Jumat, 10 April 2015

Tanta dan Tafahna (II)

Rabu, 18 Maret 2015 -

Huahh, udara pagi tafahna seger banget.

Kami pergi keluar rumah. Ada agenda main futsal pagi ini. Rame-rame bareng temen-temen yang lain kami menuju lapangan futsal deket gerbang masuk desa. Kami diajak jalan ngelewatin sawah-sawah. Asik banget. Tembus sana-sini yang ternyata ngelewatin samping gedung Universitas Al-Azhar Tafahna. Banyak mahasiswa-mahasiswi mesir yang berjalan disamping kami sambil membawa beberapa kitab di tangan mereka.

Belum puas nikmatin perjalanan keliling-kelilingnya, tapi kami sudah sampai di lapangan. Ya mau nggak mau main dulu. Temen-temen yang cewek milih untuk nontonin aja tapi ada juga yang inisiatif main domino. Ada banyak meja disamping lapangan yang bisa dipakai.

Momen spesialnya ada setelah ini. Puas dari main bola, kami diajak lagi jalan-jalan ngelewatin sawah, sambil foto-foto pastinya. Hehe.





Masih melalui jalanan sawah, kami pun diajak ke warung yang menjual makanan khas mesir, yaitu fuul. Fuul itu sejenis kacang-kacangan, cara penyajian makanan ini sederhana aja, cuma diolah dan dihancurin lalu dikasih bumbu-bumbu yang sederhana dan khas Mesir. Nah, yang spesial dari ini, konon katanya -kata mahasiswa disini- fuul disini itu merupakan fuul terenak di Mesir. Wow, makin nggak sabar jadinya.

Akhirnya kami sampe di warung itu. Warungnya nggak jauh disamping gedung Al-Azhar tadi. Disana, kami mulai cari posisi duduk masing-masing. Makanan udah dipesen.


Nah, diatas meja itu selain ada fuul, ada juga 'isy (roti bundar khas arab), Tha'miyah (Tha’miyah itu terbuat dari kacang fuul putih dicampur dengan beberapa jenis rempah dan sayur-sayuran, lalu diblender sedang menyerupai adonan tepung. Adonan tadi sebelum digoreng, dibentuk dengan berbagai motif sesuai selera lalu dicemplung ke dalam minyak panas, seperti halnya nggoreng pergedel), ada juga tursi/salatah (acar rasa asem dari wortel, cabe, lemon, dll).

Nah, cara makan semua itu, dimulai dari 'isy kita sobek kemudian masukkan tho'miyah didalamnya terus oleskan ke fuul tadi. Sambil menggigit semua itu tadi, bisa diselingin dengan makan tursi. Nah lengkap udah kenikmatan itu. Yummi.

Tapi.. hm.. oke. Aku pengen jujur. Sebenarnya aku bukan termasuk orang yang suka makan fuul dan tursi --yang lain juga banyak yang nggak suka. Heh. Jadi ya aku hanya makan 'isy dan tho'miyahnya saja. Oh iya ada lagi namanya itu misa'ah (Sambal tomat dalemnya ada campuran terong, kentang, dll). Nah, kalo yang lain nyelupinnya ke fuul, aku nyelupinnya ke misa'ah itu. Jadi aku nggak bisa ngebuktiin apa fuul disini emang yang terlezat di Mesir apa nggak. Sesekali emang aku coba, tapi tetap aja aneh rasanya.

Selepas kenyang dari makan disana, kami lanjut jalan lagi. Kali ini kami diajak ke kebun jeruk. Waw. Ini lebih nyenengin bagiku. Karna di Indonesia dulu aku nggak pernah ngelihat-lihat kebun jeruk langsung.

Kebun jeruknya luas. Tapi sayangnya kami disana cuma bisa ngelihat aja atau intinya jangan dipetik apalagi dimakan karna itu kebun bukan punya mahasiswa sana. Tapi yah itu cukuplah untuk kami. Cukup karna bisa bernarsis ria. Hehe



Kebunnya masih basah. Kayaknya abis disiramin. Yah jadilah kami keluar dari sana dengan lumpur tebal yang menempel di alas kaki.

'Ala kulli hal. Pagi ini puas sekali. Dan sore harinya kami pamit pulang ke Kairo.

Rihlah Sa'iidah, alhamdulillah :)

Bersama Kawan-kawan DPD Tafahna

Tanta dan Tafahna

Selasa, 17 Maret 2015 -

Yoo~ akhirnya balik nulis lagi di blog ini setelah beberapa minggu nggak pernah nyentuh-nyentuh sama sekali. Eh, nggak juga ding, pernah sih nulis tapi cuma sebatas nulis judulnya doang abis tuh ditinggalin. Heh.

Hm.. sesuai judul pos ini, aku pengen nyeritain tentang pengalamanku yang untuk pertama-kalinya pergi ke desa/dusun - kalo mahasiswa disini sih lebih sering nyebutnya 'daerah' - di Mesir.

Setelah setahun lebih tinggal di ibukota Kairo yang padat dengan kebisingan kendaraan, hingar-bingar keramaian, dan lain-lain, alhamdulillah aku akhirnya bisa juga berkunjung ke desanya Mesir.

Sebagaimana maklumnya, kota dengan desa itu emang beda. Kalo di Kairo kita biasa dengan jalan-jalan gede, ngeliat bangunan-bangunan mewah, di desa ini kita jarang nemuin yang kayak gitu.

Nah, yang kali ini, aku berkesempatan untuk berkunjung ke 2 daerah yang namanya Tanta dan Tafahna. Jalan-jalan ini bukan tujuan pribadi sebenernya. Ini merupakan salah satu program pengurus Keluarga Masyarakat Sumatera Selatan (KEMASS) di Mesir dan aku yang juga masuk struktur pengurus harus ikutan. Jadi jalan-jalan ini bersifat resmi dengan membawa nama sebagai pengurus KEMASS.

Tujuan pertama kami ke Tanta terlebih dahulu. Mulai start dari Rumah Limas Mesir di Kairo, kami pun menaiki bis ke stasiun Ramsis. Dari Ramsis kami membeli tiket ke daerah Tanta. kurang lebih dua jam di perjalanan, kami pun sampai juga di stasiun sana.

Kesan pertama ketika keluar dari stasiun, aku ngerasa bahwa suasananya nggak jauh beda dengan daerah di Kairo. Sedikit kecewa sih pada awalnya, karena di bayanganku itu kami akan langsung disambut dengan suasana desa yang biasanya serba kehijauan sawah dan pepohonan.

Dari stasiun Tanta kami naik bis menuju Universitas Al-Azhar Tanta. Jadi, temen-temen, Al-Azhar itu nggak cuma ada di Kairo, tapi juga ada di berbagai daerah lainnya. Tapi ya tetep aja Al-Azhar Kairo lebih masyhur dan -katanya- ijazahnya agak beda.

Sampai di depan gerbang Al-Azhar, kami pun disambut hangat oleh ketua Dewan Pengurus Daerah - Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (DPD-PPMI) Tanta. Kami mau diajak untuk melihat-lihat ke dalam Al-Azhar mereka. Tapi sayang yang diperbolehkan masuk cuma yang cowok aja dan harus bawa kartu mahasiswa. Kami pun sepakat untuk nggak jadi masuk karna hanya sebagian kecil yang memenuhi syarat.

Jadilah kami langsung saja menuju ke rumah/kantor DPD-PPMI Tanta yang lokasinya nggak jauh dari Al-Azhar.

Di rumah itu kami istirahat sejenak, ya selonjorin kaki, ngelepasin tas, shalat zhuhur dan lain-lain. Kemudian satu-persatu temen-temen DPD pun dateng dan nyalamin kami. Dan juga, biar nggak cuma-cuma kedatengan kami disana, kami pun mulai acara semi-resmi untuk perkenalan satu sama lain karena kami yang pengurus KEMASS tahun ini rata-rata baru dateng satu tahun kemarin.

Setelah kenalan, kami juga dapat mendengar pencerahan dari Ust. Fathin Masyhud, Lc., MHI. yang merupakan pengarang buku "Rahasia Sukses 3 Hafidz Qur'an Cilik mengguncang Dunia". Ya memang sudah masyhur di Mesir bahwa daerah Tanta adalah salah-satu daerah yang banyak menghasilkan para Huffadz cilik.

Sesudah semua itu, kami pun melanjutkan ngobrol-ngobrol santai sambil makan. Yummy.


Kami di sana hanya beberapa jam aja karena sorenya nanti kami akan ngelanjutin jalan ke daerah Tafahna. Sebelum pamit pulang kami pun foto bareng terlebih dahulu.



Keluar dari rumah, kami berkunjung terlebih dahulu ke salah satu masjid besar di Tanta untuk shalat ashar dan ziarah, di dalamnya ada makam Syeikh Imam Baidhawi.

Di depan makam Syeikh Imam Baidhawi
Di depan masjid
Terus kami lanjut, masuk ke maktabah -nggak jauh dari sana- yang katanya menjual kitab-kitab bagus yang nggak ada di Kairo. Aku nggak ikutan beli -nggak tau sih kalo bakal mampir ke maktabah ini jadi nggak bawa duit. *nangis di pojokan*

Oke, setelah mampir di kedua tempat tersebut, kami pun ngelanjutin perjalanan ke daerah Tafahna. Huft, ngambil napas dulu.

Dari Tanta, kurang lebih satu jam kami sampe di Tafahna. Nah, di Tafahna inilah nanti kami bakal banyak ngabisin waktu untuk rihlah kali ini.

Ngeksis bentar di stasiun
Turun dari kereta, kami disambut oleh pengurus DPD-PPMI Tafahna yang juga merupakan senior KEMASS. Kami diantar ke rumah/kantor mereka. Walau hari udah malem, kami tetep disambut dengan hangat disana. Orangnya ramah-ramah. Kami pun mulai ngenalin diri masing-masing kemudian ngobrol-ngobrol santai dan akhirnya makan bareng lagi. Asik dah.

Sesudah itu, ada yang lanjut ngobrol-ngobrol, ada juga yang pengen istirahat di kamar yang udah disiapin temen-temen DPD. Aku milih keluar buat ngelihat suasana malam di Tafahna bareng temen-temen yang juga belum mau langsung istirahat. Sayang kalau dilewatin soalnya besok malem kami udah nggak nginep disini lagi.

Jalanannya sepi, dingin.

Kami jalan ke gerbang depan desa yang disana masih ada orang-orang desa lagi asik main futsal, ada juga yang rame nonton tanding bola champions di TV samping lapangan itu. Hah, aku sebentar aja disana. Udara makin dingin. Aku pun balik ke rumah. Temen-temen lain ada yang ikut balik ada juga yang tetep tinggal buat main billiard.

Sampai di rumah aku nggak langsung tiduran di kamar. Pertandingan championa malam ini nggak boleh dilewatin. Ada Arsenal melawan AS Monaco dan  Atletico Madrid versus Bayern Leverkusen. Selesai nonton pertandingan yang akhirnya dimenangi AS Monaco dan Atletico Madrid itu aku pun ke kamar. Capek. Sebelum tidur nggak lupa sholat isya dulu sekaligus jama' ta'khir maghrib.

Dan tak lama kemudian.. zZzZ... *Aku udah masuk ke dunia mimpi*

Besoknya, kami ada agenda lain yang nggak kalah seru. Tapi lanjut bacanya di pos setelah ini aja ya. Soalnya disini udah kepanjangan ceritanya. Hehe.

Jangan kemana-mana, lanjutin bacanya disini.

Kamis, 05 Februari 2015

Cairo International Book Fair 2015



Rabu, 4 Februari 2014 -

Ma'radh Al-Qahirah Al-Dauly Lilkitab atau masyhurnya disebut dengan Cairo International Book Fair adalah pameran buku yang diadakan setiap tahun sekali pada akhir januari di Kairo, Mesir. Lokasinya dekat dengan Universitas Al-Azhar di Hay Sadis, Nasr City.

Pameran buku internasional Kairo ini merupakan salah satu pameran buku yang terbesar di dunia dan juga merupakan pameran buku terbesar dan tertua di negara-negara Arab.

Pada tahun 2006, pameran buku internasional Kairo ini merupakan pameran buku terbesar kedua di dunia setelah pameran buku Frankfurt, Jerman.

Sumber: Wikipedia
__________________________________________________ _ _ _ _

Hari ini, alhamdulillah aku berkesempatan untuk kesana. Ini merupakan kunjunganku yang kedua kalinya. Dan untuk tahun ini, Cairo International Book Fair diadakan untuk yang ke 46 kalinya. CIBF 2015 ini dimulai sejak tanggal 28 januari 2015 sampai 10 februari 2015. Waktu yang sangat tepat untuk mahasiswa-mahasiswa terutama Al-Azhar karena ujian termin satu sudah berakhir. Ujian tingkatku sendiri pun sudah selesai dari tanggal 20 januari kemarin.

Berangkat bersama kedua temanku, kami menuju kesana ba'da shalat zhuhur. Syukurnya hari ini cuaca sangat bersahabat. Tidak terlalu dingin dan juga tidak panas, sedang saja atau bisa dikatakan sejuk lah.

Di depan gerbang masuk CIBF
Setelah masuk, kami pun mulai menyusuri stand-stand yang ada. Tidak ketinggalan untuk narsis-narsis juga pastinya. ^^




Setelah lumayan berputar-putar kesana-kemari, sampailah kami pada saat yang genting, yaitu lapar. Hehe. Panitia pameran pasti sudah memikirkan hal ini. Mereka telah menyiapkan stand-stand untuk jajan. Tak terlalu jauh, kami pun sampai di lokasi stand-stand makanan itu. Karna memikirkan perut yang sudah memanggil-manggil, kami pun langsung menuju ke makanan berat. Untunglah disini juga ada stand makanan orang-orang asia. Kami bisa mendapatkan nasi di sana. Aku pun memesan nasi rendang sedangkan dua temanku memesan nasi ikan krispi. Yummy.


Kami tidak terlalu lama berada disana, karna entah kenapa makanan yang kami pesan itu cepat sekali hilangnya dari pandangan mata.

Setelah lumayan kenyang, kami langsung menuju kamar mandi umum untuk ambil wudhu karna memang azan ashar sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Karna masjid yang ada terlalu jauh, kami pun memilih sholat di taman. Disini memang biasa sholat dimana saja asal tempatnya suci.

Sehabis sholat kami tidak langsung berdiri dan berkeliling lagi, tapi istirahat sejenak dan tentunya sambil bernarsis ria lagi. :D


Narsis-narsis sudah, makan sudah, sholat juga sudah, berarti sekarang masuk ke tujuan inti yaitu mencari buku. 

Hup. Kami pun berdiri dan mulai memasuki stand-stand yang ada kembali.

Puas mencari, banyak banget sebenernya nemuin kitab-kitab bagus. Tapi setelah berfikir.. aku pun menetapkan untuk membeli kitab Fiqih Sunnah yang berjumlah 4 juzu' atau jilid. Nayamul untuk menambah bahan bacaan. Secara juga aku disini mengambil kuliah syari'ah islamiyah.

Selesai semua keinginan tercapai, kami pun bergegas pulang karena sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib.

Yeyy. Pamerin dulu buku yang udah dibeli

Dan kami pun pulang.
___________________________________________________ _ _ _ _

Tambahan, berikut dibawah ini sebagian foto yang aku ambil di CIBF 2015 ini.

Gerbang CIBF tampak dari seberang jalan
(Model diperankan oleh.. titik-titik ^^).

Gerbang CIBF tampak bawah








Walau ini sudah masuk hari keenam, pameran buku ini masih tetap ramai.







Udah itu aja. Semoga bermanfaat. ^^

Senin, 02 Februari 2015

Bingkisan Cerita dari Jabal Musa


Jum'at, 30 januari 2015, di hari itu aku bersama teman-teman yang lain berangkat menuju semenanjung Sinai.

Itu merupakan hari yang melelahkan. Kami berangkat dari kota Kairo ke sana menghabiskan waktu sekitar 15 jam - itu sudah termasuk beberapa kali berhenti untuk pemeriksaan, istirahat dan lain-lain juga.


Tujuan kami ke sana juga sudah bisa dipastikan yaitu untuk mendaki gunung Sinai atau yang dikenal juga dengan Jabal Musa. Dinamakan demikian karena di gunung inilah dimana Allah sendiri turun langsung dan bertemu Nabi Musa As.


Sebelum tiba di gunung Sinai, kami terlebih dahulu mampir ke 'uyun Musa atau kita artikan dengan sumur nabi Musa.



Salah satu sumur Nabi Musa As.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan tiba di kaki gunung Sinai sekitar jam 11 malam.


Kurang lebih saat pukul 12 malam, kami pun bersiap-siap mengawali pendakian ini. Cuaca benar-benar sangat dingin. Ya, saat ini memang Mesir sedang berada di musim dingin. Aku yang baru pertama kali ini memiliki pengalaman mendaki terutama di musim dingin sedikit merasa terkejut karena cuaca sebelum kami sampai di kaki gunung tidak terlalu sedingin ini.


Tapi tidak ada kata tidak jadi naik kalau sudah begini. Aku tidak ingin perjalanan jauh yang sudah kutempuh menjadi sia-sia.


Sebelum mendaki, kami sudah membagi menjadi 3 kelompok yang di setiap kelompok berjumlah 12-16 orang terdiri dari cowok dan cewek. Aku berada di kelompok satu.


Sedikit info, gunung Sinai ini memiliki ketinggian 2.285 meter dari permukaan laut. Jalan yang harus kami tempuh hingga kepuncak yaitu sekitar 7 kilo-an. Di gunung ini juga ada 12 pos yang dihitung dari bawah hingga puncak. Dan di setiap pos selalu ada yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan - tentunya dengan harga yang sesuai lokasi. 


Awal perjalanan, jalan tampak biasa saja walau sudah mulai merasakan jalanan penuh bebatuan. Di pos-pos akhir mulai tampak terjalnya jalan menuju ke atas. Jalan benar-benar menanjak curam. Setelah berjalan jauh di awal-awal pos kami sebenarnya sudah sangat lelah dan ini kami baru akan menuju ekstrimnya pendakian. Kaki yang sudah terasa pegalnya tadi tetap harus kami paksa agar tidak tertinggal untuk menyaksikan saat-saat sunrise nanti karena perkiraan sampainya kami diatas itu  kira-kira menghabiskan waktu sekitar 4 jam-an. Jadi jika kami berangkat jam 12, kami akan sampai sekitar jam 4. Waktu yang pas untuk mencari posisi terlebih dahulu dimana akan melihat momen sunrise tersebut.


Di awal-awal kami memang masih berkelompok dan saling tunggu jika ada teman-teman yang minta istirahat sebentar. Tapi lama kelamaan - karena sudah terlalu sering berhenti - teman-teman lain yang tidak sabar pun mulai berjalan sendiri hingga kami pun berpencar masing-masing. 



Aku yang berteman dengan kamera
di sela istirahat sejenak

Aku tidak menyia-nyiakan adanya pos itu untuk mengambil nafas sejenak dan meluruskan kaki. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, aku kira aku sudah sangat dekat dengan puncak. Ternyata tidak. Puncak itu masih jauh lagi. Aku pun mulai kembali berjalan. Setelah aku pikir aku sudah berjalan jauh lagi, aku coba untuk mendongak ke atas. Ternyata puncak itu masih sangat jauh. Hah. Tidak ada pilihan. Aku hanya perlu melanjutkan pendakian ini. Tapi setiap mengambil istirahat di setiap pos, aku merasa perjalanan ini tidak ada habis-habisnya. Masih saja puncak itu terlihat jauh. Aku hanya terus menyemangati diri kalau sampai puncak itu tidak akan lama lagi.


Aku pun terus berjalan hingga aku pun sampai jam 4 lebih. Tidak terlalu jauh dari perkiraan.


Sesampai diatas, aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Aku ingin berteriak untuk melampiaskan kepuasan setelah sampai di puncak ini tapi itu terasa sangat memalukan. Jadilah aku berteriak dalam hati saja. 'Yeah, aku berhasil menaklukkan Sinai inii!'. Heh.


Di atas, cuaca terasa lebih dingin dari bawah tadi. Benar-benar sangat dingin. Dan di atas ini juga lah banyak orang-orang setempat yang menawarkan penyewaan selimut. Cerdas.

Tapi aku tidak menyewa selimut karna aku bisa memastikan kalau itu harganya mahal. Aku melihat yang lain - orang-orang mesir dan negara lain - sudah menyewanya. Satu selimut untuk bertiga hingga berlima. Aku yang termasuk anggota kelompok yang telah sampai lebih awal benar-benar terpisah. Aku sendiri. Hhh. Menyebalkan memang. Kalau bersama yang lain mungkin menyewa selimut itu tidak akan terlalu terbebani harga. Aku pun mencari tempat yang tepat untuk duduk sebentar sembari menunggu sunrise.

Ternyata sunrise tidak secepat itu muncul. Ia baru muncul saat jam menunjukkan pukul setengah enam. Itu berarti aku sudah sekitar sejam setengah berada di puncak yang sangat dingin itu. Fiuhh.


Sunrise muncul dengan ditandai orang lain yang menghidupkan kembang api. Aku yang baru tersadar pun langsung mencari posisi terbaik untuk memotret sunrise. Sialnya, dipuncak ini saat sunrise orang benar-benar sangat ramai hingga aku kesulitan untuk mencari posisi yang benar-benar pas.


Menyadari waktu sunrise yang tidak akan berlama-lama, aku pun harus secepatnya memotret kalau tidak ingin melewati momen itu.



Saat Sunrise di puncak

Setengah jam berlalu, sunrise pun memudar menyisakan langit yang kembali membiru. Saatnya untuk mengambil foto bersama yang lain. 


Seusai berfoto-foto, aku pun segera bergerak untuk kembali turun. Selain memang sudah dihimbau untuk segera turun karena kami sudah ditargetkan jam 10 sudah harus di bis, aku juga sudah menahan untuk (sori) buang air kecil. Rasanya tidak mungkin untuk itu di tempat yang seramai ini. :D


Perjalanan untuk turun pun tidak seberat saat mendaki semalam. Selain karena sudah terbantu cahaya matahari juga gravitasi sangat membantu, ditambah karena ingin itu. Heh.


Dan jalanan turun ini pun benar-benar cepat. Aku memangkas 2 jam untuk perjalanan turun ini. Dua kali lipat lebih cepat dari saat mendaki semalam. Ya tapi aku sedikit menyesalinya karna aku tidak dapat mengambil momen-momen indah yang lainnya saat turun itu.





Jalanan turun
Oh iya, selama pendakian dan selama saat-saat turun ini, penduduk setempat juga menyediakan layanan untuk menyewa onta bagi yang merasa tidak sanggup atau sudah kelelahan. Harganya berkisar dari 50 - 150 pound tergantung jauhnya perjalanan.


Setelah kami semua sampai di bawah, sehabis istirahat sebentar dan mengambil beberapa foto lagi, kami pun melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kami menuju ke patung sapi Samiri yang letaknya berdekatan dengan gunung Sinai tersebut dan juga maqam Nabi Musa dan Nabi Harun.

Patung sapi Samiri di perbukitan dekat gunung Sinai


Maqam Nabi Musa dan Harun As.
Setelah itu kami pun benar-benar pulang ke kota Kairo.

Dan kami pun sampai sekitar pukul 11 malam lewat.

Badan benar-benar terasa sudah sangat pegal. Setelah bersih-bersih sedikit dan mengganti pakaian aku pun langsung menuju tempat tidur. Dan tidak butuh waktu lama aku pun masuk ke dunia mimpi. zZZ.

Esok paginya aku pun terbangun, tentunya dengan tubuh yang ternyata ketika dibawa tidur malah membuatnya semakin pegal. Hhh. Seluruh bagian tubuhku benar-benar pegal.

Ya sudah, tampaknya itu saja bingkisan ceritaku selama perjalanan ke gunung Sinai ini. Semoga bermanfaat. :D

Eh eh, satu lagi, ada satu benda yang perlu aku masukkan juga fotonya disini. Sepatuku. :D 


Eit, jangan merendahkan dulu, tanpa sepatu ini mungin kakiku sudah hancur ketika menginjakkan bebatuan-bebatuan yang ada selama pendakian dan ketika turun. Hehe. Udah itu aja.



Senin, 26 Januari 2015

Kisahku Dalam Per-Fotografi-an (II)





Saat itu tanggal 21 juli 2014, hari pertama aku bersama teman-teman sekelas terbaik lainnya mengikuti kelas belajar fotografi basic bersama IPSC. Aku mengawalinya dengan ikut kelas basic IPSC terlebih dahulu.

Di hari pertama itu kami diberi materi seputar fotografi. Aku akhirnya tahu ternyata fotografer-fotografer itu bukan hanya sekedar menjepret dan boom  bisa bagus seperti itu. Aku benar-benar memulai pelajaran fotografi ini dari nol. Dari mengenal tombol-tombol yang ada di kamera, mengenal tata cara penggunaan dan merawatnya hingga mencoba langsung. Aku masih ingat sekali hal yang pertama aku coba yaitu melatih titik fokus pada objek yang dituju. Objeknya adalah 4 buah batre yang disusun berbaris dan kami diminta untuk meletakkan titik fokusnya di setiap batre itu secara bergilir. Dalam hal yang sangat sederhana itu aku sudah kesusahan. Aku benar-benar pesimis saat itu. Selain karna itu adalah yang pertama kalinya bagiku, juga aku adalah murid yang paling muda diantara mereka. Diantara mereka juga bahkan sudah ada yang sudah biasa menggunakan kamera sebelumnya. Mereka ikut hanya ingin memperdalaminya lagi.


Di hari keduanya kami langsung hunting. Hhh. Aku agak khawatir sebenarnya. Dengan waktu yang hanya sesingkat itu mengenal seputar fotografi bagaimana mungkin aku langsung bisa. Dan aku benar-benar teruji dengan hunting itu. Ternyata mengatur kamera sebelum menjepret itu benar-benar butuh kesabaran untuk aku yang pemula ini. Dan satu hal lagi, saat itu bulan Ramadhan dan kami pastinya puasa dan juga itu lagi musim panas puncak. Wow. Lengkap sudah ujian itu. Hunting dalam keadaan yang seperti itu kami memulainya dari pagi dengan tempat tujuan awal Masjid Ibn Thulun kemudian Hadiqah Azhar hingga malam harinya.

Yang paling berkesan bagiku di hari itu adalah dimana saat aku hendak mengambil foto macro tapi karna sudah saking laparnya tanganku pun gemetaran sehingga kesusahan untuk mendapatkan fokus. Hah. Kupikir aku harus istirahat dulu. Disana kami mengambil gambar hingga malam harinya. Salah satu tujuan kenapa sampai malam yaitu untuk mengambil night shot yang indah yang hanya bisa saat malam hari.

Hari-hari terus berlanjut dengan diisi pelajaran editing foto dengan aplikasi photoshop dan pastinya kami juga harus menerapkannya pada foto-foto yang telah kami ambil sebelumnya. Dan pada tahap akhirnya di kelas basic tersebut, foto-foto kami akan dievaluasi dan diminta untuk saling memberi komentar di foto kami yang telah kami upload di facebook masing-masing.

Dan semuanya kami jalani hingga selesai dan kami pun dinyatakan lulus untuk kelas basic. Alhamdulillah. (Lihat foto-fotonya di sini)

Pemberian ijazah kelulusan kelas basic
Dan ceritaku dalam IPSC belum selesai hanya sampai disitu saja. Kami pun melanjutkan ke kelas selanjutnya yang menurutku jauh lebih menantang. Di kelas itu kami dituntut untuk mengabadikan momen-momen yang ada di Bumi Kinanah ini. Di kelas ini juga kami jadi belajar tentang bersosialisasi dengan masyarakat pribumi.

Tapi jujur, aku senang dengan kelas yang dinamakan Human Interest ini. Mengabadikan momen itu merupakan hal yang paling aku senangi dalam dunia fotografi. Ya walau aku akui sulit ternyata untuk mendapatkan momen-momen indah itu. Hehe.

Dengan target 100 foto yang sudah ditetapkan dari IPSC untuk melewati kelas ini, aku pun mulai menyisir berbagai macam tempat untuk mencari momen-momen tersebut. Dan yes! Aku pun berhasil menyelesaikannnya walau maling-malingan dengan waktuku yang saat itu masih belajar di Markaz Lughah.

Selesai mengumpulkan 100 foto tersebut – yang pastinya harus disetujui terlebih dahulu oleh mentor kami dengan kelayakannya – kami pun melanjutkan proses editing yang dibagi dengan 50 color (lihat fotonya di sini) dan 50 black and white (lihat fotonya di sini). Kami bahkan sampai menginap di rumah salah satu mentor untuk mengejar deadline pengumpulan akhir 100 foto itu. 


Dan di hari selanjutnya kami pun mengadakan evaluasi keseluruhan. Usai semuanya diberi kritik dan saran, kami pun juga diminta untuk menguji foto-foto kami di kancah nasional yaitu di web komunitas fotografer Indonesia. Di kelas HI memang agak berbeda dalam penilaian lulus atau tidaknya. Kalau sebelumnya kami harus menguploadnya di FB dan saling berkomentar disana. Kali ini kami diminta menguploadnya di web komunitas fotografer Indonesia skala nasional dan yang berkomentar bukan hanya dari kelas kami saja. Syarat dinyatakan lulusnya yaitu dari 20 foto yang diupload disana, masing-masing di setiap foto harus mencapai nilai yang sudah ditargetkan mentor atau pengecualian untuk yang fotonya dipilih admin web sebagai ‘Foto Pilihan Editor’ atau yang disingkat dengan FPE. Tanpa melewati kedua hal itu kami tidak akan lulus di kelas ini. Aku alhamdulillah selain foto mencapai nilai yang ditargetkan juga salah satu foto mendapatkan FPE. Yang lain juga rata-rata semuanya seperti itu.

Salah satu ciri mendapatkan FPE adalah
terdapat bintang di atas foto


Sampai tahap disitu kami semua sudah melewatinya dengan perjuangan yang panjang.

Huft.

Dan perjuangan kami masih berlanjut.

Setelah semua itu kami pun diminta untuk membuat artikel yang bertema  "Hai IPSC! ini karyaku!" untuk melanjutkan ke kelas selanjutnya yaitu kelas Olah Digital - yang disingkat menjadi kelas Oldig – dan kelas pengajar. Hingga cerita ini ditulis, aku baru saja menyelesaikan dan mengirimkan artikel itu tadi kepada sang mentor.

Semoga bermanfaat.





 
biz.