternyata Borobudur itu letaknya bukan di Jogja tapi di Magelang, Jawa Tengah. Hahah. Maklumlah, bukan anak IPS. *ngeles*
Tapi nggak papa, Jarak waktu dari tempat nginepku di Bantul, Jogja ke Borobudur nggak terlalu jauh juga. Sekitar 2 jam.

Jadilah di hari kedua ini, kami --aku dan temenku, sebut saja El, pagi-pagi abis sarapan langsung nyewa motor. Harga sewanya lumayan murah menurutku. Nyewa setengah hari alias 12 jam cuma 25 ribu. Kalo nyewa sehari cuma 40 ribu. Kami ambil yang setengah hari karena itu udah lebih dari cukup buat bolak-balik.

Saat masuk ke gerbang Provinsi Jateng, pemandangan yang aku lihat di kiri kanannya selain perumahan khas jawa, juga banyak orang yang jual patung-patung semacam patung di Borobudur. Dari yang ukuran kecil sampe yang gede.

Nggak lama dari situ, entah kenapa ban motor kami kerasa nggak stabil. Pas dilihat ternyata bannya kempes. Hadeh. Untung nggak jauh dari Tekape ada bengkel. Pas dicek ternyata lebih parah dari yang dikira. Ban dalemnya sobek gede. Kata tukang bengkelnya, sobekan itu sobekan lama dan udah ditambal tapi tambalannya nipis karena panas terus gini jadinya. Sobekannya kebuka lagi.

Kami pun diminta buat ganti ban dalem aja. Soalnya kata masnya, Borobudur tuh masih jauh dan bisa jadi kalo cuma ditambel lagi kayak sebelumnya, sobekannya bakal kebuka lagi. Pas ditanya berapa kalo ganti ban dalem, ternyata 35 ribu. Set dah. Nyewa motor aja 25 ribu. Abis diskusi dikit, kami sepakat cuma ditambel aja. Rugi men kalo ganti. Orang yang nyewain juga mana mau dijelasin kalo ternyata motor ini emang udah sobek dari peminjaman sebelumnya.

Ya udah, akhirnya kami cuma bayar 7 ribu buat nambel. Sekalian sambil doa semoga ni tambelan baru bisa awet sampe kami balikin motornya nanti malem.

Lanjut jalan, sekitaran 1 jam-an kami pun sampe di gerbang masuk kawasan Borobudur. Aku kira pas masuk gerbangnya bisa langsung ngeliat Borobudur dari jauh. Ternyata masih perlu masuk ke dalem sekitar 1 KM lebih lagi.

Pemandangan masuk ke dalem dihiasi dengan sawah-sawah hijau yang luas banget. Udaranya juga sejuk. Beberapa ada hotel dan rumah makan juga.

Tiket masuk ke Borobudur 30 ribu.
Yang aku agak ngerasa agak nggak nyaman tuh, loketnya pengunjung pribumi dibedain sama loket turis. Yang turis lebih mewah. Wah, nggak asik banget. Di luar negeri aja semuanya disamain di satu tempat. Hemm.

Oh iya, kalo kalian juga mau ke sini, sebelum masuk ke dalem, jangan lupa beli minuman dulu gaes. Soalnya kan Borobudur tuh luas, bakal naikin tangga-tangga juga. Apalagi kalo ke sininya siang. Bakal cepet haus.

Emang sih di dalem ada juga yang jual air. Tapi saranku sih mending keluar bentar ke seberang jalan, ada minimarket. Lebih mending beli di minimarket deh ketimbang di deket loket. Pastinya harganya beda dong.

Udah masuk di dalem, aku sempet bingung juga nyari spot-spot bagus buat moto. Nyari spot yang bagus sama kayak yang aku dicari di google tuh susah. Nggak tau deh mereka motonya dari sudut mana. Yah, jadilah aku motoin sesuai insting sendiri aja. Beberapa juga sambil aku videoin.

Sambil moto-motoin relief-relief, arsitektur dan patung-patung yang ada, kami tiba-tiba aja disamperin sama orang yang sekilas kami denger bicaranya kayak bahasa jepang. Mereka berdua. Satu bapak-bapak, satunya lagi cewek. Tebakanku itu anak gadisnya.

Eh, ternyata si bapak bisa dikit-dikit bahasa Indonesia. Dia nanya dari mana. Yah kita jawab aja dari Sumatera. Abis lanjut ngobrol-ngobrol dikit, akhirnya kami tau kalo cewek itu bener anak gadisnya. Uhuk. Sayang si cewek nggak bisa bahasa Indo dan kayak malu-malu gitu. Ais, tenang aja neng, jangan takut kami gombalin. Kami nggak bisa ngegombal bahasa jepang kok. Heheh.

Candi Borobudur
Abis itu kami pamit mau lanjut naik lagi.
Kami lanjut moto-moto sekaligus narsis cekrak-cekrek nggak jelas di atas.
Muter-muter dikit, kami ketemu mereka lagi. Diajak ngobrol lagi.
Abis tuh kami pamit lagi.
Muter-muter dikit, kami ketemu mereka lagi. Hadeh. Diajak ngobrol lagi. Tapi kali ini diajak poto bareng. Oke deh.

Abis tuh kami beneran pamitan. Mau turun buat shalat soalnya. Rasanya nggak bakal ketemu lagi di Masjid.
Tapi aku mikir-mikir bentar, kayaknya asik juga tuh kalo aku bisa minta emailnya. Akhirnya kami tungguin bentar di bawah. Mereka lagi turun juga. Pas banget. Aku minta emailnya.

Sebenernya, email personal bagi orang luar negeri tuh lumayan privasi. Kayak kita minta nomor telepon gitulah. Kita kan nggak ngasih nomor ke sembarang orang gitu aja. Tapi aku coba aja soalnya aku ngerasa orangnya juga seneng kalo kenal lebih deket. Ternyata dia mau.
Mau minta email anaknya sekalian, ah nggak berani. Deketin bapaknya aja dulu. Hahah.

Abis itu kami pun shalat di Musholla.
Abis shalat, sempet bingung nyari jalan keluar dari Borobudur. Tapi sambil nanya-nanya kami pun ketemu juga jalan keluarnya.

Penasaran udah jam berapa, aku mau cek jam di Hp. Tapi, lah, Hpku kok nggak ada ya. Kuperiksa lagi di seluruh kantong celana. Nggak ada. Cek di ransel, nggak ada. Tas kamera, nggak ada. Waduh. Jangan-jangan..

Hpku  hilang.

Berhenti sebentar, aku coba nenangin diri sambil nginget kira-kira di mana Hpku hilang, atau ketinggalan atau jatuh.
Pertama, aku coba dulu balik ke tempat shalat tadi.
Ternyata Hpnya ketinggalan di sana pas aku ngecek-ngecek kamera abis shalat tadi. Untung ada bapak-bapak yang nyingkirin Hpnya ke pinggir. Pas kami dateng Hpnya langsung dikasih. Fiuh. Alhamdulillah, masih rezeki.
Ilang Hp nggak balik modal euy jalan-jalan ke Jogja.

Keluar dari candi, perut udah laper banget. Mesti diisi dulu. Kebetulan di seberangnya ada jual fried chicken murah tapi tempatnya bagus. Pass.

Abis makan, tujuan kami selanjutnya adalah Pasar Malioboro. Cuma pengen ngeliat-ngeliat aja dulu sambil nanya-nanya harga barang. Belum mau beli. Tapi sebelum bener-bener keluar dari kawasan Borobudur, kami mampir bentar buat motoin candi kecil yang terpisah. Namanya Candi Mendut. Karena katanya bayar lagi. Aku cuma motoin dikit dari luar pagarnya.

Candi Mendut
Di Maliobro, kami keliling-keliling sebentar, terus aku diajak buat nyicipin minuman khas jogja. Namanya Wedang Ronde. Jajanan yang biasa ditemuin di banyak tempat di Jogja ini berbentuk minuman hangat dari air jahe dicampur dengan potongan-potongan kecil roti tawar, kacang, serta bola-bola putih yang berasal dari tepung ketan. Aku paling suka sama bola-bolanya. Lembut dan manis.

Udah dari sana, kami pulang.
Sampe rumah aku coba buat list untuk jajan oleh-oleh besok.


26 Agustus, hari ketiga di Jogja--

Hari ini rencana sih mau jajan-jajan barang aja. Mau jalan jauh rasanya nanggung karena siang mau jumatan.

Tujuan pertama kami ke Pasar Klithikan Pakuncen.
Pasar ini masih di kawasan Bantul, Jogja. Nggak terlalu jauh dari tempatku nginep.

Di siang jelang sore gini, Pasar Klithikan belum terlalu rame. Tapi udah ada beberapa yang jualan. Di dalamnya juga ada mushalla kecil. Bersih. Kami shalat ashar di sana.

Udah abis beli beberapa barang, kami lanjut belanja ke Pasar Malioboro. Beberapa barang aku udah tau harganya kemarin, sekarang waktunya belanja.

Motor kami parkir di perempatan Titik Nol Kilometer Jogja, di seberang Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Plang arah persimpangan jalan Titik 0 KM
Dimulai dari sekitaran titik nol KM ini udah banyak orang-orang yang jualan. Trotoar jalannya emang luas untuk dijadiin lapak dagang.

Selain orang-orang yang jualan, ada juga orang-orang yang nawarin buat foto bareng dengan ular, kadal, burung hantu dan lain-lain. Ada juga dari mereka yang make kostum-kostum kartun atau biasa kita sebut cosplayer. Ya pastinya foto dengan mereka bayar dong. Aku mah motoin mereka aja. Biar nggak terlalu ketauan masih suka kartun. Hahah.



Pasar Malioboro lebih rame dari kemaren. Kebanyakan di sini banyak yang jual kaos berdesain Jogja. Desainnya bagus-bagus. Aku beli beberapa. Sampe udah masuk maghrib, kami stop dulu belanja dan nyari masjid di sekitaran sana. Abis nanya-nanya, ketemunya dengan Masjid yang ada di dalem komplek Pemda Jogja. Masjidnya khas Jogja banget.

Ruang shalat bagian depan
Abis shalat lanjut lagi beli oleh-oleh. Ada beberapa daftar yang belum aku beli. Kami menyusuri hampir sepanjang Malioboro. Sebenernya nggak perlu sampe ujung sih. Cuma kami mau narsis dikit di plang tulisan Jl. Malioboro. Letaknya ada di ujung, deket rel kereta api. Fiuh. Jauh banget jalan ke sana. Yang bikin capeknya itu karena sambil nentengin barang belanjaan. Kaki pegel, bahu juga serasa udah mau lepas. Tapi demi ngambil momen Malioboronya, mau nggak mau mesti jalan ke sana. Heh.

Moto di plang ini aja make ngantri broh
Abis itu kami balik ke tempat parkiran. Di halaman monumen lagi rame banget. Ada acara festival. Sore tadi aku sempet liat dikit gladinya.
Aku sempetin dikit nyempil-nyempil nyari celah buat ngeliat. Ada tim tari cewek dari Aceh yang lagi tampil. Tari apa aku lupa namanya. Tapi yang pasti gerak tarinya sama dengan tarian mahasiswa Aceh saat tampil di acara Yalla Indonesia di Mesir beberapa tahun kemaren.
Pengen kupoto tapi sudutnya terlalu sempit. Hhh. Karena badan udah capek banget, aku langsung ngajakin pulang aja. Tapi sebelum sampe rumah, kami mampir bentar di warung bakso buat balikin stamina badan alias makan.

27 Agustus, hari keempat di Jogja--

Nah, hari ini walau badan masih bawaan pegel keliling-keliling Malioboro sambil bawa-bawa belanjaan, tapi aku lumayan semangat. Soalnya tujuan jalan kami hari ini tuh Candi Prambanan. Candi yang nggak kalah keren dari Candi Borobudur.

Letak Prambanan lebih deket dari tempatku nginep karena emang lokasinya masih masuk Jogja. Sekitar sejam-an.

Hari ini panasnya nyengat banget. Kami beli 2 botol air mineral dingin sebelum masuk.


Tapi baru ngitarin beberapa bagian daerah utama candi, nggak kerasa air di botol udah mau abis aja. Asli, cepet banget ausnya. Mau beli di dalem, males. Pasti mahal. Ya udah nahan dikit. Kami lanjut keliling.

Selain ada beberapa candi besar di bagian depan, ada juga 3 candi lagi di bagian belakang area Prambanan. Letaknya lumayan jauh tapi masih satu komplek. Kami ke sana.

Oh iya, kayak di Borobudur kemaren. ada beberapa bagian candi yang lagi di renovasi. Kalo Borobudur ada di bagian kanannya, di Prambanan lebih banyak lagi yang sedang direnovasi.

3 candi yang di area belakang semuanya direnovasi. Keindahannya jadi agak tertutupi. Yaitu Candi Sewu, C. Bubrah, C. Lumbung.

Ada 1 candi di area depan yang lagi direnovasi
Candi Sewu
Candi Bubrah (taken from here) *lupa motoinnya*
Candi Lumbung
Udah capek jalan sampe ke ujung dalem komplek Prambanan. Kami balik lagi. Pas jalan balik sempet nyicipin buah yang bentuknya kayak manggis. Lupa namanya apa. Dikasih sama anak-anak yang lagi metikin buah itu di belakang Candi Bubrah.

Keluar dari Prambanan, kami makan siang sebentar di angkringan nggak jauh dari sana.

Abis isya, abis makan mie ayam bakso, aku diajak buat mampir ke tokonya Ust. Salim A. Fillah. Kebetulan nggak jauh dari tempatku. Aku sih seneng aja. Kali kan ketemu sama Ust. Salim di tokonya. Lumayanlah ketemu Ust. kondang. Heh.

Tokonya biasa. Nggak gede nggak juga kecil. Pas ditanya ke yang jaga, ternyata ustadnya lagi di rumah. Rumahnya nggak jauh juga sih dari sana. Nggak papalah.

Yang dijual di sana ada kaos-kaos desain untuk Muslim, buku-buku terbitan pro you, jaket, topi, peci, dll. Awalnya sih cuma pengen liat. Tapi pas nyoba-nyoba peci dikit, kayaknya pas juga di kepala. Jadi sebelum balik beli 2 peci. Hha.

Pas balik, langkah kami berenti di depan kampus STIKES deket tempat nginap. Ada acara rupanya. Kata si Ge itu acara penutupan Ospek Maba. Kayaknya seru tuh. Aku ikut nimbrung nonton. Tapi sebelumnya balikin motor sewaan dulu.

Acaranya udah dimulai dari tadi. Tapi kami masih sempet nyaksiin satu dua penampilan. Yang lumayan menarik itu tampilan nasyid Maba laki. Lagu yang dibawain lagu Kesempurnaan Cinta anaknya Sule tapi isi liriknya diganti jadi lirik islami. Leh uga. Tapi yang lebih menarik lagi tuh, tampilan drama oleh Maba perempuan. Dramanya tentang kisah gadis penjual susu di zaman Umar bin Khattab. Hmm kalo dari penampilannya sih biasa aja. Cuma yang nampilnya itu. Ckck. Canda.

Kami nggak ngikutin sampe akhir.
Aku ajak pulang karena ada cucian yang belum dijemur.

28 Agustus, hari kelima di Jogja--

Hari kelima ini aku nggak ada tujuan mau ke mana-mana. Jadilah seharian itu kebanyakan cuma nyante di kamar kosan sambil nonton TV. Ngistirahatin badan dulu hari ini.

29 Agustus, hari keenam di Jogja--

Pagi hari ini agak heboh karena kuncinya si Ge ilang. Wah.
Kemungkinan ilang sih nggak kayaknya. Ya paling kelupaan naro di mana.
Sibuk bongkarin sana-sini tetep nggak ketemu-ketemu. Padahal El mau pergi ke Solo siang ntar. Terakhir yang make motor sih emang si El. Dia balik malem make motornya Ge abis dari rumah temennya. Tapi ntahlah dia lupa naro di mana.

Jadilah siangnya pas El mau pulang, minjem motor temen kosannya Ge buat nganterin El ke stasiun.

Balik dari stasiun aku sama Ge lanjut nyari-nyari kuncinya lagi. Kali ini ketemu. Ternyata kuncinya ketutupan nampan di depan kamar mandi rumah bawah. Hadeh.

Syukurnya, karena kunci motor udah ketemu, sore ini aku bisa lanjut nyari destinasi lain di Kota Jogja.

Menjelang maghrib, aku sama Ge berangkat ke Masjid Gedhe Kauman. Biasanya juga disebut Masjid Raya Kesultanan Jogjakarta atau Masjid Besar Jogjakarta. Letaknya di sebelah barat komplek Alun-alun utara Kraton Jogja.

Masjidnya nyaman, tertib dan indah. Mantep.

Bagian dalam Masjid
Teras luar masjid.
Lagi ada kegiatan ngaji berirama.
Abis dari sana, kami lanjut ke Tugu Jogja.
Sebenernya dari hari pertama kemaren kami udah mau ke sana tapi nggak jadi.

Katanya belum sepenuhnya ke Jogja kalo belum mampir ke tugunya.
Tugu ini emang ikon utamanya Jogja.

Sampe sana, niatnya sih aku mau ngambil night shot plus slow motion. Tapi apalah daya. Aku nggak bawa tripod ke Jogja. Yah, kupoto semampunya aja.


Udah capek maksain dapet spot bagus plus narsis-narsis di tengah jalan seputar tugu, kami balik mau cari makan malem. Pas pergi tadi ada kepikiran pengen nyicipin sate kuda. Nggak nyangka juga deket kosan ada yang jual. Tapi selama perjalanan balik aku mikir-mikir lagi. Kayaknya perutku belum tentu bisa nerima daging kuda itu diproses dalam lambung dan ususku.

Akhirnya kami ubah arah ke Ayam bakar.

30 Agustus, hari ketujuh dan hari terakhirku nikmatin Jogja--

Ah, hari ini aku udah harus mikirin buat balik besok. Udah dari kemaren-kemaren aku masih mikir mau naik apa. Niat awal, aku pengen naik kereta dulu dari sini ke Jakarta, terus mampir ke kontrakan kakakku di sana. Trus baru nanti besoknya lanjut naik pesawat dari Jakarta ke Bengkulu.

Tapi kayaknya aku terlalu boros waktu. Nggak ada hal yang terlalu penting juga mau aku kerjain di kontrakan kakakku. Lagian nanti sebelum balik ke Mesir bulan depan aku juga bakal mampir ke sana dulu.

Akhirnya aku milih buat naik pesawat langsung dari Jogja ke Bengkulu. Tiket udah dipesen. Aku berangkat besok pagi-pagi.

Siang ini aku coba check-in online biar besok bisa langsung naro bagasi doang. Posisi kursi juga udah aku atur. Pesawat pertama di jendela kiri, abis transit ambil kursi di jendela kanan. Sipp.

Sore ini waktunya aku beli oleh-oleh makanan.
Aku dianter Ge buat nyari toko Bakpia.
Di toko tempat yang kami masukin, harga 1 kotak Bakpia 20 ribu. Aku beli beberapa kotak. Juga beli Yangko. 1 kotak Yangko 15 ribu.

Abis maghribnya aku langsung nyusunin barang-barang biar abis isya nanti udah bisa nyante dan langsung tidur.

31 Agustus, I'm home!

Ahh, nggak kerasa udah seminggu aja aku di Jogja. Cepet banget. Masih banyak lagi destinasi wisata dan situs sejarah yang belum aku kunjungin.
Gimana jadinya kalo rencanaku kemaren yang cuma 3 hari aja di sini beneran cuma 3 hari.

Yah, seminggu juga lumayan puas sih. Semoga aja aku punya lain waktu untuk bisa menikmati sudut lain dari Kota Wisata ini. Dan semoga di lain waktu itu, aku bisa nikmatin senja Jogja dengan seseorang yang spesial. Hhah. Aamiin.

Orang sini pernah bilang, sekali pernah napakin kaki ke Jogja, hatinya juga ikut tertambat di sana dan bakal ngehasilin banyak kenangan. Kemudian orang itu bakal balik sekali lagi, lagi dan lagi.

---

Pagi abis shubuh aku udah siap-siap. Jam setengah 6 aku dianter Ge ke Bandara Adi Sutjipto Jogja. Jam keberangkatan sih 7.40, tapi aku harus udah naro bagasi paling lambat 6.50.

Sebagai anak teladan, aku udah di sana pukul 6 kurang. Emang lebih baik dateng lebih dulu ketimbang terlambat.

Udah nimbang dan naro barang di bagasi. Aku nyisain satu tas ransel dan satu kardus oleh-oleh makanan untuk dibawa ke kabin atas. Naasnya, aku sempet ninggalin kardus oleh-oleh itu pas ngelewatin pemeriksaan barang terakhir menuju waiting room. Kalo aja nggak ada pengumuman barang ketinggalan, wah sedih banget kehilangan satu kardus penuh isi makanan khas Jogja ini. Fiuh.

Di masa tunggu pesawat, aku nyempetin beli wifi 5 ribu. Lumayan buat ngisi kekosongan. Nggak pake lama, aku langsung download beberapa seri anime yang belum sempet aku download beberapa minggu belakangan. Heheh.

Lanjut pas transit di Jakarta, sinyal wifinya lebih kenceng broh. Mantep banget dah. Bisa download lebih dari satu season anime nih. Sekaligus upgrade aplikasi Hp. Waktu transit di Jakarta sampe jam 12.45. Masih lama.

Sebelum naik pesawat, aku sempetin jamak zhuhur dengan ashar. Soalnya pas ntar nyampe Bengkulu, aku masih harus naik mobil lagi sekitar 2-3 jam untuk sampe rumah.

Di Bandara Fatmawati, Bengkulu udah ada ayah sama temennya yang nunggu.

Beberapa jam kemudian, aku sampe di rumah, dan balik nikmatin kasur kamarku. Ah, rumah sendiri memang lebih nyaman ya.

Home sweet home..

--
Curup, 2 September 2016
di atas kasur rumah atas, sendiri.
Sampai bertemu lagi, Jogja.
Hoahm.

*Ada beberapa bingkai keindahan Jogja yang kuabadikan di Galeri foto FBku. Ingin Lihat? Buka di sini.
Thanks :)


Kamis, 01 September 2016

Liburan di Saat Libur: Jogja, I'm Coming!


Tugu Jogja
Kamis, 1 September 2016 --

Prologue

Udah hampir 3 bulan liburan, aku lebih banyak ngabisin waktu di rumah aja atau cuma di sekitaran Curup. Yah, lebih dari itu sering juga sih ke Bengkulu dan beberapa kali ke Palembang. Tapi 2 daerah itu emang dari dulu aku sering kunjungin. Jadi mau berapa kali ke sana pun rasanya nggak terlalu spesial dan beda.

Ntah awal bulan Agustus kemarin, tiba-tiba aja jadi kepingin banget main ke Jogja. Dulu sih pas pertengahan semester kelas 2 Aliyah hampir mau ke sana. Waktu itu pesantren buka pendaftaran kegiatan Rihlah santri ke Kota Pelajar tersebut. Cuma karena nimbang-nimbang beberapa hal, aku nggak jadi daftar dan lebih milih ngabisin masa-masa lomba class meeting semesteran.

Nah, karena emang jodoh tuh nggak kemana, aku akhirnya dapet juga kesempatan main ke Jogja. Awal kepikirannya itu pas ayah cerita ada dapet tawaran ngikutin kegiatan pengajar kampus di sana. Ibu ngusulin biar aku ikut ayah. Nggak apa-apa bayar sendiri kata ibu. Kalo ayah kan dibiayain semuanya. Tapi ayah ada ngasih syarat dulu, syaratnya aku harus ngebenerin akun Hp ayah yang lagi bermasalah. Berjam-jam dan googling sana-sini nggak pantang nyerah, akhirnya aku bisa benerin. Yosh!

Udah gitu, sayangnya, jadwal pergi ke Jogja itu tabrakan dengan jadwal aku dan ayah mau ke Palembang, buat nganter makde (nenek) pergi haji. Yah, pastinya ayah lebih nganter nenek. Aku juga harus ikut. Jadilah tawaran buat ayah itu ayah kasih ke orang lain. Gagal deh.

Tapinya lagi, ayah sama ibu nggak tega dong liat anaknya yang udah ngidam-ngidam mau ke sana kecewa nggak jadi pergi. Haha. Ibu ngusulin biar aku abis dari Palembang pergi biaya sendiri aja berdua dengan ayah. Ayah kan udah sering ke Jogja, jadi paham kunjungan-kunjungan destinasi wisata yang bagus apa aja di sana.

Tapi tapinya lagi, berarti kalo ayah nemenin aku ke sana, ayah bakal absen di kantor.

Tau gitu, aku jadi keinget sama temenku yang juga balik dari Mesir. Dia tinggal di Kota Bengkulu. Seinget aku dia pernah cerita dia sempet lama tinggal di Jogja dan di liburan kali ini dia mau main lagi ke sana. Langsung deh aku kontak dia. Dannnnnnn pas banget. Dia emang nggak lama lagi mau ke sana. Jodoh emang nggak kemana yah. Hahah.

Abis ngobrol-ngobrol dikit, kami pun sepakat nentuin tanggal ke sana akhir bulan, beberapa hari lewat tanggal ultahku.

Tanggal 22, kami berangkat lewat jalur darat, naik bis. Karena rute bisnya start dari Bengkulu baru ke Curup, temenku berangkat duluan, aku nungguin di terminal Curup. 
Jam 1 siang bisnya sampe, kami langsung cusss jalan.

Perkiraan sampe di Jogja tanggal 24 pagi. Berarti kami bakal ngabisin waktu di jalan hampir 2 hari 2 malem. Lumayan. Ini perjalanan make bis terjauh yang aku rasain. Dulu pertama jalan jauh make bis tuh pas masih nyantri, pas mau ikutan bimbel 2 minggu ke Bojonegoro, Jatim.

Fiuh. Selama perjalanan rasanya nggak nyaman banget. Badan pegel-pegel terutama bahu. Untung nggak mabuk. Cuma agak pusingnya tuh pas keluar dari Curup. Curup kan lokasinya di tengah-tengah antara pegunungan, jadi mau keluar daerah tuh mesti ngelewatin gunung. Tau sendiri ngelewatin pegunungan tuh gimana. Jalannya kelok-kelok. Baru bentar belok kanan, udah belok kiri lagi. Gitu terus.

Syukurnya kami pun sampe dengan selamat di Terminal Giwungan, Jogja. Sampe di terminal, ada temennya temen aku yang jemput make motor. Sebut aja namanya Ge. Hahah. Karena dia cuma bawa motor satu, kami pun dianter gantian ke kosan dia. Yups, selama beberapa hari di Jogja, kami bakal nginep di sana.

Letak kosannya itu deket kampusnya dia. STIKES. 
Wah, anak kesehatan nih. Dia udah tingkat akhir. Lagi nyusun skripsi.
Maap yak ngerepotin. Heh.

Hari pertama di Jogja, kami sepakat untuk belum jalan-jalan jauh dulu. Aku setuju. Soalnya juga ni badan masih kerasa pegel. Jadilah di hari pertama itu aku cuma ngehubungin temen alumni satu almamater yang kuliah di Jogja. Rencananya sih pengen keliling-keliling sekitaran kota Jogja bentar aja. Tapi ternyata dianya lagi KKN. Yah.

Temenku satu ini namanya Po --disamarin juga. Haha. Dia salah satu temen deketku pas di pondok dulu. Sempet punya tujuan yang sama untuk kuliah di Mesir. Cuma karena waktu itu tes ke Mesir dibatelin, dia langsung ambil inisiatif ambil kuliah di Jogja. Jadi pas ternyata beberapa bulan kemudian tesnya dibuka lagi yang diadainnya di Mesir, dia jadi bimbang dan lebih milih mantep kuliah di Jogja.

Sekarang dia lagi KKN, tapi dia bilang tetep mau nemenin aku ngelilingin Jogja di hari pertama. Tapi cuma bisanya dari siang sampe sore aja katanya. Nggak papa broh, makasih.
Jadilah dia jemput aku, dan langsung dibawa ke sekretariat almamater di Jogja buat nemuin temen-temen yang lain. 

Nama almamater alumni kami itu IKARUS, singkatan dari IKatan Alumni Raudhatul Ulum Sakatiga. Nama yang keren menurutku karena nama itu ngingetin aku sama cerita lama Yunani kuno, yaitu cerita sayap Icarus atau Ikaros --dulu pernah baca versi komiknya pas SD.

Singkatnya itu cerita tentang ayah dan anak yang dikurung di labirin buatannya sendiri selama bertahun-tahun. Terus terpikirnya ide untuk ngebuat sayap besar dari sayap-sayap kecil burung yang biasa hinggap. Sayap-sayap kecil itu disusun dan disambung dengan lilin sampe jadi sayap yang besar. Sayap itu dibuat agar mereka bisa terbang kabur.

Sebelum terbang si ayah ngingetin anaknya, Icarus, agar jangan terbang terlalu tinggi karena saat terbang terlalu tinggi itu rangkaian sayap bisa lepas karena lilin meleleh kena panas matahari. Yah, si Icarus ini malah nggak dengerin dan akhirnya dia jatuh ke laut lepas.

Kalo dimaknai secara umum sih bisa dibilang ini cerita anak yang nggak ngedengerin nasihat ortunya atau seseorang yang terjatuh sebelum sampe di tujuan. Tapi aku lebih seneng baca tulisan seseorang yang nyampein pemaknaan lain yaitu tentang anak yang punya keinginan terbang lebih tinggi melebihi ayahnya, lebih memilih tidak mengambil jalan aman pada umumnya, dan melaju menantang matahari. Seperti realita hidup yang memberi pilihan zona aman namun stagnan, atau zona menantang penuh resiko.

Jadi, menurutku si anak, Icarus nggak bodoh. Buktinya dia yang ngusulin buat sayap. Bisa jadi dia emang sengaja terbang tinggi dan ingin ngebuktiin kalo dia bisa mencapai yang tidak dicapai orang lain. 
Yah, walaupun dia terjatuh abis itu, tapi seenggaknya dia jatuh dengan senyum yang mengembang. Hemm. Keren.

Eh kok jadi keasikan bahas itu yak. Haha. Sori. Abaikan.

Okey, pas nyampe di sekre, ternyata temen-temen lagi masih pada teler. Asik tidur di kamar. Kecapean katanya abis rapat semaleman. Ketuanya sekarang satu angkatan denganku. 

Nggak lama dari aku dateng, yang lain gantian pada bangun, terus juga banyak dateng temen-teman lain pada mau nimbrung di Sekre. Lumayan lama juga ngobrol-ngobrol, aku sama Po pamit. Mau ke tempat kosan temen yang lain juga. Tapi sebelum pergi, ngabadiin kenangan dulu di depan banner Welcome.

Kunjungan selanjutnya aku mau ke tempat ketua angkatan kami. Angkatan ke 63. Namanya Son. Pertama ke tempat kosan lama, dianya nggak ada. Ternyata lagi di kontrakan yang baru. Di sana, dia lagi sendirian aja.

Aslinya yang tinggal di kontrakan itu sih bertiga. Tapi si Az lagi main ke Bandung, satunya lagi si Ron lagi ngurus mau KKN katanya. Kontrakannya lumayan besar untuk ukuran tiga orang menurutku.

Di sana aku banyak nanya-nanya tentang Jogja, tentang teman-teman angkatan yang lain. Juga nyeritain tentang kunjunganku ke pondok sebulan yang lalu, dan balik ditanya tentang Mesir.

Nggak kerasa udah sore, si Po mesti balik ke kegiatan KKNnya. Aku juga mau pamit balik ke kosan temen di STIKES. Karena arah tempat nginepku beda jauh sama tempat KKNnya Po, aku balik dianter Son.

Abis maghrib, waktunya balik nyante-nyante. Bawaan capek di jalan belum ilang bener. Mana tadi siang langsung keliling-keliling.

Abis Isya' aku diajak buat ngerasain 'Angkringan' Jogja. Kosakata baru nih.

Angkringan itu singkatnya bisa dibilang warung makan murah yang letaknya di pinggir jalan. Bentuknya cuma gerobak sederhana yang biasanya beratap terpal plastik dan sedikit ditutupin tirai yang ngebelakangin jalan.

Yang dijual cuma makanan-makanan sederhana. Salah satunya Nasi Kucing. Diistilahin gitu karena emang nasinya cuma berapa cuil dan dihiasin dikit sama oseng tempe atau sambal teri. Biasanya juga dibungkus dengan daun pisang dan kertas. Porsinya yang kecil yang buat dia dibilang makanan kucing.

Selain nasi kucing, ada juga goreng-gorengan, sate-sate macam sate hati ayam, juga beberapa minuman. Aku memilih nyicip semuanya. Haha. Minumnya mesen wedang jahe anget. Mantep.

Dinamain angkringan, kata temenku sih angkring itu diambil dari kata nangkring yang artinya nongkrong. Atau juga artinya duduk santai dalam bahasa jawa. Emang pas sih menurutku dinamain gitu karena emang posisi jualannya yang pas dijadiin tempat nongkrong masyarakat dan juga harganya yang pas dengan kantong kebanyakan orang. Tapi ada juga yang maknain lain.

Tapi yang jelas, menurutku angkringan ini luar biasa. Dibalik merebaknya orang-orang ngebuat kafe-kafe keren, angkringan ini masih eksis dan punya tempat tersendiri bagi masyarakat. Yah, bisa dibilang angkringan itu simbol kebersahajaan dan budaya Jogja. Salut.

Pulang dari sana, kami nonton bentar make TV antena di kosan. Dan nggak lama abis itu aku milih buat tidur duluan sambil ngebayangin tujuan-tujuanku selanjutnya di Kota Wisata ini.

Gaes, ini cuma prolog. Lanjut baca lagi yak catatan-catatan kecilku yang aku tulis di post selanjutnya: Explore Jogja! Kali aja ada beberapa hal yang bisa kalian ambil dari cerita itu.

Thanks :)


 
biz.